Dua Persimpangan (Theresia Santi Dian Irawati)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 18 min read
Teriknya mentari tidak menghalangi semangat para mahasiswa baru siang itu, hari ini adalah hari kedua dari sekian banyak rangkaian acara ospek di kampusku yang belum terlaksana semuanya. Mengingat itu, aku memilih menghemat tenaga untuk beberapa bulan kedepan. Jadwal hari ini adalah ospek fakultas, kuhela nafas dengan berat. Ya, begitulah tidak ada rasa tertarik dengan acara yang seperti ini sejak SMP ditambah lagi aku terminal dua tahun setelah lulus SMK, lebih memilih melanjutkan kerja kala itu. kaki ini melangkah dengan berat dan mulut terkunci sepanjang hari, rasanya ingin hari ini segera berlalu, tenggelam diantara riuh rendah suara mahasiswa baru yang saling berkenalan. Cenderung berisik karena mayoritas perempuan, kurang nyaman ditelinga sampai sesaat kemudian kusadari kalau aku memilih jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, yang itu artinya termasuk kedalam fakultas keguruan.
Berdiri didepan ruangan besar dengan tembok serba hijau muda, dikelilingi jendela berukuran sedang dengan gorden berwarna merah, sesekali berkibar ditiup semilir angin, karpet berwarna hijau tua terbentang hampir memenuhi ruangan itu. Senior BEM didalam memerintah kami semua memasuki ruangan dan berkumpul sesuai jurusan masing-masing, beberapa menit kemudian MC membacakan rangkaian acara yang akan dilalui hari ini, satu persatu acara pembuka selesai hingga sampai pada acara inti yaitu pengenalan fakultas dan pengetahuan umum seputar jurusan yang ada didalamnya. Berlalu dengan membosankan, kaki mulai pegal karena terlalu lama duduk bersila. Sampai kulihat seorang laki-laki maju ke podium, memilih mengambil mic daripada berbicara dibalik podium seperti yang lain. Dia unik, pikirku pertama kali melihat tingkah lakunya.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Selamat pagi adik-adik mahasiswa baru, saya ucapkan selamat untuk kalian yang sudah diterima di universitas ini.” Aku menyimak sambutan yang diberikan, sudah kuduga dia unik, berbeda dari yang lain tanpa perlu sengaja membandingkan itu sudah terlihat dari tingkah laku dan tutur katanya. “Sepurane yo rek aku gak iso orasi, kita bikin nyantai ae. Perkenalkan nama saya Harfi, ketua himpunan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. Jadi disini saya akan memperlihatkan kegiatan yang akan kalian lalui nanti” lanjutnya. Tidak tercipta sekat antara mahasiswa baru dan senior, semua berjalan santai tapi tetap kondusif, dilanjutkan dengan sedikit pertunjukan drama dan pembacaan puisi. Dia berhasil mengalihkan suasana yang kaku dan membosankan, mencipta tawa, meminimalisir uapan yang sedari tadi terdengar. Begitulah dia bisa mencairkan suasana, bahkan ada sisi lain yang sudah mencair disini.
Sepekan setelahnya, kegiatan perkuliahan semester satu dimulai. Semua berjalan seperti biasanya sampai aku menghadiri seminar yang kemudian mempertemukanku kembali dengannya. Lagi-lagi dia yang memberikan sambutan untuk mengawali acara, begitu pula selanjutnya aku dipertemukan kembali di acara ospek jurusan, dan studi kepemimpinan. Sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan, wajar jika dia selalu diminta memberikan sepatah dua patah kata. Ada bagian dari diriku yang terbawa oleh sesuatu, entah olehnya atau hanya suasana. Terlalu dini jika menyimpulkan itu adalah rasa cinta, hari-hari selanjutnya ternyata Tuhan dan semesta punya cara untuk berkali-kali mempertemukan kami. Di perpustakaan, loby kampus, lorong kelas. dan ya, kebanyakan aku bisa bertemu dengannya berkat Ria, teman sekelas yang gercep memberi tahuku jika ada dia didekatnya. Meski setiap dipertemukan tidak ada percakapan sama sekali, hanya memandang sekilas, nyaliku teralu kecil untuk memulai percakapan dengannya.
