Di Balik Secangkir Kopi (Noviana Safitri)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 7 min read
“praaang, duh kenapa bisa jatuh sih”
Aku mendengar kegaduhan dari arah kamar pojok yang bersanding dengan kamar bapak, entah apa yang diributkan setiap hari selalu ada masalah dalam hidupnya. Pagi itu aku mulai merapikan tempat tidur bapak dan seorang manusia pojok pembuat ulah. Kamar yang penuh dengan sarang laba-laba seperti kapal pecah, yah siapa coba yang mau masuk ke kamar itu kalau bukan aku. Ibu yang tua renta sering sakit-sakitan tak tega melihat berbaring tak berdaya dikasur depan TV. Hanya akulah manusia kecil dalam rumah ini yang menggatikan peran ibu.
Sayur bayam kuah bening kesukaan ibu okeaku berjalan menuju tukang sayur yang dikerumuni banyak orang disamping rumah.
“pasti bu Sumi bawa bayam banyak hari ini”
Aku menggumam sendiri sambil berdoa penyakit ibu segera diangkat. Warga disini kebanyakan pendatang jadi wajar-wajar saja kalau mereka diam tak banyak omong seperti tetangga sebelah. Keramahan bu Sumi membuat para pelanggan jadi betah belanja pada beliau, gerobak kecil dengan sayur, rempah-rempah dan ikan bertumpuk-tumpuk tak mengelakkan para pelanggannya. 2 ikat bayam cukup lah buat si ibu, sambil memilih milih sayur buat persediaan dirumah.
“Nani... nak tolong ibu nak” suara rintih terdengar dari arah jendela kamar ibu
Tak kusangka ibu jatuh dari tempat tidur terpleset minyak urut sebab keteledoranku meninggalkan minyak urut dekat kaki ibu akhirnya tumpah mengakibatkan ibu tak bisa berdiri. Hal bodoh yang selalu kulakukan sudah berakibat fatal bagi orang lain
“ah sebenarnya kenapa aku bisa sampai terlupa menaruh minyak urut dekat ibu, syukur tinggal sedikit tak habis pikir kalau banyak, maaf bu Nani selalu begini” .
Dengan penuh iba ku menatap wajah sang ibu, fikiranku mulai mengalir melihat perjuangan ibu dari belum mengenal apa-apa sampai berwujud sebesar ini. Air mata perlahan jatuh membasahi lengan ibu. Lamunan ku dikejutkan oleh perkataan ibu
“kamu kenapa nak”
ah ibu ini tadi tangan Nani kepegang cabe tak sengaja tangan menyentuh mata Nani. Dengan terburu-buru ku meninggalkan ibu pergi ke dapur.
“bawang merah kalau dikelupas membuat air matah jatuh. Bawang putih ini baunya nempel ke tangan tapi tak menimbulkan air mata yah mungkin ini seperti kehidupan”
Daun bayam perlahan ku patahkan dari batangnya, sisa satu ikat bayam aku terhenti oleh teriakan, ah udah biasa si pemalas mungkin beranjak dari sarangnya. Matanya merah dengan gaya rambut kesetrum mengagetkanku
“masak apa hari ini, ah bayam lagi, udah buatin kopi 1 taruh dikamar ngak pakai lama”
Kukira dia sudah sadar diri dengan perlakuannya selama ini, kerjaannya malas-malasan selalu mengurung diri dikamar
“Tak habis pikir kucing saja malas kalau cuma berdiam kenapa ini malas yang ngak pernah berujung” gumamku sambil merebus air.
Dua kompor aku nyalakan bersama tuk rebusan sayur ibu,
“mungkin cuma hari libur saja aku bisa memanjakan ibu hmm” racikan kopi ku tuang dalam cangkir kecil, aku harus cepat-cepat antar ke kamarnya kalau lama pasti akan ngomel-ngomel.
“kak ini kopinya”
Tak ada tutur kata 1 pun dari mulutnya.
“ibu harus makan banyak ya biar cepat sembuh, sini Nani suapin dengan sayur bayam kesukaan ibu”
Ibu tersenyum melihat aku bawakan sepiring nasi lengkap dengan sayur bayam dan bakwan
“terimakasih ya nak”
hatiku serasa iba melihat ibu mengucapkan kata terimakasih dari bibirnya yang pucat. Ibu tak menghabiskan suapan terakhir ku mungkin dirasa sudah kenyang, aku melanjutkan pekerjaan rumah.
Dimanapun sesosok ibu adalah wanita tangguh, penyabar dalam merawat keluarga. Aku menggantikan pekerjaan ibuku sebagai ibu rumah tangga karena ibu sedang sakit. Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu kepada ibu tapi.. ah sudahlah kurasa bukan waktu yang tepat.
