Bak Merpati (Ismatuka Wulan Ningrum)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 9 min read
Namaku Erina Oshe aku merupakan asli keturunan dari Madura yang sekarang merantau diMalang, aku mempunyai dua orang tua yang bernama Raja Oshe ayahku dan Nurhayati ibuku tetapi mereka sudah sudah bercerai sejak aku umur 8 tahun , dan kini aku hanya tinggal bersama ibuku dan nenekku yang menyanyangiku dan mereka sangat mengerti dan kental terhadap budaya daerahku, tapi aku selalu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh neneku karena aku merasa hidupku bebas dengan apa yang aku lakukan saat ini.
Aku mempunyai kekasih yang bernama husna dia laki-laki asal Malang, aku dan husna bertemu di kajian majelis yang biasanya kami datangi berdua, erin menjadi salah satu anggota dari majelis itu. Aku dan husna telah bersama selama 2 tahun, tetapi selama hubungan ini ibu dan neneku tidak mengetahui mereka mengira husna adalah teman kajianku saja. Semenjak aku bertemu husna aku sangat merasakan sosok kehadiran ayah di hidupku, yang selama bertahun tahun yang tak pernah aku rasakan selama ini karena ayahku takpernah mengunjugiku mungkin dia tidak suka dengan kehadiranku di dunia ini.
Pagi haripun telah tiba kini saatnya aku bekerja di salah satu rumah makan seperti biasa aku selalu diantar oleh husna karena kita satu arah dalam perjalanan, tiba-tiba husna sudah datang didepan rumahku tidak seperti hari-hari biasanya, seperti biasa dia menelfonku saat sudah didepan rumahku
“Hallo erin mas udah didepan kamu sudah siap kan”
“Sudah mas erin keluar setelah ini mas tunggu ya” jawabku ditelfon
Akhirnya akupun keluar menemui husna dan kita bersama berangkat ke tempat kerja seperti biasanya. Setelah aku sampai ditempat kerja temanku lita namanya yang sedang mempunyai masalah yang sangat tragis menurutku karena kegagalan cintanya bersama kekasihnya dia dia menceritakannya semua kepadaku.
“Elinn”
“Iya ta ada apa kenapa matamu sembab, kamu habis menangis ya jujur saja jangan sampai bilang habis begadang seperti biasanya” Tanyaku
“Lita sedih tau elin kemarin lita sama burhan sudah dilamar dan aku nerima dong setelah itu burhan kerumahku dan menanyakanku kepada ibuku, tetapi ibuku menolak rink karena wetonku sama dia tidak seimbang sedih gak sih kamu jadi aku, aku sudah bersama selama ini tapi hasilnya nihil”
“Sudah-sudah kamu sabar ta, mungkin kamu belum ditakdirkan bersama burhan, pasti ada yang lebih baik dari burhan suatu saat nanti tapi ya tidak langsung ta secara perlahan-lahan sudah sudah jangan menangis ini ditempat kerja kamu tidak malu apa nanti diliatin sama orang-orang”
“Iya elin semoga kamu jangan sampai seperti aku ya, makasih udah semangatin aku”
Mendengar cerita dari lita aku menjadi gundah gulana, ketakutanku yang tidak beralasan ini mulai menghantui pikiranku, didalam batinku mungkin atau tidak aku seperti itu apalagi neneku yang sangat kental dengan budayaku, tapi aku yakin suatu saat nanti pasti nenek dan ibuku menyukai husna karena husna sangat baik dan mencintaiku apa adanya.
Malam telah tiba waktunya aku pulang untuk kerumah dan tidak lupa husna menjemputku ditempat pekerjaan seperti biasanya. Di dalam perjalanan pulang tiba-tiba aku teringat dengan kisah tragis lita dan aku betanya kepada husna apa mungkin kita seperti itu.
