Belajar Dari Semut Kecil (Cheilla Sari Nur Janah)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 2 min read
Namaku adalah Dira, aku memang masih kecil tetapi aku sangat peduli akan keadaan alam yang begitu indah ini. Setiap hari aku selalu menyiram tanaman dan membersihkan halaman rumahku setiap harinya.
Pagi ini aku menatap barisan semut-semut yang berbaris dengan rapi di dinding. Beberapa dari para semut itu terlihat berkelompok membawa potongan biskuit yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka.
Menit-menit telah berlalu, aku mulai bosan melihat barisan semut yang tak kunjung bubar. Dengan senyum jailnya, dia lalu menyentuh lembut seekor semut yang sedang berbaris. Alhasil semut itu lari terbirit-birit, keluar dari barisan. Aku tertawa, lalu kembali lagi menyentuh satu per satu semut, terus-menerus hingga barisan para semut menjadi kacau.
“Aduh… aduhhh sakiiiit! Kakak! Kakak!” teriak Dira, berlari ke dalam rumah. “Ada apa? Kenapa teriak-teriak, Dir?” tanya Kakak Cece lembut. “Tanganku gatal-gatal digigit semut.” Kakak Cece geleng-geleng kepala, lalu bergegas mengambil minyak gosok. “Apa yang kamu lakukan, hingga tanganmu gatal-gatal begini?” tanya Kakak Cece sambil mengoles minyak ke tangan Dira. “Aku… Emmm hanya ingin semut-semut itu berjalan dengan cepat, agar bisa menikmati makanannya,” jawab Dira lirih. “Aduuh Dira..., seharusnya kamu tak boleh lakukan itu. Para semut berbaris rapi agar segalanya dapat berjalan dengan tertib.” Dira mengerutkan dahinya, heran. “Ayo, ikut Kakak,” ucap Kakak Cece, lembut.
Dira terdiam, menatap lurus ke arah dinding. Para semut telah kembali berbaris dengan rapi sambil menjunjung makanannya.
“Nah, semut-semut ini berbaris rapi sebab ingin masuk ke dalam rumahnya. Lihat, ada barisan semut yang keluar dan ada yang masuk. Segalanya berjalan dengan tertib dan rapi.” Dira mengangguk, lalu dia mengulurkan tangannya hendak menyentuh kembali para semut-semut itu. Namun sayang, aksinya kali ini berhasil digagalkan oleh sang kakak.
“Eits, jangan disentuh,” ucap Kakak Cece, tegas nan lembut. “Mengapa Kak?” tanya Kakak dengan intonasi protes. “Jika kamu kembali menyentuhnya, maka barisan semut ini akan kembali kacau. Bayangkan, jika semua semut bersikap egois ingin masuk duluan, maka jalan masuk para semut akan tertutupi oleh tubuh-tubuh mereka. Aksi dorong-mendorong pun terjadi, dan yang lebih parah lagi, tidak ada yang akan masuk ke dalam rumah sebab semuanya ingin masuk duluan. Jika sudah begitu, bagaimana mereka bisa menikmati makanannya?” jelas Kakak Cece, yang langsung mendapat anggukan setuju dari Dira.
“Jadi Kak, jika ingin segalanya tertib dan rapi harus membutuhkan kesabaran yaa?” tanya Dira, mulai paham. “Betul. Wah adekku sudah paham rupanya,” ucap Kakak Cece, senang. “Kapan barisan para semut ini akan bubar Kak?” tanya Dira. “Kalau semua pekerjaan mereka telah selesai.” Dira mengangguk-angguk lagi.
“Kak, mengapa saat Dira menyentuh seekor semut supaya cepat jalannya, kok semut itu malah kabur?” tanya Dira heran. “Itu adalah srategi pertahanan diri, sama seperti kamu, jika disentuh oleh seseorang yang tidak dikenal pasti kamu akan lari ketakutan mencari… eh Dira, ini kan sarapan kamu tadi pagi,” ucap kakak, melotot gemas ke arah adeknya. “Hehe, maaf kak. Tadi pagi, aku sudah kenyang, jadi aku membuang separuh biskuit yang kakak berikan,” ucap Dira, menyesal. “Lain kali, jangan begitu lagi yaa Dir... Ingat, jangan mubadzir terhadap makanan, hargai rezeki yang Tuhan sudah berikan pada kita. Jika sudah kenyang, disimpan jangan dibuang,” ucap Kakak Cece. “Iya Kak. Hmm, berarti biskuit ini sudah jadi rezeki buat semut yaa kak?”
Kakak melotot namun kemudian mengangguk sambil tersenyum. “Kamu sudah semakin pintar. Ayo belajar, besok masih mau ulangan kan? Belajar yang rajin supaya naik kelas dua dengan nilai yang baik.” Dira mengangguk lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.



Comments