top of page

Sabung Selepas Petang (Muhammad Agil Fikri Maulana)

Setiap hari raya kurban Bapak Towi ayah Nuriah, selalu berkurban sembilan hingga sepuluh ekor sapi yang kemudian potongan-potongan daging sapi dibagikan kepada fakir miskin. Keluarga Nuriah adalah keluarga yang terkenal kaya dan dermawan. Bapak dan Ibu Nuriah menjadi pemuka agama dikampungnya. Kehidupan keluarga Nuriah sangat damai dan tentram. Nuriah adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Nuriah sedari kecil sudah ditanamkan ilmu-ilmu agama, begitu pula juga dengan kakak-kakak Nuriah. Kakak-kakak Nuriah sangat sayang kepada Nuriah. Nuriah sebagai anak bungsu sangat dimanja oleh anggota keluarganya. Apapun keinginanya mudah ia dapat.

Hingga pada waktunya Nuriah lulus SMP, dan orang tuanya berharap agar Nuriah melanjutkkan jenjang SMA di Pondok Pesantren. Sauadara Nuriah sudah lulus dari pondok pesantern tahun lalu. Kehidupan Nuriah begitu berubah, dulu apapun keinginanya akan segera terkabul, kini Nuriah harus belajar hidup mandiri hidup bersama teman. Sebenarnya Nuriah tidak ingin belajar di pondok pesantren karena keinginan orang tuanya Nuriah tidak berani mengelak. Nuriah sadar orang tua Nuriah tidak pernah meminta apapun darinya. Orang tua Nuriah hanya meminta satu permintaan darinya, agar nuriah belajar di podok pesantren, untuk mendalami ilmu agama.

Sudah seminggu Nuriah belajar dipondok pesantren. Tetapi perasaan rindu kepada keluarga semakin dalam. Ketika sekolah menjelang waktu istirahat ia mendengar pengumuman dari spiker kelas, “kepada saudara Nuriah dimohon kehadirannya di kantor sekolah sekarang juga Syukron, terima kasih.” Tidak lama kemudian bel sekolah berdering, Nuriah segera memenuhi panggialan ia bergegas kekantor sekolah. Ketika di ruang kantor Wali kelas Nuriah terlihat melambaikan tangan sebagai tanda untuk menghampirinya.

“Nur sekarang ayo ikut aku, sekarang kamu dijenguk keluargamu di kantor pondok,” Ucap Wali kelas

“Oo, Iya Pak,” Jawab Nuriah.

Perasaan Nuriah sangat bahagia sekali ketika ada keluarga yang menjenguknya. Ia berjalan dengan langkah cepat sudah tidak sabar melepaskan kerinduan. Terlihat dari jauh, Kakak Nuriah didalam kantor pondok yang pintunya terbuka lebar sedang duduk menelpon seseorang. Nuriah segera berlari menghampiri Kakaknya dan memeluknya. Kakak nuriah segera menutup telpon yang dipegangnya.

“Eh Adek, bagaimana kabarnya baiak-baikkan dipondok?” Tanya Kakak Sodiq.

“Iya kak Alhamdulillah,” Jawab Nuriah.

“Sekarang kamu ikut kakak pulang ya,” Bujuk Kakak Sodiq

“Loh kenapa kak,” tanya Nuriah sambil menerutkan jidat.

“Sudahlah, pokoknya ikut saja, bukannya kamu sebenarnya bosan dipondok,” Kakak Sodiq berusaha memaksa Nuriah.

“loh kok tahu kak,” Jawab nuriah.

“Ya taulah soalnya aku pernah mondok” tanggap Kakak sodiq.

Kakak Nuriah segera berpamitan pada orang-orang dikantor pondok, Nuriahpun ikut. Kakak Nuriah menuntun Nuriah dengan tangan yang tidak seperti biasanya, ia menuntun tangan Nuriah dengen erat dengan tangnnya yang dingin. Ia segera menaiki sepedah motor dan menggonceng Nuriah. Nuriah terheran-heran mengapa begitu terburu-buru. Dengan kecepatan penuh Sodiq, kakak Nuriah menggonceng Nuriah pada waktu itu.