Ada satu hari dimana dia membuatku berbahagia, saat ku buka instagram dan menemukan namanya di direct message. “Anak HMJ mbak?” dia mengawali. “belum mas, kemarin mau daftar tapi pendaftarannya sudah ditutup.” aku menimpali, kujawab belum karena memang dari awal aku ingin ikut organisasi itu, bukan karena ada dia. “Oalah, ikut aja gapapa. kemarin aku langsung ikut gak pake daftar.” sahutnya. Kemudian aku menjawab “Gapapa ta mas kalo langsung ikut? takutnya beda ketua beda peraturan”. Saat itu dia sudah semester 8 dan sedang menulis skripsi, biasanya setiap organisasi di kampus akan mengalami pergantian ketua oranisasi. Minimal semester 2 untuk ikut organisasi dan akan demisioner pada semester 7 atau 8. “gapopo, selagi aktif.” balasnya. Karena canggung dan bingung harus menjawab apa akhirnya aku memberanikan diri membalas “siap mas, terimakasih.” tentu saja resikonya dia tidak mungkin membalas pesanku lagi, dan benar saja.
Pagi itu setelah kelas pertama selesai aku, Ria dan Adisa pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Baru lima menit kami duduk, dia datang dengan membawa tas kecil yang berisi notes berukuran sedang dan juga pena. Mengisi daftar pengunjung kemudian duduk berseberangan denganku, “Kak.” Ria menyapa dengan ramah. Dia menyambut sapa Ria dengan ramah “Oh iya, kamu yang tanya pas seminar waktu itu ya?” “Iya mas.” jawab Ria singkat sambil tersenyum tipis. Kenapa Ria bisa dengan mudah mengawali pembicaraan dengannya, sangat berlawanan denganku. Semuanya mendadak tidak berjalan sesuai dengan semestinya. Ah, senangnya jika tidak melibatkan perasaan, pikirku. Tak berselang kemudian, seorang perempuan berkulit putih, hidungnya indah, bertatapan tajam, berjalan mendatanginya sambil membawa roti. Semakin dekat wajahnya terlihat manis. Semakin jelas pula aku mengingat wajahnya, Diakah? pacar mas Harfi, yang tidak pernah dipamerkan dimedia sosial. kucoba mengingat-ingat namanya, Irva aku yakin dia orangnya.
“Ira!” Aku menengok kearah suara. “kenapa Ri?” Jawabku singkat. “kenapa kamu dan Adisa tadi tiba-tiba keluar dari perpus?” Tanya Ria. Kemudian kusampaikan hal yang tadi menjadi pertanyaan sekaligus kutemukan sendiri jawabannya dalam benakku. “Kamu tahu darimana kalau dia pacarnya mas Harfi?” Ria menanggapi ceritaku, seolah meyakinkan kalau dugaanku salah. “Ya feeling aja, aku kan pengamat yang baik hehe.” Gurauku, kemudian aku melanjutkan dengan nada sewot “Kalau bukan pacarnya, ngapain harus repot-repot bawain roti buat mas Harfi?”. “Kan bisa saja itu cuma temannya, kamu tuh jangan negthink terus”. Ria menimpali sambil menyenggol lenganku, mengode bahwa saatnya bercanda. “Gak masuk akal ya pernyataanmu itu”. Jawabku uring-uringan. Adisa yang mengerti suasana hatiku segera menengahi, “Eh, udah yuk masuk kelas aja. Tuh kelasnya udah kosong”. Entah kenapa hari itu aku merasa jika udara menjadi lebih panas dari biasanya, baju terasa sesak, dan semua orang terlihat menyebalkan.
