Pesta Malam Terakhir Di Pesantren (Abrilian Rahma Frisgi Destianti)
- Coastrac 18

- Jul 28, 2019
- 2 min read
Namaku adalah Arif. Aku bermukim di salah satu pesantren di kota Malang untuk menuntut ilmu agama. Disetiap tanggal 20 ramadhan aku melepas rindu menemui keluargaku. Dan ditanggal 14 syawal aku harus kembali lagi dan meninggalkan keluargaku, tapi juga membuatku senang karena bertemu dengan kawan-kawan. “Le, masukkan sudah baju-bajunya kedalam tas, termasuk juga alat-alat yang dibutuhkan nanti di pesantren” perintah ibukku sambil menyapu lantai ketika itu. “Iya buk”, sahutku. “Ini uang seratus ribu untuk bekal kembali nanti malam”, imbuh ibukku.
Ketika itu aku memang disuruh kembali ke pesantren hanya sekedar mengurus surat permohonan berhenti atau biasa disebut boyong dan sekaligus mengkhatamkan Al-Qur’an. Mengkhatamkan Al-Qur’an memang sudah menjadi kewajiban bagi santri yang hendak menyudahi pelajarannya di pesantren. Akupun berangkat diantarkan oleh kakak iparku dengan naik sepeda motor sesudh berpamitan dengan bapak dan ibuk.
Ditengah perjalanan kakak iparku memulai perbincangan, “sudah mau boyong?”. “Hehe iya, belajarnya dirumah sambil bantu usaha bapak” lanjutky mencairkan suasana. “Ya sudah, lagian kamu sudah lulus” timbal kakak iparku. “Kita ke pom bensin dulu kak, Bapak tadi menyuruhku mengisi bensinya” perintahku. “Oh iya” sahut kakak iparku. Kita pun berhenti di pengisian bensin, dan aku turun dari kursi belakang bagian sepedaku.
Setelah itu, aku dan kakak iparku melanjutkan perjalanan. Tidak terasa akupun sudah sampai dibangunan hijau yang megah serta lalu lalang santri bersarung telah menghilangkan kesumyiaan di pesantren tercintaku. Akhirnya aku berpamitan dengan kakak iparku dan pergi meninggalkannya. Suasananya pun seperti tahun-tahun sebelumnya. Padat, ramai, dan semuanya serba antri. Aku mulai mengkhatamkan Al-Qur’an dengan target yang sudah saya agendakan sebelumnya. Dan aku beranjak dari tempat ngajiku ketika mau shalat, makan, mandi, dan tidur saja.Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku “Rif, mau lanjut apa boyong?” panggil temanku yang ingin tau kelanjutan mondokku. “Eh Akmal, saya mau boyong dan bantu usaha orang tua di rumah” jawabku dengan senyum sungging di bibirku.
Setelah beberapa hari, aku pun menyelesaikan khataman Al-Qur’an sesuai agenda sebelumnya. Setelah mendapat izin Kyai aku pun langsung bergegas mengurus angket pemberentian. Waktu itu banyak juga santri yang mau minta tanda tangan resmi kepada beliau. Aku dan teman-teman pun berangkat menuju ndalem beliau dan menunggu beliau selama tiga jam lebih. “Yang sabar ya kalau nunggu Kyai” suara khadam menyabarkan kami. “Iya, kami akan sabar menunggu beliau sampai malam dan semoga ini menjadi wasilah kami menuai ilmu manfaat dan barokah” tanggap salah satu temanku.
Adzan maghrib pun berkumandang, sedangkan kami masih belum menjumpai beliau. Kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah terlebih dahulu sambil menunggu beliau datang. Teman-teman bergegas dari tempat shalatnya setelah mendengar ketua umum sudah rawuh. Dan aku sangat bahagia, karena malam ini menjadi malam terakhirku di pesantren. “Mau boyong semua?” tanya beliau yang ketika itu menjabat ketua umum pesantren. “Iya mas” jawab santri secara serentak. “Baik, kumpulkan angketnya” lanjut beliau.
Akhirnya, aku dan teman-teman mengumpulkan angket masing-masing ke satu teman lalu diserahkan kepada beliau untuk di tanda tangani dan di resmikan bahwa snatri yang bersangkutan telah resmi menjadi alumni dan terbebas dari kewajiban-kewajiban pesantren. Setelah selesai semua, kami pun menerima angket tersebut yang telah di resmikan. Dan kami pun bersalaman kepada beliau dengan penuh rasa takdzim.



Comments