Setelah sekitar tiga jam berkendara sampailah didepan rumah. Terlihat bendera putih berkibar didepan rumah. Nuriah langsung turun dari sepedah motor dan berlari masuk kedalam Rumah, dan melihat ayah nuriah sudah terbujur kaku diatas dipan. Nuriah menangis dengan sejadi-jadinya. Sofia Kakak Nuriah segera menenagkan Nuriah dengan memeluknya.

“Kakak kenapa bapak, Bapak kenapa?” tanya Nuriah sambil menganis tersedu-sedu.

“Sudahlah dek jangan menangis iklaskan bapakmu, sudah-sudah,” jawab Kakak Sofia sambil mengelus-elus kepalaku.

Nuriah teteap menangis, bahkan setelah lama bapaknya dikebumikan Tetap menangis, hal itu membuar kantung mata Nuriah menjadi Hitam, dan badan Nuriah menjadi panas demam. Setelah tujuh hari tahlilan dirumah keluarga Nuriah sudah selesai, begitu pula dengan kesehatan Nuriah mulai membaik. Waktunya Nuriah kembali kepondok pesantren.

“Nur besok kamu kembali ke Pondok ya?” Bujuk Kakak Sodiq.

“Tidak kak aku takut, meninggalkan keluarga dirumah,” jawab Nuriah.

“loh bukannya kamu sudah berjanji, pada almrhum bapakmu untuk belajar dengan giat di pondok?”Kakak Sodik terus membujuk.

“Iya kak besok aku balik” Jawab Nuriah dengan nada rendah.

“ok, besok pagi, jam setengah lima setelah sholat subuh aku antar kepondok supaya tidak telat sekolah,” Tanggap Kakak Sodiq

“Iya Kak” Ujar Nuriah.

Hari esok cepat berlalu, waktunya Nuriah berangkat sekolah. Nuriah masih belum bisa menerima kepergian Bapaknya. Setiap kali Nuriah terbayang pada wajah bapaknya Nuriah selalu mengangis. Pada setiap pagi sebelum sekolah, Nuriah menyempatkan salat Duha selalu mendoakan keluarganya agar terhindar dari marah bahaya.

Satu bulan telah berlalu, kesedihan Nuriah mulai hilang dan mulai bisa mengikhlaskan kepergian Bapaknya. Entah mengapa hari itu, lagi-lagi ada pengumuman bahwasannya Nuriah dipanggil untuk memenuhi panggilan kantor pondok, seusai istirahat. Pada saat itu Nuriah langsung pergi ke kantor pondok tanpa diantar wali kelas. Ia meliahat seisi kantor pondok, namun tidak ada yang menjenguknya. Saat ia melepas sepatu akan memasuki kantor Pondok, Kak Maulidia, pembimbing asrama pondok melambaikan tangan dan menyodorkan gagang telepon pada Nuriah. Nuriah langsung mengambilnya tanpa bosa-basi.

“Halo, Assalmualikum, dengn siapa ya?” Tanya Nuriah.

“Uhk-uhk, Waalaikum salam, ini Kakak Nur, setelah ini kamu berkemas segera pualang kerumah ya kakak minta maaf gak bisa jemput,” Jawab Kakak Shodiq dengan menahan batuknya.

“Oo, iya kak Nur segera pulang, Assalamualaikum,” Jawab Nuriah

“Waalaikum salam”jawab Sodiq nuriah sembari menutup telpon.

“Terima kasih kak Maulida, aku izin pulang kak hari ini, Asslamulaikum,” Izin Nuriah sambil berjabat tangan.

“Waalaikum salam, hati-hati Nur,” Jawab Kak Maulidia, dengn melambikan tangan pada Nuriah yang berlari tergesah-gesah.