Satu tahun setelah kelulusan mas Harfi, aku pun menjalani hari seperti biasa. Bertemu orang baru, dan membuka hati untuk orang baru pula. Ryfan, mahasiswa pecinta alam yang suka mendaki gunung, sedangkan aku lebih suka ke pantai. Anehnya perbedaan itu tidak membuat pertengkaran, kita bisa kompromi mengenai banyak hal, sama-sama mau belajar, dan mau berubah menjadi yang lebih baik. Senang bisa dipertemukan dan menjalani hubungan yang “sehat” dengannya. “Liburan akhir semester ini kita pergi mendaki yuk? Ke gunung semeru mau nggak?” Ajaknya. “Gak salah kamu ngajak aku ke semeru? kan aku baru pertamakali mendaki.” jawabku setengah gusar. “Kan nggak sampe puncak Ra, Cuma sampai ranukumbolo aja.” Ryfan menimpali, “Bukannya kalau pemula harus mendaki gunung yang tidak terlalu tinggi dulu ya?” Sahutku mengawali diskusi diantara kita. “Ra, yang menentukan kamu kuat mendaki gunung itu bukan tentang ketinggian gunungnya, mendaki itu bukan soal urusan puncak aja, tapi ada ego diri sendiri yang akan kita lawan disana, kamu bisa liat petemanan yang sesungguhnya waktu mendaki, ada rasa senang yang gak bisa digambarkan dan gak bisa kamu dapatkan di kota. Dicoba ya? nanti aku yang minta izin ke orangtuamu ”. Itulah yang kusuka darinya, selalu bisa memberi energi positif saat aku mulai ragu dengan diriku sendiri, dan aku menyetujui ajakannya.
Hari yang ditentukan telah tiba. Aku, Ryfan, dan teman-temannya bertemu di rumahku kemudian berangkat menuju pasar Tumpang untuk selanjutnya menyewa mobil jeep menuju basecamp gunung semeru, sesampainya disana kami harus briefing terlebih dahulu mengenai situasi dan tips saat mendaki gunung semeru. “Sebelum melakukan pendakian gunung semeru, marilah kita berdoa terlebih dahulu agar dilancarkan dan selamat dari pergi sampai pulang nanti. Berdoa dimulai”. Ryfan memimpin doa, aku memejamkan mata berdoa hal yang sama dengannya. Selesai berdoa, kami memulai pendakian. “Nanti kalau ada rasa capek atau apapun bilang ya, jangan ditahan sendiri.” Ryfan berjalan disampingku. “Apaan sih baru juga jalan udah bilang gitu. maksud kamu aku nggak kuat mendaki gitu?” Gurauku. “Ya enggak, kebanyakan itu sungkan mau bilang ke temen-temen yang lainnya. Akhirnya pas udah sakit parah baru bilang, malah nyusahin temennya tuh”. Sahutnya sambil bergurau. “Nggak tau lagi ya, kalau misalnya kamu caper biar kuperhatiin, hehe.” Ryfan menambahkan. “Dih ge er banget haha, udah ah jangan bercanda terus! nanti aku cepet haus.” aku tertawa sambil menyikut lengannya. Starting point pendakian kami adalah Ranu Pani, Tumpang. Melewati perkebunan warga dengan jalan beraspal disepanjangnya hingga gerbang akhir di kaki Gunung Semeru. Dari Ranu Pane menuju Landengan Dowo kira-kira memakan waktu 2 jam perjalanan. Dari Landengan Dowo menuju Watu Rejeng pendakian sudah mulai memasuki hutan, disini sudah mulai terasa dingin meskipun tidak sampai membuat tubuh menggigil.