“Mas tadi temanku cerita dia mengalami kisah yang tragis”
“Kenapa erin dia habis kecelakaan ya apa parah sekali sampai tragis seperti itu” Jawab husna
“Mas ih bukan itu mas memang kalo tragis semua harus disangkut pautin sama kecelakaan apa”
“Ya maaf aku kira kecelakaan biasanya kan tragis”
“ Bukan, gini jadi temenku tadi cerita mas katanya dia gagal menikah dengan burhan kekasihnya katanya sih karena weton mas kasiankan, aku takut kalo kita seperti itu mas”
“Tidaklah adindaku tidak semua orang akan mengalami seperti itu mungkin itu sudah jalan takdir dari temanmu itu”
“Iyamas iya”
Akhirnya sampailah juga ketempat rumahku dan husna langsung bergegas pulang karena ada kegiatan lain di kampung halamannya, setelah itu aku disambut hangat oleh ibu dan neneku, ibuku selalu bertanya siapa yang mengantarkanku setiap aku menjawab husna ibuku hanya diam, aku tidak tau mengapa ibuku diam mungkin ibuku masih khawatir jika aku bersama laki-laki dan ibu mungkin takut jika nasibku sepertinya. Tiba-tiba ibu mengajakku untuk membeli sate didepan rumah aku kira mungkin karena ibuku lapar tetapi ternyata tidak itu hanya alasan kepada nenek agar ibu bisa bicara denganku secara berdua saja.
“Nak ibu mau bertanya, siapa husna itu kamu belum pernah menceritakan kepada ibu”
“Husna temanku ibu kan ibu sudah tau kalau kita sering kajian bersama” Jawabku
“Iya nak ibu tau tapi ibu merasakan hal yang berbeda apa memang kamu dan husna hanya sekedar berteman saja? Tanya ibuku dengan wajah yang sedikit bersedih
‘Tidak bu aku dan mas husan hanya berteman tidak lebih kok bu”
Melihat pertanyaan dari ibuku aku tidak berani untuk menjawabnya apalagi ibu bertanya dengan wajah yang sedih tidak seperti biasanya. Aku memutuskan untuk berbohong demi kebaikan ibu mungkin ini dosa tetapi aku tidak mau ibuku bersedih jika mendengar jawaban jujurku kepada ibu. Tiba-tiba ibu melontarkan pertanyaan yang membuatku begitu sangat terkejut
“Apa kamu pernah pergi berdua atau kamu perna kerumah husna nak?
“Tidak bu tidak perna aku selalui ramai-ramai bu, ibu tenang yah husna baik kok anaknya” Jawabku
“Ibu senang kalau anak ibu jujur, ibu justru bersedih kalau erin berbohong ke ibu”
Kedua kalinya ibu melontarkan pertanyaan yang membuatku tidak sanggup untuk berbohong lagi terhadap ibuku tapi aku takut jika ibuku tidak setuju aku masih berfikir dengan cerita lita yang tidak disetujui oleh ibunya dan akhirnya ibuku menasehatiku dengan kata-kata yang menurutku sangat baik untuk masa kedepanku tidak mungkin juga aku harus berbohong terus kepada ibuku.
“Ibu tidak apa-apa erin lebih dari sekedar teman tetapi ibu cuma mau bicara kamu harus benar-benar hati-hati dengan pilihan kamu, erin nanti harus bertanggung jawab dengan pilihan ibu tidak mau kamu gagal seperti apa yang ibu alami nak, kamu paham kan dengan maksud pembicaraan ini”
“iya bu erina janji bakal bertanggung jawab dengan apa yang aku pilih saat ini” Jawabku
“ Yasudah nak ayo kita pulang kasian nenek dirumah sendirian”
Akhirnya aku dan ibuku pulang kerumah, setelah sampai dirumah aku merenungi apa yang dikatakan oleh ibu, aku yakin dengan pilihanku saat ini yaitu husna karena di dalam diri mas husna aku menemukan banyak sekali sikap dari sosok ayah yang sering husna lakukan kepadaku. Aku melihat foto jaman dulu saat awal-awal aku bertemu dengan husna aku tidak mungkin sanggup untuk kehilangan husan yang selalu ada disampingku, tiba-tiba husan menelfonku ditengah malam.
