Air Mata Akina (Nurul Ma’rifatuz Zahroh)
- Coastrac 18

- Jul 25, 2019
- 5 min read
Hidupku tak semanis tawaku. Semua orang menilaiku dengan cara melihat senyumku. memang, aku sangat pandai untuk menutupi semua perasaan dan keadaan yang kualami saat ini. Semua terjadi karena kesalahan keluargaku, akan tetapi aku yang harus menanggung semua perilaku mereka. Iba? Itu adalah kata yang paling kubenci dalam kamus hidupku. Aku tak suka jika orang merasa kasihan jika melihat kehidupan yang kujalani saat ini. Maka dari itu aku tak mau orang mengerti tentang masalah yang kuhadapi saat ini.
Didepan penghulu berjas hitam ini ingin aku mengucapkan kata batal. Akan tetapi aku masih memikirkan adikku yang bernama aisya. Dia tak seharusnya ikut dalam masalah dewasa, perjalan hidupnya masih panjang, mimpinya masih masih belum tercapai. Terlalu kecil jika untuk mengetahui apa yang terjadi didalam keluarganya. Jika dikatakan aku terlalu bodoh mengorbankan karirku hanya untuk mama yang statusnya tidak peduli denganku, aku akan terima itu.
“SAH…..” seru semua saksi yang berada didalam ruangan yang menurutku ini lebih cocok dikatakan istana.
“ayo akina pasangkan cincin kepada suamimu” mamaku berbicara sambil menyenggol lenganku karena aku terlalu memikirkan aisya yang ada dirumah.
“oh iya ma” aku memasangkan cincin kepada lelaki yang baru kukenal satu jam yang lalu.
Aku memang mengenal lelaki yang kunikahi saat ini satu jam sebelum akad ini dimulai. Tak tahu alasan apa yang mendasari mama mengenalkan lelaki ini tepat pada hari pernikahanku. Tapi apalah dayaku, aku hanya seseorang yang bernama Akina Alisya Fatimah perempuan dewasa yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan keluarga yang tak pernah mengangapnya sebagai keluarga.
“akina” panggil Ali, yang statusnya sekarang menjadi suamiku.
“iya kenapa kak? Mau membahas apa maumu setelah pernikahan ini?” jawabku yang mengerti arah pembicaraan yang akan dibawa suamiku.
“walau kau tak bahagia denganku, aku berharap kau akan menghargai janji sakral yang ku ucapkan dan sudah kau setujui tadi siang”jelas Ali
Aku sudah lelah dengan jalan hidup yang telah digariskan tuhan padaku. Ingin aku memeluk Ali saat ini untuk sedikit mengurangi beban yang telah kugenggam selama ini. Akan tetapi hanya air mata yang berani menerobos pertahananku mengingat aku adalah orang yang paling munafik tentang kebagaiaan diri sendiri. aku terus terisak menahan tangisku. Hangat, itu yang kurasakan saat ini. Ternyata benar Ali sedang menenangkanku dengan pelukan yang dia punya.
“mata indahmu terlalu berharga jika untuk menangisi kebodohanmu Akina” tutur Ali sambil mengusap suraiku “aku tidak akan meminta apapun. Kau terlalu baik untukku. Sekarang terserah kau mau hidup seperti apa” Ali menjelaskan apa yang ada dipikirannya saat ini tanpa berhenti memelukku dan mengusap suraiku.
“maafkan aku yang telah berburuk sengka terhadapmu. Akan tetapi aku mohon padamu bantu aku untuk menyelesaikan masalah ini sebelum mama menyusun rencana kembali” pintaku kepada Ali.
“aku akan membantumu. Akan tetapi dengan syarat kau tak akan meninggalkanku walau bagaimanapun alasannya”
“iya aku berjanji” kataku sambil menggandeng Ali memasuki kamar tidur
“bagaimana keadaan Aisya ? kudengar adikmu tak baik-baik saja” Tanya Ali
“memang, dan itu yang kupikirkan sebelum memutuskan untuk menikahi mu” jawabku sambil membenarkan posisi tidur.