Limabelas menit pertama adalah sebuah penyesalan, jalur pendakian semakin menanjak, ditambah lagi aku mendaki saat musim kemarau sehingga jalur yang dilalui menjadi berdebu. “Istirahat dulu ya mas.” Aku berkata sambil menepi “Oke, tapi cuma 2 menit ya. Kalau setiap berhenti kamu istirahatnya lama, yang ada nanti malah males buat jalan lagi, jadi meding istirahat berkali-kali tapi waktunya pendek-pendek.” Ryfan menjawab keluhanku. “Huh, iya.” Jawabku singkat sambil menghela nafas panjang kemudian melanjutkan perjalanan. Sambil berjalan aku bertanya kepada Ryfan “Kok kamu sama temen-temenmu biasa ya? nggak kayak kecapekan.” “Kalau dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo bagi yang udah biasa mendaki, treknya belum terlalu berat Ra.” Timpalnya. “Oh, ngomong-ngomong kok dari tadi aku ngerasa mual ya? kamu ngerasain juga nggak?” Lagi-lagi mengeluh, pikirku kesal. “Hehe, wajar kok kalau pertamakali mendaki. Nih sambil jalan ngemil ini aja.” Jawab Ryfan sambil mengeluarkan madu dari dalam tas kecilnya. Sepajang perjalanan kami banyak bercerita, bergurau, bertukar pikiran, berhenti sebentar karena permintaanku, berjalan lagi, menyapa pendaki lain yang baru turun dari puncak, tidak jarang pendaki lain yang menyemangati dengan bilang “Ayo, tinggal didepan lagi”. Padahal tujuan kita masih jauh, aku mulai merasakan apa yang Ryfan katakan saat mengajakku mendaki, menyenangkan sekali.
Selama kurang lebih 2 jam dari Watu Rejeng, akhirnya kami tiba di Ranu Kumbolo. Saat kulihat jam dihandphone menunjukkan pukul 16.45, waktu yang pas karena hari ini cerah sehingga bisa dipastikan kalau aku bisa melihat sunset disini. Hamparan rumput yang hijau dengan danau alami tergenang ditengah-tengahnya, ditambah lagi udara sejuk yang berhembus menerpa wajah, aku memejamkan mata sambil tersenyum, menyadari bahwa Sang Pencipta menciptakan tempat seindah ini, membuatku merasa bersyukur dilahirkan di Negeri yang banyak memiliki surga tersembunyi. “Sudah kubilang, ada rasa senang yang gak bisa kamu dapatkan ditempat lain. Yang hanya bisa kamu dapatkan di alam.” Bisik Ryfan sambil memandang wajahku, aku tersenyum sambil menjawab “Terimakasih ya, sudah membawaku kesini.” “Fan, Ira! kita mendirikan tenda disini aja ya!” Teriak salah satu teman Ryfan. Setelah mendirikan tenda, aku duduk didepan tenda memandangi langit berwarna jingga kemerahan yang masih membuatku terpana. “Jadi gimana, kapok mendaki?” Ryfan mendekat sambil membawakanku teh hangat. “Sepertinya enggak, karena lelahku digantikan dengan pemandangan ini, terimakasih.” Jawabku sambil menerima teh hangat yang dibawakannya. “Berjanjilah untuk gak ragu ke gunung saat kamu mulai jenuh.” Ryfan menimpali, yang kemudian kulanjutkan “Ngapain harus janji segala sih? kan kita bisa mendaki bar..” “Maksudku meski tanpa aku.” Ryfan memotong.
Liburan telah usai, aku kuliah seperti biasanya. Tugas-tugas mulai berdatangan seolah tidak terima melihat pikiranku yang kembali segar setelah berlibur. “Cie yang habis mendaki sama mamas Ryfan.” Goda Adisa yang duduk disebelahku. “Cie yang liburan nonton melulu” Godaku balik. “Ah enaknya punya pacar yang bisa ngajak jalan-jalan ke tempat yang indah. Terus mana nih fotonya kok gak upload diinstagram?” Tanya Adisa antusias. “Aduh.. seandainya kamu tau, alam terlalu indah jika Cuma dinikmati dengan jepret sana sini. Mangkannya ajakin pacarmu ke alam, kalau nonton aja sih, dirumah juga bisa.” Godaku, disambut bibir Adisa yang manyun kesal. “Ra, Disa yuk kita ke perpus. Tugas sudah meronta minta dikerjakan” Ajak Ria yang baru keluar dari ruang dosen, kami mengangguk mengiyakan. Sesampainya di perpus kami mulai membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas. “Jeda perkuliahan hari ini masih lama kan?” Aku bertanya. “Iya, sampai nanti jam 2 siang.” Jawab Adisa, disusul tangannya menyikut lenganku sambil berbisik “Mas Harfi mu tuh.” Aku memandangnya sekilas kemudian langsung menunduk sebelum matanya menangkap pandangannku. Tak disangka, dia mengangguk menyapa kami bertiga. “Boleh duduk sini?” Dia menarik kursi kosong disebelahku. “boleh, silahkan.” Jawabku. Ira, tetap tenang jangan melakukan hal konyol, jangan salah tingkah, dia sudah punya pacar dan kamu sudah punya Ryfan. kataku dalam hati.