Bapak bekerja dikantor untuk saat ini bapak lembur karena kantor masih ramai. Entah yang dipikiranku hanyalah 1 mengapa di pria pemalas itu tak pernah dimarain sama bapak dan ibu padahal ia selalu bermalas-malasan, kopi adalah sahabat akrab dia. Disisi lain aku merasa iri mengapa aku diperlakukan berbeda, lamunanku terpecah terkagetkan oleh pria itu, wajah yang kucel rambut gondrong badan kekar pantas tak ada wanita yang menghampirinya selayaknya tak memiliki nafsu untuk menjalin ikatan dengan lawan jenis.
Senja sudah mulai nampak, lampu jalan nyala satu per satu, tirai disetiap rumah sudah tak menampakkan wajah tuannya. Ku melihat isi kamarnya aneh tak ada sesuatu yang mencurigakan tapi apa yang membuat ia terus-menerus mengurung diri ditempat istirahat. Pikiranku terus tearah pada kamar itu
“assalamu’alaikum, Nani ngapain kamu dikamar kakak” si bapak membuat aku terkejud
“ah bapak kirain siapa”
Aku berlari ke kamar dan terus memikirkan si kakak. Mungkin aku lelah hingga tergeletak tidur hingga ayam berkokok.
“Nani berangkat dulu” sambil kunyalakan sepeda motor
Hari yang sangat cerah terik matahari juga tak seperti biasanya membuat aku bersemangat mengais upah tak jauh dari kantor bapak.
“krieeeet” aku mendorong pintu kantor
Aneh ditempat pojok terlihat Riska dikerumuni orang banyak, ku perlahan menghampiri mereka yang gaduh menjadi satu kantor. Seorang yang memiliki bakat katanya, tak lepas ku tanya lagi sosok wanita tinggi berdiri depan pintu ah pemimpinku datang seketika mereka semrawut mencari tempatnya.
Hari demi hari ku habiskan dikantor tempat ku mengais rezeki memberi pengalaman dalam hidup pergi pagi pulang petang, rumah hanyalah tempat istirahat semata.
Injakan kaki yang berat, badan lemas dan raut wajah lesu ku tak ingin pulang hanya saja keingat ibu dirumah, ku duduk diatas sepeda melamun sejenak sebenarnya ku tak ingin pulang bertemu manusia gondrong rasanya malas sekali tapi.. ah sudahlah ibu menanti kedatanganku dirumah.
“Ibu Nina pulang” sambil mematikan sepeda
Aku lihat ibu sudah ada didapur rasa lega membasahi tubuhku hingga lelah ku terbawa senyuman manis ibu.
Tak usah menunggu lebaran tiap hari ibu juga masak opor ayam, bumbu khas ibu menggetarkan lidah serasa ingin kusantap semua opor itu.
Lagi-lagi mataku tertuju pada kamar pojok itu lagi kamar yang menyimpan sejuta misteri,
Aku merebahkan badan yang seharian dipompa disitulah ku mulai memikirkan kelakuan si pria itu.
“Tuhan mengapa aku berbeda dengan ia” sambil ku gendong boneka kecil pemberian bapak
Disela-sela istirahat seperti biasa aku dikejutkan oleh suara itu lagi, ah sudah biasa secangkir kopi pahit lengkap dengan camilan. Satu per satu langkahku mendekati kamar itu tapi sungguh ini aneh tak ada sesuatu yang menjanggal sama sekali, mungkin lepas ini dia keluar aku akan masuk kamar ini lagi.
Aku sudah muak melihat pria itu untuk apa dia hidup kalau hanya bermalas-malasan sedang dia pria tak pantas melakukan hal itu, untuk menghidupi keluarga kelak tak pantas sama sekali, tapi mengapa malaikatku tak pernah membentak ia sekalip sungguh dunia ini aneh tak memiliki keadilan sedikitpun.
Apa gunanya tumpukan ini, mungkin semua buku sama saja. Kamar yang suram tak betah ku disana serasa hidup penjara. Tak disangka ku mendengar obrolan singkat bapak bersama ibu. Langkahku membuntuti arah suara itu
“kita sudah berhutang kepadanya, biarkan mungkin Tuhan menakdirkan seperti itu, tapi sebagai orang tua seharusnya kita menasehati dia buk demi kebaikan kedepannya” dengan nada lirih mata bapak tertuju pada ibu
Menurutku memotong pembicaraan orang tua tak pantas dilakukan, alangkah baiknya aku naik saja. Belum sampai kamar ku sudah mendengar kegaduhan lagi. Tuhan kenapa lagi ini
“kalau kamu terus menerus seperti ini, mau jadi apa nantinya masa depanmu panjang, contoh bapak seorang laki-laki harus pekerja keras, Nani saja perempuan tapi dia giat dalam kerja, bapak seperti ini karena bapak sayang kamu nak, selama ini bapak ngediam in kamu karena kamu...”