Begitu tergesah-gesahnya Nuriah hingga ia lupa tidak mengurus surat izin pulang di kantor pondok. Nuriah segera berjalan dan berlari menuju halte untuk naik Bus. Perasaan Nuriah sangat bercampur baur, dan sangat khawatir, akan terjadi sesuatu pada keluarganya. Sesampainya dirumah ia sedikit lega karena tidak ada bendera putih berkibar disana. Nuriah mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, namun tidak ada yang menjawab. Nuriah langsung membuka pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Ia melihat didalam rumah yang tampak kumuh dan berantakan.

“Assalamualaikum,” Ucap Nuriah sambil memasuki rumah.

“Waalaikum salam, Nur sini Nur, Kakak ada dikamar,” Jawab kakak Sodiq.

“Loh Kak, kenapa rumah sepi bernatakan?”tanya Nuriah.

“Uhk-uhk, Sini Nur aku ceritakan, sebentar lagi kalau aku menyusul bapak, Ibuk, dan Kakak Sofia dialam sana, kakak mu ini minta maaf, karena selama ini kakak tidak pernah mengabarkan kepadamu karena Bapak, Ibu, dan kakakmu ini sayang padamu,Uhk-uhk. Saat ini perut kakak sudah membesar secara tiba-tiba sudah tinggal menghitung jam kakakmu ini sudah tiada,” Kakak Sodiq menjelaskaan sambil batuk darah.

“Loh Kakak, bialang apa, Kak usahakan tetap terjaga akan aku panggilakn dokter,” tanggap Nuriah, sambil meneteskan air mata dan tergesa-gesa.

“Ndak perlu Nur, kata dokter Kakakmu ini bebas dari penyakit,” Tanggap Kakak Sodiq.

“sudahlah kakak,”Nuriah tetap bersih keras.

Nuriah tidak mau mengerti dan percaya mendengar ucapan Kakak Sodiq. Ia berusaha menelpon Dokter, ia berharap dokter dapat menyembuhkan Kakaknya yang terlihat mulai lemah. Berbagai macam penyakit aneh menerpa Keluarga Nuriah, bahkan secara medis tidak dapat disembuhkan, itu semua membuat keluarga Nuriah jatuh sakit dan tumbang satu-persatu. Disisi lain Nuriah memiliki paman dia dipanggil dengan nama Paman Sam ia adalah Kakak dari ayah Nuriah, dia tinggal sendiri bersebelahan dengan rumah Nuriah. Saat usai menelpon dokter Nuriah pergi ke kamar mandi dan membuatkan teh hangat untuk Kakaknya. Teh hangat siap dihidangkan namun entah mengapa wajah Kakak Sodiq berubah menjadi pucat. Banayak darah keluar dari mulutnya, tangannya mendadak dingin. Nuriah tidak mampu menahan tangis, tangisan Nuriah sangat keras sehingga terdengar hingga luar rumah, hal itu membuat Paman Nuriah datang.

“Ya Allah Nuriah,” Ujar Paman Sam terkejut.

“Kakak Paman, Kakak kenapa Paman?” Tanya Nuriah dengan tangis yang membasahi pipinya.

“Innalillahi Wainnailaihi Rojiuun, kakakmu sudah meninggal Nuriah,” Jawab Paman Sam.

“Kenapa Paman, mengapa ini semua terjadi padaku paman, jawab paman jawab?” Nuriah bertanya, sambil memukul-mukul dada Pamannya.

“Sudah Nuriah sabar-sabar jangan sampai kakakmu meninggalkanmu dalam keadaan sedih, usap tangismu nuriah ikhlaskan kepergian Kakakmu.”Jawab Paman Sam, sambil memeluk Nuriah setelah memukul-mukulnya.