“Assalamualikum dek”
“Waalikumsallam” Jawabku dengan senang
“Besok kita keluar bersama bisa kan kamu besok juga libur”
“Bisa mas jam berapa seperti biasanya aja yaa”
“Iyah rin yauda kamu ndang tidur sana sampai jumpa besok adindaku”
Perkataan dari husna membuatku senyum-senyum sendiri karena tidak biasanya husna bersikap seperti ini kepadaku.
Sinar matahari mulai menyapa, aku sangat bersemangat hari ini untuk bertemu husna, aku menunggu husna dirumah 3jam lamanya dia sama sekali tidak mengabariku apakah dia jadi bertemu denganku atau tidak, aku bingung dengan sikap husna tidak biasanya husna seperti ini kepadaku.
Setelah aku menunggu berjam-jam akhirnya husna menelfonku dan menjemputku didepan rumah seperti biasanya aku tidak tahu mau kemana tujuan kita hari ini, husna mengajakku ketempat sesuatu yang indah ditengah perjalanan huda memberhentikan motornya dan ia menutup kedua mataku dengan kain. Aku tidak mengerti apa yang akan husna lakukan kepadaku dia hanya mengaba-abaku di setiap langkahku.
“ Turun rin awas kamu nanti jatuh”
“Iya mas jangan cepet-cepet nanti aku kepeleset”
“Tenangkan ada mas husna rin” Jawab mas husna yang membuatku salah tingkah
Akhirnya sampai ketempat yang dituju husna membuka kain untuk menutup kedua mataku, begitu terkejutnya aku melihat banyak teman dari husna yang berada ditempat tersebut dan saat sesuatu dibuka tiba-tiba ada satu hiasan bunga bertulisan “Will You Marry Me” dan husna duduk dan membawa satu bunga dan berkata sama dengan kata di hiasan tersebut. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ternyata ini yang membuat aku menunggu husna selama berjam-jam, teman-teman disitu serentak mengatakan
“Terima terima terima” serentak
Aku bingung harus menjawab apa ke husna karena aku begitu mencintai mas husna tetapi aku belum mengerti apakah ibu dan nenekku menyetujui aku jika aku bilang iya kepada husna tetapi aku tidak bisa mnegtakan tidak kepada husna karena aku juga mencintai husna.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara kepada husna dan aku menerima apa yang sedang ditanyakan oleh husna
“Will you marry me?”
“Yes, Iya aku mau” jawabku
Mendengar jawaban dariku husna sangat senang, tetapi aku masih kegilasah apakah ibu dan nenekku akan setuju dengan keputusanku, di sana aku senang karena husna ternyata benar-benar menyayangiku belum pernah aku mendapatkan kejutan yang indah seperti ini karena selama hidupku aku hanya bersama ibu dan nenekku saja.
Setelah semua selesai husna mengatarkanku untuk pulang kerumah. Di dalam perjalanan husna bertanya kepadaku
“Erina boleh mas nanti kerumahmu”
“Boleh mas silahkan, mas husna sudah siap ketemu ibu dan neneku”
“Sudahlah mas husna sudah siap”
Akhirnya kita berdua sampai dirumah, aku dan husna bingung kenapa ada banyak sekali mobil-mobil didepan rumah tidak seperti biasanya, aku langsung lari masuk kerumah aku takut akan terjadi apa-apa dirumah, ternyata didalam rumah ada banyak sekali tamu dan salah satu lelaki yang terus memandangiku.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsallam” Jawab semua orang di dalam rumah
Tiba-tiba nenekku menghampiriku dan berkata
“Ayo nak salaman dulu sama calon keluarga”
“Calon keluarga apa ya nek kenapa nenek bicara aneh, calon keluarga siapa ini nek?” Tanyaku
“Sudah ayo erina salaman dulu”
Akhirnya aku mau bersalaman dengan semua orang. Husna masih di depan teras karena husna piker itu keluargaku dari Madura yang dating untuk berkunjung, tiba-tiba neneku membicarakan hal yang membuatku terkejut dengan kalimat apa yang nenek ucapkan tanpa berbicara kepada terlebih dahulu.