“sudah pak, mungkin Lana juga berusaha” sahut ibu memberhentikan ucapan bapak.
Tanpa perkataan apapun pria itu beranjak dari kamarnya keluar dengan wajah kesan tak memikirkan penampilan sedikit apapun.
Aku bingung dan terus mikir tapi ku tak berani meluapkan keluhku pada mereka, sebenarnya ini apa? drama apa yang telah terjadi sangat konyol kalau ini sekedar mimpi.
Larut malam pria itu mengetuk pintu rumah tanpa satupun perkataan aku mendengar ketukan itu. Bapak membuka pintu
“Dari mana saja kok baru pulang jam segini”
“Pak aku juga usaha apa yang bapak inginkan, bapak tau sebenarnya aku ini siapa dan bapak juga berjanji kan” sahut si Lana
Semakin ku mendengar perkataan mereka maka ku semakin mikir apa sebenarnya yang terjadi, siapa dalang dari permainan ini.
Pagi itu...
“Kantor libur lagi, mungkin aku harus bangun pagi bantu ibu masak” gumamku lirih
Mulut terbungkam tiap kali kuingin menyakan sesuatu. Mereka juga tak pernah mengeluh keadaan pia muda gondrong.
Seperti biasa membersihkan rumah menjadi pekerjaan wajibku, kali ini semua ruangan aku bersihkan. Nampaknya ibu sedang duduk-duduk santai adem melihat ibu sudah pulih.
Kamar pojok terlebih dahulu aku masuk karena si kakak belum pulang aku membersihkan kamarnya. Hal tak terduga yang kulihat selembar kertas putih dengan cipratan tinta diatasnya tertuliskan surat penerbitan. Aku masi bingung maksud dari surat itu
“ah mungkin ini milik teman-temannya mana mungkin ia mampu membuat seperti ini, ini khayal” Aku tak mengiraukan dengan tetap membersihkan ranjangnya.
“kriiiiiiing” getar suara handphoneku
Riska mengabarkan untuk seluruh pegawai kantor lebih tepatnya sekarang berkumpul dikantor karena ada acara mendadak. Tangan yang masih menggenggam sapu dan kemucing ku lemparkan begitu saja. Bergegas pergi ke kantor dengan modal ganti baju lalu naik sepeda motor.
Teman dikantor sudah berkumpul dan syukur pemimpin masih belum datang. Tak lama kemudian beliau datang dengan mengabarkan sesuatu hal yang penting bagi warga kantor. Usai rapat dadakan masih banyak yang belum pulang, entah mereka mungkin suka dikantor atau menikmati liburan dengan tempat yang sama aku tak mengerti.
“Nan sini” lambaian tangan Riska terarah padaku
Aku ikut berbaur dengannya melihat kehebohan mereka, apa yang dibicarakan hingga mereka kagum seperti ini.
“hebat banget bisa nerbitkan karya sebagus ini” obrolan salah satu dari mereka
Wawan satyo seperti tak asing dengan nama itu, kok aku merasakan ada sedikit kejanggalan. Aku pulang dengan melanjutkan pekerjaanku dirumah yang bertumpuk-tumpuk. Aku mengulanginya lagi dengan masuk kamar kakak melihat surat itu dan ternyata
“nak tolong bersihkan kamar ibu” suara ibu mengagetkanku
Dengan hal yang tak terduga aku melihat surat lagi dalam tumpukan baju bapak. Rasa ingin tahu yang besar ku memberanikan diri menarik kertas itu dalam lemari, aku mengetahui perbuatan ini tidak baik tapi dalam pikiranku serasa ada kejanggalan yang sangat berat.
Dan tertera “Surat keterangan adobsi”
“Oh Tuhan ini jawaban dari obrolan singkat bapak dan ibu waktu itu” aku berdiri dilumuri kekagetan
Sekarang aku mengetahui maksud bapak memiliki hutang itu apa, dan maksud kakak sebenarnya dia siapa mungkin jika tidak ada kakak aku tak akan lahir didunia ini, bapak ibu sengaja tak memberitahuku mungkin mereka tak ingin melihat aku berfikir dan memikirkan semua ini. Surat itu menjadi bukti atas kenyataan ini semua.
Dan ku cepat-cepat berlari ke kamar kakak melihat surat itu lagi dan ternya benar Wawan satyo sang pengarang salah satu karya terbaik.
Selama ini dugaan ku salah besar, pemalas pun tak menghalangi untuk berbuat apa-apa. Aku menyadari bukan hanya orang tua yang memiliki hutang tetapi aku yang lebih berhutang kepada dia.



Comments