Nuriah syok berat yang membuat Nuriah jatuh pingsan. Paman Sam segera menggotong Nuriah kedalam ruamahnya yang kecil dan sederhana dan menidurkan Nuriah dikamar anaknya dulu. Nuriah masih belum sadar, ia bermimpi bertemu Kakak Wahyu, dia adalah anak dari pamanya. Dalam mimpi Nuriah, Kak Wahyu berkata sambil tersenyum dengan sorotan mata yang tajam, “Nur tunggu, sebentar lagi giliranmu,” ucapan yang begitu aneh dan menyeramkan, Kak wahyu berubah menjadi Srigala, karena mimpi tersebut, membuat Nuriah bangun dan tersadar, sehingga membuat Nuriah ingat Ibunya, dulu pernah bercerita bahwa Pamannya dia memiliki satu orang anak yang sangat susah diatur, pada usianya yang ke-18 tahun anaknya membangkang dan membunuh Ibunya sendiri, sehingga membuat paman kehilangan kesabaran dan memukul Kak Wahyu, hal itu yang membuat Kak Wahyu pergi tidak pernah pulang. Hal itu sudah terjadi sekitar tujuh tahun yang lalu.

Nuriah termenung mengalami stres berat, akal sadar mulai hilang. Dua hari Nuriah tinggal dirumah pamannya, Nuriah tidak mau makan apapun dari hari ketika Kakak Nuriah meningal dunia. Nuriah berjalan menuju pintu samping rumah pamannya membukanya dan menuju rumah keluarganya yang sudah tidak terawat. Nuriah masuk kedalam rumah itu dan melihat foto-foto keluarganya yang berserakan. Melihat barang-barang yang sering digunakan Ayah, Ibu, dan Kakak-Kakak Nuriah, membuat Nuriah menangis dan tersadar. Nuriah memeluk foto-foto dan barang-barang itu. Tanpa Ia sadari ada barang keras melayang diatas kepalanya dan menghantam lehernya yang membuat Nuriah pingsan untuk kedua kalinya.

Paman Nuriah pulang dari bekerja, melihat Nuriah tidak ada dirumah Paman Nuriah langsung mencari Nuriah dirumah sebelah, rumah Adiknya. Benar saja Nuriah sudah terkapar diatas lantai, paman Nuriah menggendong Nuriah yang pingsan, dan menggendongnya kembali kerumah Pamannya. Paman Nuriah pergi kedapur mengambilkan makan dan membuatkan teh hangat. Setelah kembali Nuriah sudah tersadar.

“Nur ini aku bawakan makanan, diamakan dulu ya,” Bujuk Paman Sam.

“Paman diamana Ibu, dan Kakak Sofia, paman aku mohon penjelasan dari paman?” Tanya Nuriah dengan keras.

“Ibu, dan Kakak Sofia, masih keluar, dan tidak pernah kembali,” Jawab Paman dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca.

“kenapa begitu paman?” Nuriah terus bertanya dengan nada yang lebih tinggi.

“Sebenarnya, menurut pandangan Paman seluruh keluargamu, ada yang berusaha membantai dengan serangan Ghoib, maaf sebelumnya kalau rumahmu berantakan, memang begitu keadaanya saat paman merawat Kakakmu Sodiq, setiap kali paman membersihkan seluruh ruangan, rumahmu akan kembali berantakan ketika paman pergi bekerja,” Jawab tanya Paman sam sambil menundukkan kepala.

“kenapa paman tidak berusaha mencari Kyahi atau orang Pintar?” Nuriah terus menghujani pertanyaan dengan keras.

“semua itu sudah dilakukan, Nur tapi apa boleh buat, tidak ada orang yang sanggup mengobatinya,” Jawab paman Sam dengan nada yang rendah.

“Kenapa paman tidak berusaha mengabariku ketika dipondik?” Tanya Nuriah dengan pipi yang berlinang air mata kemarahan.

“itu semua karena, aku dan keluargamu takut, sesuatu akan terjadi padamu juga, mohon menegertilah Nur,” Jawab Paman Sam dengan keras demi menyadarkan Nuriah.

