top of page

Akhir Senja yang Kusesali (Indah Nur Afifah)

Berita di layar kaca siang itu benar-benar membuatku gelisah danpenasaran. Aku serasa sangat mengenali tempat dan orang-orang yang sempat tersorot kamera itu. Bukan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah dahulu. Bukan karena kejadiannya terjadi di kotaku, wilayahku, tetapi rasanya ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku merasa ada keterkaitan batin yang amat kuat dalam dengan tempat kejadian maupun orang-orang yang ada disana. Maka, aku pun bergegas kesana. Berita itu baru semenit yang lalu, dan ada laporan langsung dari tempat kejadian. Dalam dambar terlihat rombongan polisi baru berdatangan. Aku yakin, pasti mayat orang itu masih ada di lokasi. Maka aku putuskan untuk pergi dengan berjalan kaki. Tempatnya tidak jauh. Mungkin hanya butuh sepuluh sampai lima belas menit berjalan kaki.

Aku pun bergegas pergi, dengan rasa penasaranku. Rasanya aku berjalan cepat sekali. Entah kenapa, mungkin karena terlalu bersemangatnya. Pikiranku terlalu fokus mengingat semua kejadian tersebut sampai-sampai aku tidak memperhatikan sekelilingku. Ya, perlahan-lahan aku mulai mengingatnya. Seorang laki-laki paru baya. Rambut pendek dan selalu mengenakan baju lengan panjang dan membawa tas ransel dipunggungnya atau disamping tempat duduknya.

Lamunanku buyar. Ternyata aku sudah sampai di tempat kejadian. Aneh sekali, rasanya cuma butuh waktu lima menit atau bahkan kurang, aku sudah sampai. Apakah aku tadi terlalu semngat hingga rasanya cepat sekali sampai. Apakah aku berlari? Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti berapa menit aku berjalan. Aku tidak membawa jam atau hp.

Di trotoar sudut jalan pertigaan itu sudah banyak orang berkerumunan. Tentu saja mereka berada di luar garis polisi. Beberapa polisi dan wartawan mengerumungi mayat itu. Terdengar suara jepretan kamera dan kilatan lampu. Sementara, kendaran lainnya berjalan melambat dan melihat kejatia tersebut.

Aku mencoba bertanya kepada orang-orang disekitarku, namun tak satupun orang yang menghiraukanku. Ah, itu dia! Ada seorang yang sedang di wawancarai seorang pria wartawan dimedia cetak. Aku langsung mendekatinya dan menguping pembicaraan mereka.

“sudah berapa lama anda menjadi tukang parkir di sini?”

“sudah 5 tahun.”

“anda yang pertama kali melihat lelaki yang mati itu?”

“ kalau pertama kali yang melihat, saya tidak tahu pasti. Tetapi yang jelas saya yang pertama kali mencurigai kalau dia sudah mati.”

Wartawan itu manggut-manggut sambil membenahi topinya.

“orang itu sering duduk disitu?”

“ya, kayanya hampir setiap pagi.”

“berapa lama?”

“kira-kira mulai jam tujuh sampai sembilan pagi.”

“apa yang dia lakukan?”

“biasanya cuma membaca buku dan mendengarkan musik.”

“ kenapa dia selalu duduk disitu setiap hari?”

“saya tidak tahu pasti. Tapi menurut orang-orang katanya dia menunggu seseorang.”

“menunggu? Menunggu siapa? Keluarganya? Temannya?”

Tukang parkir itu hanya mengangkat bahu.

“ sejak kapan dia melakukannya?”

“kira-kira mulai enam tahun lalu.”

“menurut anda dia gila?”

“ saya rasa tidak...” kata tukang parkir itu setelah berpikir. “ dia selau sopan. Kadang ada orang yang mengajaknya berbicara sebentar. Kadang saya juga menyapanya, memberinya rokok...”

Aku mengalihkan perhatian ke tempat kejadian tersebut. Tampak orang-orang berkerumunan semakin banyak sampai-sampai aku tidak bisa melihat korban itu. Aku semakin penasaran setelah mendengar pembicaraan tukang parkir dan wartawan tadi. Aku semakin yakin bahwa pria itu adalah orang yang amat aku kenali. Akupun mencoba menerobos kerumunan orang-orang itu, dan entah kenapa rasanya sangat mudah sekali. Orang-orang itu seperti memberi jalan padaku. Aku makin dekat dengan garis polisi. Setelah menoleh kanan kiri, aku putuskan untuk menerobos garis itu. Tidak ada yang memperingatkanku atau melarangku. Tampanya para polisi sedang sibuk. Beberapa petugas ambulan juga mulai datang. Lelaki itu dikerubuti oleh beberapa polisi dan petugas medis sehingga aku tidak bisa melihatnya. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku.

“permisi, Pak,” kataku kepada salah seorang polisi yang sedang berjaga disana. “ boleh saya melihat korban. Sepertinya saya mengenal dia.”

Polisi itu tak memperdulikanku. Malah dia sibuk berbicara dengan petugas medis. Maka aku pun memutuskan untuk menerobos mereka dan melihat korban dari dekat. Ah, terlambat. Ternyata korban sudah di tutupi kain. Wajahnya tak terlihat. Terbesit dipikiranku untuk membuka kain tersebut. Aku menoleh kanan kiri lagi. Tampaknya semua sibuk sendiri. Aku memutuskan untuk membukaya. Aku buka perlahan-lahan...dan...teryata dia memang orang yang aku kenali. Dia adalah...diriku sendiri!

Tak kusangka ajal menjemputku secepat ini, perbuatan yang dulu ku masih hidup sangat ku sia-siakan. Mulai dari membantah orang tua, malas beribadah, sering berbuat jahat kesemua orang. Entah bagaimana aku bisa menebus semua dosa yang telah kuperbuat salama ini.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page