Batas Senja (Komariyah)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 7 min read
Bau anyir darah itu memadati ruang udara yang juga sesak dengan polusi kendaraan. Tubuh yang berlumuran darah kini terkapar bagaikan ikan yang kehabisan air didalam ember, begitu mengenaskan. Sungguh malang nasibmu kak, harus mati dibunuh oleh dendam kusumat dari manusia berhati batu.
Harusnya tak kau biarkan peristiwa itu terjadi, jika kamu bisa melerai Anommu dan bajingan itu ketika mereka bercekcok. Kamu tahu bahwa Anommu dalam keadaan buta, mana mungkin dia bisa menang melawan bajingan kaparat itu, harusnya kamu membawa Anommu lari dan mencari bantuan, malah kau hanya sembunyi di balik pohon jambu milik nom Sahrah, kau biarkan Anommu dihajar, dipukuli hingga babak belur tanpa ada perlawanan dari Anommu sedikitpun.
Apa karena kamu membenci Anommucong? Sampai kamu tega membiarkan Anommu dipukuli sampai darah mengucur dari telinga dan hidungnya, sampai ajal akhirnya memanggil Anommu untuk menemui rabnya.
Harus kamu tau cong, kebencianmu kepada Anommu adalah kesalahan besar, kau sudah kemakan omongan orang-orang yang tidak suka terhadap Anommu, ia tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, Anommu adalah sosok malaikat yang dunianya sudah menjadi gelap gulita saat ia mencoba melawan kezaliman.
Anommu itu bukan penjahat, seperti yang orang-orang katakan termasuk kamu cong, bapak ingat betul kejadian yang menimpa Anommu hingga ia harus mengalami nasib sial seperti sekarang ini. Anommu dulu orang yang masyhur di kampung ini, dan ia termasuk saudagar kaya dikampung ini, setiap tahun Anommu selalu membagikan hartanya kepada orang yang membutuhkan, bahkan kampung sebelah juga ikut merasakan atas kebaikan Anommu itu.
Seperti biasa Anommu selalu membagikan hartanya pada malam takbiran, Anommu ingin semua orang ikut merasakan kebahagiaan hari raya tidak terkecuali meskipun orang miskin, biasanya satu kresek merah itu penuh dengan sembako, mulai dari beras, minyak goreng, telor, gula, garam, dan tidak lupa Anommu akan menyisipkan uang pada amplop di dalam kresesk itu.
Perayaan hari raya idul fitrih waktu itu berjalan sebagaimana mestinya, semua orang bersuka cita menyambut hari yang dinanti-nanti, kecuali kakek tua yang begitu malang nasibnya. pada hari itu kakek itu ditangkap oleh polisi atas tuduhan telah mencuri ayam.
Anommu yang mengetahui hal itu merasa iba terhadap kakek malang itu, iapun mendatangi kantor polisi bersama dengan bapak. Anom lalu meminta kepada bapak polisi untuk dipertemukan dengan kakek tua itu. Anommu ingin mengetahui cerita sebenarnya dari kakek itu.
“kakek sebenarnya terpaksa ngelakuin itu cong, kakek tidak ada pilihan lain, cucu kakek menangis dan meronta-ronta ingin makan opor ayam, tapi kebetulan waktu itu kakek nggak ada uang sepeserpun. Malam itu kakek ikut takbiran bersama dengan yang lainnya, ketika kakek pulang dari masjid, di pertengahan jalan ada ayam jago yang sedang berkeliaran. Waktu itu kakek merasa aneh dengan ayam itu, biasanya setelah magrib semua ayam akan kembali ke kandangnya, tapi ayam itu malah berkeliaran jam sembilan malam. Kakek merasa bahwa ayam itu dikirim tuhan kepada kakek, karena tuhan tau cucu kakek sedang menginginkan opor ayam. Tanpa berpikir panjang lagi kakekpun menangkap ayam itu dan membawa pulang, tapi sialnya mungkin ada orang yang melihat kakek pada malam itu, dan melaporkan kakek ke polisi. akhirnya kakek dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. “
Mendengar cerita kakek itu, wajah Anommu menjadi merah, bapak tau apa yang ada dalam pikirnya, ia pasti marah kepada penegak hukum yang semena-mena, bagaimana mungkin seorang kakek yang hanya mencuri ayam di jatuhi hukuman 5 tahun penjara, sedangkan dewan pemerintahan yang terbukti korupsi malah bebas berkeliaran. Memang hukum di negeri ini masih terlalu lemah, sehingga ketika orang-orang kecil melakukan kesalahan hukumannya menjadi begitu berat, tidak sebanding dengan kesalahannya, berbeda halnya dengan orang kaya raya ketika melakukan kesalahan, mereka dapat menawar hukuman apa yang pantas untuk dirinya. Begitulah kalau uang sudah berbicara.