“boleh aku tau keadaannya?” Tanya Ali sekali lagi.
“sebaiknya sekarang kakak tidur, besok kakak kerja” jawabku untuk mengalihkan pembicaraan Ali.
Malam semakin larut. Akan tetapi mata sangat sulit untuk terpejam. Omongan mama waktu itu masih berputar dipikiranku. Aku takut semua hal buruk terjadi pada adikku. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri dan tentunya ayah! Orang yang menyebabkan ini semua terjadi. Pikiranku buyar karena mendengar suara gawai berdering. Segera mengambil gawai yang berdering adalah keputusanku. Sebelum Ali terbangun.
“halo” Akina menjawab panggilan itu
“jangan lupa apa mauku Akina” jawab orang tersebut
“aku tak akan lupakan itu. Tapi aku mohon selamat Aisya, dia belum cukup dewasa untuk mengetahui masalah ini, jika kau mengingatnya” Akina mengingatkan orang yang berada dipanggilan tersebut
“transfer uang 10 juta untuk awal kau mengikuti rencanaku. Tapi ingat, jangan kau gunakan uangmu sendiri. gunakan uang suamimu. Karena aku tak mau harta yang akan kumiliki berkurang”
“iya ma, aku sudah mengenal apa maumu” jawab Akina karena sudah mengetahui jika mama tidak setuju dia memakai uangnya sendiri.
Akina pusing memikirkan keadaan adiknya saat ini. Mendengar tangis dalam telpon mama Akina semakin tidak tenang memikirkan bagaimana keadaan Aisya saat tuhan mempertemukan mereka nanti. Kantuk menyerang Akina, ia sudah tak bisa menahan rasa itu, terlebih tenaganya sudah habis untuk acara tadi siang.
Suara adzan subuh berkumandang membangunkan pasangan suami istri yang baru saja menikah ini. Akina tergopoh-gopoh bangun untuk menjalankan kewajibannya sebagai hamba yang baik. Ali yang melihat itu tersenyum karena ia tau bahwa istrinya adalah wanita yang baik. Akina berdoa sambil meneteskan air mata “Ya Allah berilah yang terbaik untuk keluargaku”
Setelah sholah subuh akina segera memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Ia harus cepat bertindak sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada ia dan adiknya. Akina tau mentransfer uang bukanlah pilihan yang baik. ia akan memberikan langsung kepada mamanya. Sebenci-bencinya akina pada mamanya ia tak akan bisa membuat mamanya tersiksa. Kelemahan dia adalah wajah sang mama, wajah yang sarat akan kerinduan terhadap bundanya.
“kak, aku mau izin ke rumah mama boleh?” Tanya Akina
“aku yang ngantar ya, sekalian ingin tau keadaan Aisya” jawab Ali sambil memakan sarapan yang dibuatkan Akina.
“tidak usah. Aku pergi sendiri saja. Lagian hanya kerumah mama” cegah Akina, “bisa-bisa rencanaku gagal jika Kak Ali ikut pergi bersamaku” batin Akina
“oh ya sudah. Hati-hati aku tak mau terjadi apa-apa denganmu” tutur Ali
“siap” jawab Akina sambil berlari menuju garasi mobilnya.
Tok tok tok Akina mengetuk pintu rumah bercat putih itu.
“siapa?” teriak seseorang yang ada didalam rumah sebelum membukakan pintu rumahnya. “rupanya kamu, untuk apa kau kesini?” Tanya mama mengetahui Akina yang berada diluar rumahnya.
“aku hanya memberikan apa yang kau mau Nyonya Namira” jawab Akina tak kalah sengit dari mamanya.
