Bosan (Fatkhul Arif Hilmi)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 4 min read
“arggh, membosankan” terlintas di otak Bonny malam itu, ia merasa hidupnya kurang bergairah seolah-olah di dunia tidak ada lagi yang bisa menghiburnya. Kesehariannya ia lewati hanya untuk bermain game saja. “ kau sedang apa Bon?” tanya Jacky setelah ia menyadari wajah Bonny sedang murung, Jacky adalah teman seperjuangannya saat menduduki masa SMA dulu yang kebetulan mereka sekarang tinggal satu kontrakan karna si Jacky melanjutkan pendidikannya masih di kota yang sama dengan sekolah SMAnya dulu. Bonny tampak enggan untuk membalas pertanyaan si Jacky karna keadaan hatinya saat itu sedang benar-benar bosan, ia hanya diam dan sedikit melirik ke arah Jacky. Menyadari keadaan temannya yang seperti itu Jacky memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan Bonny sendiri di kamarnya.
Keesokan harinya Bonny berkeinginan menemui temannya, teman yang sering mengajaknya bermain game karna ia tau sekarang jadwalnya ia selesai latihan beladiri di perguruannya. Setibanya disana ia mendapati si Jasson sedang asik bermain-main dengan samurainya yang sangat di takuti oleh semua tingkatan monster yang ada di kota itu, sebut saja monster ini memiliki 5 tingkatan. Tingkatan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Bukan hal yang sulit bagi Jasson untuk mengalahkan semua kalangan monster itu. Di beberapa kejuaraan sebelumnya ia selalu menduduki peringkat pertama. Oleh karna itu tak ayal ia menduduki pahlawan tingkat A di atas tingkatan-tingkatan di bawahnya yaitu B, C, D, E. Menyadari temannya datang Jasson dengan segera menghampiri Bonny. “kau sedang apa disana?” tanya Jasson. “aku hendak mengajakmu ke tempat tinggalku menemaniku bermain game disana, kau ada waktu?” sambung Bonny, Jasson menjelaskan bahwa ia sedang berlatih untuk mengikuti kejuaraan tahunan di kota ini yang diadakan oleh pemerintah pusat karna ia mendengar banyak para pahlawan baru yang kekuatannya sudah tidak diragukan lagi dan sempat mengajak Bonny untuk berlatih bersama menyadari Bonny masih tergolong tingkatan C di kalangan Pahlawan namun ia menolak lebih memilih untuk kembali ke tempat tinggalnya.
Seperti biasa, di kamarnya ia hanya merenungkan kehidupannya yang begitu-gitu saja tanpa adanya gairah sedikitpun. Ia hanya teringat kejadiannya tadi di jalan menuju pulang membunuh monster yang tak ia kenal sama sekali hanya dengan sekali pukulan lalu ia berkata dengan lirih “andai saja tadi kau tak berniat mengangguku,selamatlah nasibmu monster”. Hari ini hanya ia habiskan dengan bermain game saja dirumah tanpa ada satu temanpun yang menemaninya bahkan teman dekatnya sekalipun, si Jasson. Sesekali ia mengganti tampilan gamenya dengan stasiun televisi nasional. Tak di sangka ia mendengar berita bahwa muncul kakak beradik dari golongan monster yang bernama Tora dan Taro dilansir kekuatannya melebihi tingkatan pertama dari lima tingkatan monster, monster ini telah membuat kekacauan di sudut-sudut kota bertujuan untuk menjadi penguasa di muka bumi, bahkan sekolah SMAnya dulu dihancurkan olehnya hingga tak terlihat lagi gedung-gedung indah disana. Sebab inilah hati Bonny sedikit marah mendengar berita itu, bukan hanya itu warga sekitar pun juga merasa terancam akan kedatangannya dan reporter mengimbau kepada seluruh warga agar berhati-hati apabila bertemu dengan monster tersebut. Dikutip dari asosiasi perkumpulan para pahlawan
Sebentar lagi kejuaraan akan segera di mulai. Saat itu Bonny berada di podium penonton bersama penonton yang lainnya dan nampak dari kejauhan si Jasson sedang bersiap-siap untuk memulai pertandingan penyisihan, tak perlu waktu lama, Jasson bisa masuk ke babak semi final pada kejuaraan itu. Disisi lain, Tora sedang membuat keonaran di pusat kota menyadari bahwa adiknya menghilang, tak memandang siapa yang dilihat semua yang ada di depannya dibunuh dan dihancurkan tanpa terkecuali. Dengan tertatih-tatih si Jasson sedang bertarung di laga final kejuaraan itu, semua kekuatannya telah ia kerahkan untuk mengalahkan musuhnya dan berakhir pada kemenangan yang peroleh oleh si Jasson. Tak lama kemudian terdengar suara amukan monster dari luar lapangan yang tak lain adalah si Tora. Melihat ada kejuaran ia berprasangka buruk bahwa salah satu orang di sana yang menyebabkan adiknya menghilang, tanpa pikir panjang lagi ia menerobos masuk ke dalam area pertandingan dan memergoki sang juara di kejuaraan itu, yaitu si Jassen.