“ Iya ini cucuku yang aku maksud bagaimana nak reino”
“ Iya nek kalau reino iya saja terserah bagaimana erinanya”
Reino merupakan anak dari keluarga yang ingin dijodohkan kepadaku, dan jawaban dari reino membuatku sangat terkejut ingin pergi dari ruangan tersebut.
“Ini apa nek kenapa nenek bilang seperti ini nek ini ada apa?” Tanyaku kepada nenek
“ Ini nak reino yang mau nenek jodohkan dengan erina” jawab neneku
“Apa nek jodohkan? Aku tidak mau nek aku tidak mau
Aku keluar untuk menghampiri husna, husna mendengar apa yang telah terjadi di dalam rumahku dan akhirnya aku mengajak husna untuk kedalam dan aku ingin memperkenalkan husna kepada nenekku.
“Mass” panggilku ke husna
“Iya dek mas husna tidak apa-apa sudah kamu masuk aja mas nunggu disini kok”
“Tidak mau mas ayo masuk kita jelasin semua ini ke nenek”
Husna menolak ajakanku karena dia berfikir tidak sopan jika bertingkah seperti itu tetapi aku tetap memaksakan husna untuk masuk ke dalam rumahku dan husna akhirnya mau dengan ajakanku dan aku mengenalkan husna kepada neneku ternyata jawaban dari neneku membuatku terkejut dan menangis
“Nek ini husna nek pacar aku”
“Kamu ngomong apa erin, nenek tidak setuju” jawab neneku
“Tapi ibu setuju nek ibu setuju dengan hubuganku bersama mas husna”
“Apa benar hayati kamu menyetujuinya tanpa seijin dari nenek?” Tanya nenek kepada ibuku
Aku kira ibu akan menjawab pertanyaan neneku dengan jawaban iya ternyata ibuku malah menjawab dengan pernyataan jika ibuku tidak setuju dengan apa hubunganku dengan mas husna. Mendengar kata itu husna pamit pulang aku tau husna pasti kecewa dengan apa yang barusan dia dengar padahal baru saja di ingin melamarku tetapi malah tamparan seperti ini yang dia dapatkan. Aku tidak bisa menghentikan husna aku tidak mau dia lebih menderita dengan segala tingkah neneku kepadanya
“ Mas husna aku ikut mas husna ya”
“Tidak erin kamu tenang mas akan tetap memperjuangkan cinta kita”
“Janji ya mas aku disini tetap untuk mas husna”
Setelah husna pulang dan aku kembali kedalam rumah dan nenek memaraiku dengan sikapku yang diangkap tidak sopan terhadap keluarga reino dan tidak disangka nenek menceritakan kan alasan kenapa orang tua bercerai aku terkejut dengan apa yang dikatakan nenek aku kesal dengan apa yang difikrikan oleh nenek, karena aku menganggap itu hanya tradisi orang jaman dahulu bukan karena orang tuaku yang tidak satu daerah mungkin karena ke egoisan dari ayahku yang membuat ayah dan ibuku bercerai.
“Erina kamu mau tau alasan kenapa orang tuamu bercerai karena mereka berbeda daerah ibumu menikah dengan laki-laki pilihannya yang tidak sama seperti kita jadinya lihat sekarang ibumu tidak sejalan dengan ayahmu, kamu mau seperti itu mau mengalami kejadian yang sama seperti ibumu”
Mendengar itu semua aku hanya terdiam dan pergi meninggalkan nenek dan ibuku. Aku tidak percaya dengan apa yang dipikirkan nenek tidak semua menurutku harus dipaksakan oleh kehendak orang lain, tetapi disatu sisi aku juga takut dengan apa yang telah nenek bicarakan kepadaku apalagi aku dan husna tidak satu daerah bahkan berbeda kebiasaan.