“Bulan lalu sepertinya aku ketemu kamu di Ranu Kumbolo.” Mas Harfi mengawali pembicaraan. “O ya? kok nggak nyapa?” jawabku canggung. “Waktu itu jaraknya lumayan jauh, ngomong-ngomong kesana sama pacarmu?” Tanyanya lagi, yang langsung kubalas “Iya, sama teman-temannya juga.” “Oh, waktu itu aku ngecamp disana habis dari puncak.” Dia bercerita. “Sama mbak Irva juga?” Pertanyaan bodoh yang kusesali kemudian, apa urusannya kalau dia dengan mbak Irva? kan dia pacarnya, pikirku. “Haha justru aku kesana ingin memulihkan cidera hati.” Jawabnya sambil tertawa masam. Aku terdiam sambil mencerna maksud perkataannya tadi. “Sudah lulus kok masih kesini mas? hehe.” Aku mengalihkan pembicaran, “Iya, ada beberapa hal yang harus diurus.” Jawabnya. Kita kembali terdiam, aku memandang laptop, tapi pikiranku ada diluar itu. “Balik sekarang yuk.” Ajak Adisa membuyarkan lamunanku. “Saya duluan ya mas, mari.” Pamitku sambil merapikan kursi kembali. “Oh iya dek, hati-hati ya.” Jawabnya ramah. Selama berjalan menuju kelas kedua temanku tidak berhenti bertanya sambil menggodaku, “Cie habis ngobrol sama pujaan hati, ngobrol apa aja sih tadi?” Goda Ria, yang dilanjutkan Adisa “Dia minta nomer Whatsapp nggak? terus kamu kasih dong? iyakan? Iya dong? masa enggak dikasih haha.” Mereka berdua tertawa lepas, sedangkan aku masih memikirkan maksud ucapan mas Harfi tadi. Apakah mereka berdua sudah berakhir? kenapa aku jadi penasaran sih? Padahal kan itu bukan urusanku.
Hari ini sangat melelahkan, 3 matakuliah dengan jeda yang cukup panjang. Selepas adzan magrib dosen psikolinguistik mengakhiri pertemuan hari ini. Aku, Adisa, dan Ria berjalan keluar kelas, ketika kulihat handphone ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan masuk. Tertulis disana “Mama Mas Ryfan”, membuat perasaanku tidak enak. “tunggu.” Kataku membuat kedua temanku berhenti berjalan. “Nak, Ryfan masuk rumah sakit. Kondisinya sekarang kritis, tadi siang maag akutnya kambuh. Kamu kalau nggak sibuk kesini ya nak, dia mencari kamu daritadi. Ini alamat rumah sakitnya.” Kakiku lunglai membaca pesan itu, tidak ada yang bisa kukatakan lagi, jantungku berdebar, aliran darahku terasa panas, air mata mengalir perlahan. “Ra, kamu kenapa ra? Ra? kok nangis. Jangan bikin panik dong Ra.” Mereka berdua menepikanku ke gazebo, Ria mengambil handphone dari tanganku. “Ra, yang sabar ya. Ayo aku anter ke rumah sakit, kamu gak boleh bawa kendaraan sendiri.” Ajak Ria, sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, Ya Tuhan jagalah Pria yang bersamaku selama ini, yang mengajarkanku banyak hal dalam kebaikan, doaku dalam hati. Malam itu aku berada disamping mas Ryfan, menggenggam tangannya erat berharap dia membuka matanya. “Mas, aku disini. Maaf, tadi aku nggak lihat handphone sama sekali. Maafin aku mas, maafin kebiasaan burukku yang gak pernah ngaktifin handphone waktu kuliah. Kamu cepet pulih ya, semua disini sayang kamu.” Kataku lirih.