Disisi lain Anommu juga menyesali peristiwa ini bisa terjadi, Anommu merasa ini kelalaianya saat membagikan sembako, ternyata Anommu secara tidak sengaja telah melewati rumah kakek tua yang miskin itu. Setelah merenungkan segalanya Anommu langsung menemui polisi, Anommu meminta hukuman kakek agar bisa dikurangi, tapi polisi dengan wajah sangarnya menolak dengan tegas permohonan itu. Tapi kemudian pimpinan polisi dari ruangannya menemui Anommu dan bapak, kami diajak keruangannya secara khusus.
Setelah berbincang-bincang lama dengan pimpinan polisi itu, akhirnya bapak dan Anommu tau maksud dan tujuan polisi itu, pimpinan polisi itu bisa mengurangi hukuman bahkan mau membebaskan kakek itu asalkan Anommu mau menebus dengan uang sebesar seratus juta. Mendengar pernyataan itu Anommu mengernyitkan dahinya dan seakan tidak habis pikir dengan niat busuk pimpinan polisi itu, bagaimana mungkin seorang aparat pemerintahan yang seharusnya melindungi dan memberikan keamaan untuk negerinya malah berbuat yang demikian.
Anommu menolak pilihan yang diberikan oleh pimpinan polisi itu. Seratus juta bukan jumlah yang sedikit butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sejumlah itu, tapi bagi Anommu bukan banyaknya jumlah uang yang menjadi permasalahan, Anommu hanya memiliki pertimbangan jika sogok-menyogok tetap dibiarkan membudaya, maka lambat laun moralitas bangsa ini akan terkikis dan hilang.
Anommu kemudian mengancam pimpinan polisi untuk membawa perkara ini sampai ke pengadilan, bahkan nanti saat di pengadilan Anommu akan mengadukan perihal perilaku pimpinan polisi itu. Mendengar hal itu, pimpinan polisi itu seperti kebakaran jenggot, matanya memerah, dan emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun, kemudian ia mengusir bapak dan Anommu untuk segara meninggalkan ruangannya.
***
Anommu sungguh sangat bersemangat untuk bisa membebaskan kakek itu, meskipun tidak dengan cara kotor, Anommu yakin dapat mampu membebaskan kakek itu, Anommupun mendatangkan pengecara hebat dari jakarta dengan harapan mampu memenangkan sidang yang akan digelar satu minggu pasca kunjungan Anommu dari kantor polisi.
Dua hari sebelum menjelang sidang, terdengar desas desus bahwa Anommu terlibat kasus narkoba, Anommu dikabarkan adalah seorang bandar narkoba yang sudah lama menjadi boronan, mulanya warga kampung tidak percaya, mengingat Anommu merupakan orang yang baik dan penuh kasih.
Tapi ketika malam hari saat keadaan kampung begitu senyap, segerombolan polisi datang mengepung rumah Anommu, bapak yang juga mendengar suara patroli segara bapak bangkit dari tempat duduk bapak, dan mengintip keluar jendela, bapak takut keluar dari rumah, tapi Anommu dengan celana pendek berwana hijau, dan kaos singlet yang melekat keluar dari rumah menghadapi segerombolan polisi itu.