Setelah itu ibuku menghampiriku dan mulai menenangkanku dari semua masalah yang telah aku hadapai
“ Nak sini ibu mau ngomong”
“Ibu, ibu katanya kemarin malam menyetujuiku dengan mas husna tapi kenapa ibu sekarang tidak menyetujuiku” sambil memeluk ibuku
Ibu bercerita mengapa ia tidak menjawab iya saat neneku bilang seperti itu, ternayata ibuku telah diberi tau untuk tidak menyetujui hubunganku dengan mas husna karena perbedaan daerah dan neneku masih sangat mempercayai jika aku harus menikah dengan orang Madura agar hidupku tidak seperti apa yang ibu alami, tetapi aku mencintai mas husna aku tidak bisa hidup tanpa mas husna Karena dia merupakan sosok ayah bagiku, setelah ibuku bercerita itu semua ibu menanyakan padaku apakah aku masih tetap memilih husna atau memilih reino yang dipilihkan oleh neneku.
“Sudah nak sekarang ibu bertanya apa kamu tetap memilih husna pilihanmu atau reino pilihan nenek yang mungkin itu terbaik untuk kehidupanmu kelak” Tanya ibuku
“Aku memilih mas husna bu lihat tidak semua orang berbeda itu tidak bahagia ibu justru dari perbedaan seseorang akan menemukan sebuah kebahagiaan”
“Kamu yakin nak”
“Yakin bu erina yakin dengan pilihan erina saat ini”
Akhirnya ibu pergi dan mulai membicarakan tentang ini terhadap neneku ternyata neneku masih belum menyetujui apa yang disampaikan ibu karena neneku tetap yakin perbedaan daerah atau adat tidak menjamin kebahagiaan.
Siang hari berlalu husna sama sekali tidak mengabariku aku sudah putus asa dengan apa yang telah terjadi semua telah aku pasrahkan kepada Allah mungkin cerita dari temanku lita memang memberikan aku pelajaran tentang bagaimana kita menghadapi rencana yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, aku menangis tahenti-hentinya melihat fotoku bersma mas husna. Tidak disangka husna mengajak seluruh kelurganya untuk kerumahku dan menemui ibu dan neneku husna memberanikan diri untuk melamarku kepada neneku.
Neneku menolak karena aku dan husna tidak cocok, ibuku juga ikut bicara kepada nenek jika semua yang terjadi kepadanya bukan karena ketidakcocokan daerah atau adat dari ibu dan ayahku karena kegoisan dari ayahku yang membuat ibuku meninggalkan ayahku, saat ibuku menceritkan semua itu neneku akhirnya mulai diam dan tidak bicara satu katapun.
Husna tetap gigih untuk meminta restu dari nenekku, karena kegigihan husna dan perjuangan husan kepadaku akhirnya nenek memberikan restu aku dan husna, ibuku memanggilku kebawah aku tidak tau kalau husna pergi kerumahku sesampai aku keruang tamu nenek memanggilku
“Erina sini nak nenek mau bicara ke erina”
“Iya nek ada apa nek aku ikhlas nek jika nenek tidak mengizinkanku dengan mas husna karena erin tau mencintai seseorang itu bukan karena hanya ingin memiliki dirinya saja tetapi juga harus mempersatukan kedua pihak keluarga, erina tidak mau nenek sakit atau kenapa-kenapa kalau erina tetap memaksakan harus dengan mas husna”
Tidak disangka nenek memelukku dan biacara kepadaku, kalau nenek setuju dengan hubunganku bersama husna, nenek beranggapan mungkin karena nenek masih mengikuti jejak kakek buyutnya dulu yang akan membuat aku menderita nenek tidak ingin aku menderita seperti apa yang nenek rasakan dahulunya.
Nenek hanya ingin aku mendapatkan lelaki Madura agar bisa menjadi penurus warisan budaya, tetapi karena nenek sadar mungkin dari perbedaan daerah tidak akan menjadi hambatan kebahagiaanku dan akan tetap melestarikan budayaku, akhirnya aku dan mas husna dizinkan untuk menikah.



Comments