“Hai, dari semalem kamu disini?” Tanya Ryfan sambil mengelus lembut kepalaku. “Kamu udah bangun?” Jawabku senang bercampur haru. “Kamu nggak ada kelas?” Tanyanya lagi. “Enggak, hari ini gak ada kelas.” Aku berbohong, karena jika tidak, dia pasti akan marah dan menyuruhku berangkat kuliah. “Ra, masih inget janji kita kan?” Suaranya lirih, tidak seperti biasanya. “Janji yang mana?” Jawabku pura-pura lupa. “Hehe aku tau kamu bukan pelupa.” Dia menimpali sambil bercanda. “Kamu sehat terus ya, jangan telat makan, kalau ngerjain tugas jangan sampai pagi buta, ngejar impian boleh tapi jangan lupa kalau dirimu sendiri juga perlu bahagia, jangan cengeng, jangan lupa bahagia.” Lanjutnya. “Kamu apaan sih, habis ini kamu pasti sembuh. terus nanti kita mendaki bareng lagi ya, banyak gunung yang belum kita daki kan? nanti gantian kamu yang aku ajakin main ke pantai. Udah ya gak boleh ngomong kayak gitu lagi, kamu gak mau pergi kemana-mana kok.” Mataku terasa panas, seperti akan ada yang meledak dari dalam. Tapi tertahan karena disisi lain harus tersenyum didepannya. “Nak, tolong ambilkan obat ini ya.” Ibu Mas Ryfan meminta bantuan sambil menyodorkan secarik kertas kepadaku. Sekembalinya, saat hendak masuk ke kamar Ryfan, ibunya mencegah didepan pintu dengan memelukku sambil terisak. “Tuhan, jangan jadikan obrolanku tadi adalah yang terakhir kali dengannya”. Kataku dalam hati menguatkan diri sendiri.
“Ryfan sudah pulang nak.” Kata ibunya, tangisnya pecah disusul dengan tangisku. Tidak ada yang memimpikan hari ini akan terjadi, rasa sakit yang kami rasakan menembus inti hati masing-masing. Ada seorang ibu yang harus kehilangan anaknya, seorang ayah yang kehilangan kebanggaannya, seorang adik yang kehilangan kakak sekaligus teman bermainnya, dan seorang perempuan yang hampir 2 tahun bersama dan berbahagia dipertemukan dengannya. Ryfan, memang sudah sakit maag akut sejak lama. Tapi dia orang yang kuat, daripada dikasihani dia lebih memilih melakukan tindakan agar dia bisa sehat. Kondisi tubuhnya sempat membaik, tapi beberapa bulan terakhir semakin menurun. Hari ini aku tidak bicara sama sekali, bahkan sudah kehabisan kata untuk sekadar menyemangati diri sendiri, pikiranku seolah membuka album lama dari awal kita bertemu, memutar kembali momen-momen kita berdua. Tangis yang tadinya bersuara perlahan menjadi sunyi, terasa lebih menyakitkan di dada karena harus menahan banyak hal. Para tamu menguatkan kami, tapi akhirnya hanya sebagai penenang sesaat. Sekarang aku mengerti alasan mengapa saat takziah aku lebih memilih memeluk keluarga yang ditinggalkan tanpa mengatakan apa-apa, kadang perkataan mereka yang mencoba menenangkan malah mericuhkan suasana hati yang sedang hancur. Selamat jalan kesayangan, surga menunggumu disana.