Kejadian itu disaksikan oleh warga kampung, rumah Anommu menjadi begitu gaduh, terjadi percekcokan antara anom dan pimpinan polisi. Pimpinan polisi itupun memaksa masuk kerumah Anommu tanpa mendapatkan izin, dan beberapa polisipun ikut mendampinginya, sebagian lagi berjaga-jaga diluar untuk mengamankan keadaan untuk menghindari kericuhan.
Bapak yang hanya mengintip dari jendela, akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi pamanmu yang wajahnya sudah sedikit pucat, keringat bercucuran dari wajahnya, bapak mencoba menenangkan perasaan Anommu yang semakin gugup, tapi percuma keringat itu semakin deras mengucur dari tubuh Anommu, bahkan kaos singlet yang dikenakan nya menjadi setengah kuyup.
Tidak lama kemudian pimpinan polisi itu dan beberapa polisi yang lain keluar dari rumah Anommu, pimpinan polisi itu membawa kresesk hitam yang katanya narkoba jenis sabu, Anommu menjadi semakin pucat dan juga bingung, bagaimana mungkin barang haram itu bisa ada didalam rumahnya?. Bapak dan Anommu tau kalau itu tipu daya pimpinan polisi itu, dia takut dipengadilan nanti ia akan kalah menghadapi Anommu.
Anommu mencoba mengelak dan membela diri, tapi percuma tidak ada yang percaya, kecuali bapak. warga kampung juga sudah terhasut dengan tipu daya pimpinan polisi itu. Yuk Sri dan Dika sepupumu sedang tidak ada dirumah, sore hari sebelum kejadian itu mereka izin untuk menginap dirumah neneknya, di rumah orang tua yuk Sri. Tanpa sepengetahuan yuk Sri dan Dika, Anommu dibawa polisi di ke lapas dengan tangan terborgol.
Bulan malam itu menjadi saksi betapa nasib sial telah memeluk Anommu, lampu-lampu yang tamaram ikut menyaksikan kerisauan dan kegelisahan hati Anommu, tapi bapak lihat matanya masih begitu tabah dan tegar, ia percaya bahwa kebenaran akan tetap menang melawan kezaliman. Jika tidak di dunia, maka akhirat akan menjadi balasan bagi semesta.
Cacian dan hinaan warga kampung ikut mengiringi langkah kaki Anommu, namun tidak sedikit pula yang merasa sedih atas kepergian Anommu, mereka merasa iba dan sulit percaya, bahwa Anommu bisa melakukan hal yang melawan negara dan negerinya.
***
Yuk Sri yang mendapati kabar tentang berita Anommu yang ditangkap polisi, ia seketika histeris, ia tidak bisa mengendalikan emosinya, jiwanya terguncang, beberapa hari setelah menerima kabar ia menjadi murung, terkadang ia juga tertawa sendiri, dan kadang pula ia berubah menjadi marah ketika ada suara bising yang mengganggu ketenangannya. Akhirnya yuk Sri dibawa kerumah sakit jiwa dan dirawat disana. Sedangkan Dika sepupumu diasuh oleh neneknya di Larangan, disana bapak rasa ia tidak akan kekurangan kasih sayang ataupun yang lainnya.
Sepuluh tahun kemudian Anommu dibebaskan dari penjara, saat keluar dari jeruji besi itu Anommu sudah dalam keadaan buta, bapak tidak tau pasti mengapa, tapi Anommu bercerita sebelum matanya menjadi buta, ia sempat mencuci wajahnya dengan air yang ada di bak hitam di dalam kamar mandi, setelah itu Anommu merasakan perih yang tidak wajar pada matanya. Setiap hari pandangan matanya menjadi kabur, dan akhirnya tidak bisa melihat apa-apa lagi, kecuali kenangannya pada dunia yang sudah terekam di ingatannya, dalam ingatannya ia masih bisa meliha yuk Sri, dika, bapak, kamu, dan semua orang terkasih yang Anommu sayangi.
