Aku Dan Impianku (Ayu Nur Rosyidah)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 4 min read
Aku adalah remaja yang tinggal di desa terpencil di kota bandung, namaku adalah gadis putri centika, kebanyakan sih orang di desaku memanggilku dengan sebutan gadis, aku tidak punya saudara karna aku anak satu-satunya dari ayah dan ibuku, aku terlahir dari keluarga yang sederhana, ayahku adalah orang yang pekerja keras, tinggi, dengan badan sedikit gempal dan ibuku adalah wanita yang paling sabar dan tegas dalam mendidikku. Sejak kecil aku mempunyai cita-cita yang besar dan ingin kuliah diluar negeri. Ayah menginginkanku untuk bekerja karna faktor biaya yang tidak banyak untuk kuliah di luar negeri dan ambil jurusan yang sangat ku inginkan. Ibuku lebih menginginkan ku untuk melanjutkan kuliahku di salah satu universitas, tetapi aku memikirkan dua kali orang tuaku yang membiayai kuliahku, dan akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di suatu perusahaan di kota bandung, aku berniat mengumpulkan sisa uang dari hasil jerih payahku untuk ku tabung dan berharap nanti untuk biaya kuliahku agar tidak menyusahkan orang tuaku. Meskipun aku bekerja tetapi aku masih terus belajar dan haus akan ilmu. Di desaku ada tetangga ku yang kebetulan profesinya seperti cita-citaku, aku sering menanyakan berbagai ilmu dan sharing dengannya.
Pada sore hari, saat aku pulang bekerja, aku mendapat kabar buruk kalau ibuku jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit, dengan kayuhan sepedah yang begitu cepat dan air mata yang bercucuran aku menemui ibuku, setelah sampai di rumah sakit aku mendapat kabar dari ayahku kalau ibuku mengidap sakit parah dan membutuhkan banyak uang untuk biaya operasinya, aku dan ayahku merasa sangat bingung dan gelisah harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana, dan akhirnya uang tabunganku yang ku jagakan untuk biaya kuliah akhirnya ku pakai untuk biaya perawatan ibuku, dan tak lama kemudian ibuku meninggalkan aku dan ayahku, tangisan pecah pada saat dokter mengabariku kalau ibuku sudah meninggal, waktu itu posisiku berada di apotik untuk menebus obat yang di beri resep oleh dokter, seketika itu badanku terasa lemas dan aku menjerit karna kepergian seorang ibuk yang sangat singkat. Dan karna itu aku terfikir untuk membantu ayahku bekerja, niat kuliahku untuk tahun ini aku urungkan sejenak sembari membantu ayahku. Tetapi aku tetap mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjaku, karena uang yang dulu sempat ku tabung habis untuk biaya ibuku.
Setahun setelah kepergian ibuku, aku berusaha mewujudkan keinginan ibuku yang belum terwujud, semasa hidupnya ibuku ingin aku kuliah dan mengambil jurusan keguruan, tetapi itu bukan cita- citaku dan akhirnya aku terfikir untuk mencoba mendaftar kuliah di suatu kampus negeri tepatnya di daerah Yogyakarta, aku mengambil jurusan apa yang ibuku impikan yaitu keguruan, sejenak kutinggalkan pekerjaanku dan fokus mengikuti tes perguruan tinggi, tetapi tuhan belum berkehendak untuk aku berkuliah di univ itu dan mengambil jurusan itu, aku merasa sedih dan kecewa dengan diriku sendiri karena belum bisa mencapai keinginan ibuku, aku mulai kehilangan semanggat untuk berkuliah, tetapi aku mempunyai sahabat yang sangat baik dan selalu ada untukku, ia membantuku membangkitkan kembali semanggatku dengan mengajakku ikut beberapa les di desaku.