Satu minggu setelah kepergianmu, aku baru memberanikan diri melanjutkan hidupku kembali. Sesampainya dikelas, beberapa teman memelukku tanpa berbicara apa-apa. Sepertinya kedua temanku sudah memberitahu kepada mereka hal yang tidak kusuka, ingatanku ada bersamamu dan akan selalu begitu. kutarik nafas dalam-dalam, bisakah hidup ini berlanjut diantara tempat yang selalu ada kita disana? Entahlah. “Ra, ada pameran buku dan lukisan di café langganan kita nih. Kesana yuk?” Ajak Ria antusias. “Tumben nggak mikirin tugas? biasanya kamu yang paling gak sempat buat begituan.” Godaku. “Ayolah Ra, mumpung besok kita ada kelas siang. Kamu kan suka liat lukisan yang artsy gitu.” Imbuh Adisa. sebenarnya enggan sekali datang ke pameran untuk saat ini, tapi inilah usaha mereka berdua agar aku tidak terlarut dalam kesedihan. “Oke deh, boleh. Habis pulang kuliah langsung berangkat ya.” Sahutku. Pemandangan sore hari selalu punya daya tarik tersendiri, kami tiba di pameran. Belum banyak pengunjung yang datang, hanya ada beberapa orang didalam. Kulangkahkan kaki kedalam, berjalan perlahan mencoba menikmati lukisan yang ada didepan mata meski tak bisa, semua terasa hambar. Kedua temanku memilih melihat-lihat pameran buku terlebih dahulu diruangan yang berbeda, aku menuju kesana. Mataku menyelisik keberadaan mereka tapi tidak ada, “Ah, biarlah. ada banyak buku disini yang mungkin bisa menenangkan pikiran daripada memandangi lukisan yang kebanyakan naturalis, membuatku semakin teringat dengan Ryfan.” Pikirku.
Puas melihat-lihat buku dan membeli sebuah buku aku menuju café yang terletak diruangan lainnya, mencari tempat duduk yang nyaman untuk membaca buku. Pilihan jatuh disudut ruangan yang menghadap keluar ruangan, dibatasi jendela kaca besar, memantulkan cahaya lampu berwarna kuning dari luar. “Man teman, aku ada di café ya. Duduk di pojok ruangan dekat jendela kaca yang biasanya.” Pesan kukirim digrup whatsapp kami. “Silahkan, mau pesan apa mbak?” Pelayan menawarkan. “Yang biasanya aja mas, masa lupa? hehe” Jawabku. “Oh jus alpukat, gulanya dikit kan mbak?” Pelayan itu menebak dengan jitu, dikarenakan kami bertiga sering pergi kesini. Aku mulai membuka halaman pertama dari buku itu, sampai halaman kelima dikejutkan kehadiran seorang pria. “Disforia Inersia, Wira Nagara. Boleh duduk disini?” Ternyata Harfi yang datang. “Boleh, silahkan.” Jawabku singkat sambil tersenyum tipis. “Sudah baca bukunya Wira yang Distilasi Alkena?” Dia mengawali pembicaraan. “Belum, aku kebetulan jatuh cinta waktu membaca sinopsisnya.” Sahutku, setelah lama tenggelam dalam buku masing-masing. Dia memanggil namaku pelan “Ra, turut berduka cita ya.” “iya mas, makasih. Tapi tau darimana?” Jawabku setelah terdiam beberapa saat. “Aku tau dia, wakil ketua ekstrakurikuler pecinta alam.” Harfi menimpali, tapi tidak kutanggapi pernyataannya. Sepertinya dia mengerti bahwa aku tidak memperbolehkan dia membahas lebih jauh lagi tentang Ryfan. “Loh ada mas Harfi tho disini?” Sapa Adisa memecah kecanggungan diantara kita berdua. “Sudah lama mas?” Sahut Ria, kemudian dibalas Harfi “Ya, lumayan lah. Yuk gabung sini.”