Bapak curiga bahwa kebutaan anummu sengaja direncanakan oleh pimpinan polisi yang jahannam itu, mungkin saja air itu telah diganti dengan air keras yang dapat menyebabkan kebutaan, atau hal lain yang bisa mencelakakan Anommu, tapi hingga saat ini Anommu dan bapak tidak memiliki bukti. Anommupun sudah tidak ingin memperpanjang masalah itu. Anommu lebih senang dengan keadaannya yang buta, karena kata Anommu ia bisa melihat keindahan dunia yang sesungguhnya, bahkan ketika ada seorang bapak yang mau menyerahkan mata putranya yang sudah meninggal untuk Anommu, Anommu justru menolak meskipun semua orang telah memaksanya, tapi Anommu tetap dengan pendiriannya.
“Aku tidak mau menerima donor mata itu, kasihan anakmu, biarkan dia tenang disana dan melihat keindahan surga, dari pada mata anakmu tetap ada didunia bersamaku, ia akan melihat ke zaliman-kezaliman merajalela di dunia ini. Aku sudah cukup bahagia dengan kebutaanku, maka kuburkanlah mata itu bersama dengan tubuh anakmu secara utuh.”
Sejak saat itu beberapa orang menganggap Anommu sudah tidak waras, tidak ada manusia yang ingin buta, dan bahkan merasa bahagia atas kebutaannya, kecuali orang tidak waras, itu kata tetangga yang mengetahui Anommu menolak donor mata itu.
Bapak tau cong, mungkin itu yang membuat kamu membenci Anommu sendiri, jika kamu tau tentang kebaikan Anommu terhadap keluarga kita, mungkin kamu akan menagis dan menyesali atas semua yang sudah kamu lakukan terhadap Anommu.
Dulu ketika bapak di PHK dari pabrik rokok yang sekarang sudah gulung tikar itu, Anommulah yang menolong bapak, ia memberikan modal usaha untuk mendirikan warung makan yang sampai saat ini bisa kamu saksikan sendiri, dari warung makan itu bapak bisa memenuhi kebutuhan keluarga kita, bisa menyekolahkan mu di sekolah favorit seperti yang kamu inginkan, Anommu sudah banyak berjasa untuk kita cong.
Bahkan dulu waktu kamu mau lahir, dan dokter menyatakan ibumu harus di operasi, sehingga kamu harus lahir cesar, Anommu jugalah yang memberikan biaya untuk persalinan, tidak sedikit uang yang ia keluarkan untuk biaya persalinan, tidak hanya jutaan tapi puluhan.
Kamu juga harus tau, motor satria yang kamu gunakan sekarang adalah pemberian dari Anommu, Anommu tidak tega melihat kamu setiap hari berjalan kaki ke sekolah, maka dari itu Anommu menghadiahi motor itu untukmu cong.
Sekarang apakah kamu masih membenci Anommucong?
Jika iya maka sungguh hatimu telah menjadi batu, atau bahkan kamu sudah tidak punya hati.
“Istirahatlah yang tenang kak, duniamu sudah indah, tidak ada kezaliman dan kesengsaraan yang akan kamu lihat, kecuali kesengsaraan orang-orang yang berbuat zalim, atas siksa dan balasan untuk dirinya, bola matamu akan di penuhi keindahan surga yang menakjubkan, istirahatlah kak, kau sudah menjalankan hidupmu dengan baik, kau sudah berhasil melalui duri-duri tajam itu, kuburanmu semerbak bunga kasturi, menembus cakrawalah, istirahatlah dengan tenang, nikmati segala hidangan yang akan tuhan berikan untukmu. Selamat untukmu kak.”
Catatan:
Anom merupakan kata lain dari paman bagi orang madura
Cong merupakan panggilan orang yang lebih tua kepada anak laki-laki, atau kepada anak kandungnya.



Comments