Seminggu setelah itu, ayahku menikah lagi dengan seorang janda yang mempunyai satu anak, namanya adalah ibu desi dan anaknya bernama citra, ibu tiriku memperlakukanku dengan sangat tidak baik, aku merasa tertekan dengan kehadiran mereka, di tambah lagi kelakuan saudara tiriku yang bisa dibilang anak nakal, ia suka keluyuran malam dan pulang pagi tanpa ayahku mengetahuinya, selain itu ia juga selalu memperlakukan aku layaknya pembantunya
citra saudara tiriku juga orang yang sangat kejam, ia selalu memfitnahku didepan ayahku agar aku terlihat seperti orang yang jahat dan ayah kandungku membenciku, pada saat itu usaha ayahku sedang pada masa jaya-jayanya dan aku berhenti bekerja di perusahaan dan hanya di rumah dan belajar, saudara tiriku selalu mengejek dan merendahanku perihal keinginanku untuk berkuliah di luar negeri dan mengambil jurusan yang ku inginkan, ia selalu berkata dengan nada mengejekku “impian mu terlalu tinggi, kau tak akan pernah bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan”
karna sering mendengarkan kata-kata itu, aku merasa jengkel dan ingin membeli omongan mereka dengan membuktikan kesuksesanku kelak, dari situ aku merasa lebih greget dalam belajar dan tak menyerah atas kegagalan yang pernah ku alami, aku bangkit dan berani mengambil ke putusan untuk mendaftar beasiswa di suatu univ yang ada di luar negeri, tepatnya di Australia. Setelah aku mendaftar di Australia kini saatnya pengumuman hasil penerimaan, Dengan rasa takut dan cemas aku membuka web univ itu dan aku terkejut melihat namaku lolos beasiswa diautrali, aku merasa sanggat bersyukur dan bahagia atas nikmat yang aku dapat, meskipun aku lolos tetapi masih banyak tantangan yang akan ku hadapi nanti saat aku di australi, dengan rasa bahagia aku memberi tau kepada ayahku perihal keinginanku pergi ke Australia untuk berkuliah, ayah tidak mengizinkanku pergi pada saat itu. Lalu,Aku berusaha untuk berbicara secara pelan-pelan dengan ayah atas keinginanku untuk kuliah di luar negeri, entah apa aku mimpi setelah dua kali ayah tidak mengizinkanku untuk kuliah beasiswa di Melbourne yang tepatnya di Negara Australia, ayah berubah fikiran dan mengizinkan ku kuliah disana, seketika itu semanggat belajarku semakin menggebu. Dan setelah seminggu aku pergi ke austarali dan meninggalkan ayah, ibu tiriku dan saudara tiriku
saudara tiriku iri dengan ku dan dia ingin pula kuliah di Australia, akhirnya ayah membiayainya mandiri untuk kuliah disana, kita sama-sama kuliah disana dan tinggal bersama, sama seperti biasanya saudara tiriku memperlakukan aku seenaknya, setelah semester 4 dia terjerumus kedalam pergaulan bebas dan akhirnya ia hamil di luar nikah. Ia menyembunyikan dariku dan setelah satu minggu aku mengetahuinya kalau saudara tiriku hamil. Tidak lama kemudian ayahku mengetahui hal tersebut dan menyuruh saudara tiriku untuk berhenti kuliah dan balik ke Indonesia lagi, padahal aku menutupi apa yang terjadi kepada saudara tiriku, dan ayah tetap mengetahuinya. Sejak itu saudara tiriku semakin membenciku karena ia pikir ayah mengetahuinya dariku padahal itu tidak, lalu ia berusaha membuat ayah tidak percaya kepadaku, tetapi aku tidak perduli apa yang orang bilang dan aku tetap fokus pada satu tujuan ku yakni melanjutkan kuliahku sampai akhirnya aku lulus dari australia dan aku bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di australia, aku sangat bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan kedokeranku sekaligus mewujudkan impianku dan impian ibuku, ya meskipun keinginan ibuku aku kuliah dijurusan keguruan tetapi ku tebus itu dengan kesuksesanku ku.



Comments