Didalam kesedihan, putus asa, dan dendam, siapa sebenarnya orang dibalik pembantaian ini, pada keesokan harinya Nuriah akan kembali ke Pndok Pesantren, sebelum itu ia memohon doa restu pada pamannya berharap keselamatan. Setelah sesampainya dipondok pesantren Nuriah langsung pergi sungkem, pada seorang Kyiahi dipondok pesantren tersebut, dan menjelaskan kejadian yang terjadi padanya selama ini. Akhirnya ia mendapat perintah untuk puasa selama empat puluh hari tanpa tanpa tidur dan makan hanya nasi tanpa lauk dan minum secukupnya, dan diberikan amalan-amalan untuk ia baca setiap malamnya, semua itu dengan izin Allah dapat terkabul, namun ada syarat yang harus dipenuhi dalam puasanya tersebut. Nuriah harusa mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Empat puluh tahun berjalan seperti sangat lama. Nuriah berhasil melakukan dan menjalani semua hal itu dengan sabar dan tabah. Rasa sedih, putus asa, dan dendam sudah hilang dari dalam diri Nuriah. Setelah genap empat puluh hari Nuriah pada malam hari bermimpi makan pisau yang dibalut dengan kain sutra. Ketika ia terbangun kepala serasa pening, pengelihan serasa kabur, dan mulai melihat sesuatu iyang tidak wajar. dari sanalah secara berangsur-angsur nuriah menjadi orang yang sakti mandraguna. Namun setelah berpuasa rasa balas dendam mulai luntur darinya.

Hari libur sekolah telah tiba, para santri diizinkan pulang dan berlibur dalam dua minggu waktunya Nuriah pulang, karena Nuriah tidak memiliki keluarga, Sesampainya dikampung halamannya Nuriah langsung mendatangi rumah pamannya. Nuriah mengetuk-ngetuk pintu dan beberapa kali mengucapkan salam tidak ada yang mau menjawab, pintu juga dikancing. Nuriah langsung masuk rumah melalui pintu samping, ia melihat kaki terbujur diatas lantai depan pintu kamar. Benar saja itu adalah kaki Pamannnya yang terkapar seperti orang yang menunggu ajalnya yang sudah dekat. Dalam hati Nuriah berkata, “semua ini tidak dapat dibiarkan begitu saja”. Dengan kesaktian yang diperoleh Nuriah saat ini, ia memulainya dengan menyembuhkan Pamanya yang keritis. Selama dua hari dua malam ia berusaha menyembuhkan Pamannya, tentu saja semua itu membuahkan hasil, Paman Nuriah kembali pulih.

Melalu ilmu kesaktiannya Nuriah ingin menuntaskan semua kejahatan yang diakukan oleh Kak Wahyu yang dulunya anak Paman Sam. Ia mencoba menuntaaskan mealaui kompromi mengguanakan ilmu komunikasi batin.

“Wahai Kak Wahyu apa masalahmu, cukup sampai disini aku mohon jangan sampai mencari masalah lagi,” Nuriah berusaha membujuk.

“Bagaimana aku tidak benci pada keluargamu, karena sesungguhnya Pamanmu itu tidak memiliki seorang anak, aku sebenarnya anak dari bapakmu, entah mengapa aku dilimpahkan pada Pamanmu, sehingga aku hidup miskin, aku iri padamu kamu hidup penuh dengan kasih sayang dan kemewahan sedangkan aku apa, tidak Nur, tidak semua ini tidak terelakkan,” Jawab Kakak Wahyu dengan keras.

Apa boleh buat Kakak wahyu tidak mau berkompromi. Pertempuran batin tidak terelakkan, melalui pertempuran itu Nuriah berhasil menguras habis ilmu hitam Kakak Wahyu. Nuriah harus menerima efek samping dari semua pertempuran itu dengan mengorbankan tangan kirinya harus terbakar. Eantah bagaimana nasib Kak Wahyu setelah itu.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page