Jassen dengan jiwa pahlawannya langsung bergerak menghadang si Tora menyadari bahwa banyak para penonton yang masih belum keluar dari tempat kejuaraan termasuk temannya si Bonny. Tidak disangka-sangka pahlawan terbaik di kota itupun tumbang di tangan monster jahat itu, dengan angkuhnya Taro berkata dengan lantang “siapa yang membunuh adikku???”. Melihat tora benny berkata dalam hati “ ternyata monster yang kemaren kubunuh itu sebenernya adiknya Tora” tanpa menghiraukan Tora yang sedang mengamuk di tengah arena, Bonny dengan santai menghampiri Tora karna di otaknya ia hanya berfikir untuk membalas perbuatan Tora yang telah mengalahkan teman dekatnya lalu berkata dengan nada datarnya“bertarunglah denganku” “apakah kau yakin??, orang yang katanya paling hebat saja dengan mudah aku kalahlan” jawab Tora dengan nada angkuhnya. Tanpa basa-basi hanya dengan sekali pukulan dari Bonny,Taro pun tumbang dengan keadaan mengenaskan. Setelah mengalahkan Tora dengan sekali pukulan ia tak merasa bangga karena hal itu sudah biasa terjadi dan segera ia menghampiri sahabatnya, Jassen. Melihat keadaan sahabatnya yang sudah tidak bisa tertolong lagi ia hanya pasrah menerima keadaan ini dan akan terus mengenang jasa-jasa temannya itu.
Tak selat beberapa lama Bonny pun pergi meninggalkan tempat kejuaraan itu dengan hati sedih dan berduka tambah sedih lagi ketika ia melihat keadaan kota diluar, sudah hancur tak berbentuk dan iapun memutuskan untuk melihat keadaan sekolahnya yang dulu kembali seraya menghibur adik-adik yang sedang bersekolah di tempat-tempat pengungsian dekat-dekat sekolah, setibanya disana ia dihampiri oleh seorang anak yang masih berseragam sekolah “kakak” sapa anak itu, dengan kaget ia menjawab “eh, iyadek, kamu tidak sekolah?” si Bonny balik bertanya “sudah kak, baru saja pulang ini, kak aku boleh bertanya sesuatu tidak?”, “owh, iyasudah kalau begitu, boleh boleh dek mau tanya apa?”. Anak tersebutpun mengajukan pertanyaannya “aku mengenal kak Bonny sudah lama, tadi aku mendengar dari bu guru kak Bonnylah yang menumbangkan monster jahat itu, bagaimana cara agar bisa sehebat itu kak?”, mendengar pertanyaan itu ia kaget bukan main karena ia hebat namun ia tak merasa melakukan latihan keras seperti pahlawan-pahlawan yang lainnya hal inilah yang ia bingungkan sedari dulu namun saat ini ada yang berani bertanya kepadanya, ia hanya bisa tersenyum kepada anak tersebut dan berusaha mengalihkan pembicaraan karena yang mengatahui hal ini hanyalah sahabantya sendiri si Jesson, Jesson mengetahui bahwa kekuatan yang dimiliki Bonny itu ialah kekuatan turunan dari ayahnya.



Comments