“bukan diberikan secara langsung. Yang kumau kau mentransfer uangnya anak bodoh” bentak Namira
“bukankan mentranfer uang itu malah akan menambah bukti pemerasan yang kau lakukan kepadaku selama bertahun-tahun ini? Bukankan aku malah menggampangkan rencanamu nyonya?” Akina berbicara dengan senyumnya.
“kau ini. Sudah baik aku tak melenyapkan adikmu seperti aku melenyapkan ayahmu. Malah kau menggurui rencanaku. Apa kau sudah pintar sekarang untuk tau apa yang kumau?” Tanya Namira
“jangan kau sakiti adikku. Dia terlalu kecil untuk ikut dalam masalah ini” bantah Akina
“bukan hal yang sulit sayang. Melenyapkan adikmu adalah suatu hal yang mudah. Dengan menekan alarm berbahaya ini, anak buahku akan meminumkan racun yang akan mematikan adik dalam hitungan detik. Jadi aku tak perlu mengkotori tanganku untuk membunuh sikecil yang malang itu” jawab Namira sambil terkekeh
Tiba-tiba polisi datang menangkap Namira orang yang selama ini kupanggil mama. “anda ditangkap karena pemalsuan identitas saat anda masih menjabat sebagai wartawan koran, anda memakai nama Namira Nakisya dan anda telah memalsukkan berita yang telah anda buat-buat sendiri, silahkan beri keterangan dikantor” kata polisi dengan membawa mama pergi.
“aku tak bersalah, yang menjadi wartawan adalah saudara kembarku” teriak mama histeris mencoba melepaskan cekalan polisi.
Akina tertegun melihat kejadian yang ada didepannya. Ia tak tau apa-apa jika mamanya selama ini tidak hanya berbohong kepada dirinnya. Melainkan terhadap semua orang tentang identitas palsunya. Keburukan mama yang selama ini dipendam akina ternyata terkuak juga. Dan semua itu tanpa campur tangan dari Akina.
Akina masih terdiam ditenpat ia berpijak.
“sebenarnya dia siapa Akina” Tanya Ali
“loh?, ngapain kamu disini. Kan aku nggak suruh kamu ikut tadi” Tanya balik akina
“masa iya aku tega membiarkan istriku sendirian dalam keadaan bingung. Aku tau kamu tadi pergi membawa masalah Akina” jawab Ali sambil tersenyum
“maafkan aku mas, nanti aku ceritakan semuannya setelah kita pulang. Aku masih tak menyangkan mama akan berakhir seperti ini” jawab Akina dengan lesu
“iya tidak apa-apa” Ali hanya bisa menanggapi istrinya dengan tersenyum, karena menurut Ali itulah yang terbaik untuk saat ini. “pulang yuk” pinta Ali
Sesampai dirumah Akina menceritakan semua tentang keluargannya. Dia terlahir dari bunda Namira yang mempunyai saudara kembar identik. Semua orang tak mengetahuinnya karena mereka diasuh dengan orang tua yang berbeda. Saudara kembar bunda ialah Nadira Nakisya. Nakisya sangat iri dengan kehidupan Namira, karena mulai dari kecil paling beruntung mendapatkan apa yang diinginkan.
Sampai pada titik dia sangat membenci Namira. Nakisya melakukan segala cara untuk menggantikan kebahagiaan Namira. Akina mengetahui itu dia hanya diam tak berani mengumbar keburukan Namira yang dari kecil sudah dipanggil dengan panggilan mama. Dia tak mau sang bunda sedih mendengarkan saudaranya menderita karena anaknya. Akina yang selama ini menutupi semua kebusukkan dari Namira.
Namun apalah daya jika tuhan berkehendak lain. Ternyata cerita tuhan lebih indah. Mungkin ini keadaan yang paling tepat untuk sang mama. Walaupun dia bukan ibu kandung Akina, dia tetap mendokan yang terbaik untuk Namira.
TAMAT



Comments