2 jam berlalu dengan tukar pendapat, bergurau, membahas isu terkini, sampai bermain game membuat kami lupa waktu. “Pulang yuk, udah jam setengah sembilan nih.” Aku mengingatkan kedua temanku. “Iyadeh yuk, perempuan gak boleh pulang malem-malem.” Gurau Ria. “Siaaap Bu Haji. Hahaha”. Serempak aku dan Adisa menimpali. Sesampainya di rumah saat akan tidur, ada pesan masuk dari nomor asing. “Ira?” “Iya, ini siapa?” Balasku. “Aku Harfi, maaf ganggu waktu istirahatnya.” balasnya 2 menit kemudian. “Dapat nomorku dari siapa?” Balasku singkat. “Dari Ria temanmu, maaf lancang tadi mau minta langsung ke kamu takut kesannya gak sopan.” Balasnya kemudian. “Oh, iya gak papa.” Sengaja kupersingkat karena aku tidak ingin obrolan ini semakin jauh. Enam bulan setelah kepergianmu, semua berjalan dengan semestinya meskipun masih ada sesuatu yang sesak memenuhi dada. Setidaknya sudah sedikit ringan karena sudah tidak ada pernyataan turut berduka cita, yang membuat sedih berkepanjangan. Selama itu pula aku merasa Harfi mencoba mendekatiku, caranya tidak membuatku risih karena dia tidak menggunakan modus dan gombalan yang dilakukan oleh pria pada umunya. Kita banyak bertukar pikiran, tidak jarang pula berdebat membahas sesuatu, tapi dari situ aku jadi mengerti bahwa dia berwawasan luas tapi tidak merasa paling pintar dari lawan bicaranya. “Hari sabtu sibuk nggak?” Katanya mengawali pembicaraan. “Enggak, kenapa?” Jawabku. “Orangtuaku pengen berlibur ke pantai, kamu ikut ya? Orangtuaku setuju untuk mengajakmu juga.” Perkataanya membuatku terdiam cukup lama dan tersipu. “Orangtuamu tau aku?” sahutku. “Ya tentu saja, aku mengenalkanmu ke orangtuaku dan mereka suka mendengar cerita tentang kamu.” Jawabnya.
Hari ini aku akan pergi ke pantai, tapi rasanya seperti hendak pergi ke undangan pernikahan. Semua baju yang kumiliki rasanya tidak ada yang bagus untuk sekadar dipakai pergi ke pantai. Mobil Harfi sampai didepan rumah, kulihat dia dan kedua orangtuanya turun dari mobil kemudian mengetuk pintu rumahku yang disambut oleh ibuku dari dalam. “Assalamualaikum bu, saya minta izin mau ngajak Ira pergi ke pantai sama orangtua saya juga.” Pinta Harfi. “Oh iya, sebentar ya Ira nya masih di kamar.” Mendengar suara ibuku aku bergegas turun menemui Harfi lalu pamit ke Ibu. Sesampainya di pantai aku berlari kecil menuju tepi pantai yang disusul Harfi dibelakang. “Aku belum pernah liat kamu sebahagia ini.” Kata Harfi memandangiku. “Aku senang ke pantai dari kecil, coba deh rasain. mataharinya terik tapi disaat yang sama anginnya semilir menyejukkan, disaat yang sama juga kamu bisa dengerin deburan ombak yang menenangkan telinga, melihat birunya air laut. Menurutku ini adalah kombinasi yang pas banget.” Jawabku. Tak lama kemudian wajahnya menjadi murung, dan melanjutkan ceritanya “Irva memilih meninggalkan aku yang dirawat di rumah sakit. Dia pergi tanpa alasan.” Aku mencoba menenangkan “Sabar, yang terbaik akan datang diwaktu yang tepat bukan diwaktu yang cepat. Mungkin kamu harus menemui orang yang tidak tepat dulu sebelum dipertemukan dengan orang yang tepat.” “Aku boleh nggak nemuin ayah sama ibumu? aku ingin melamarmu.” Aku mematung mendengar perkataannya, secepat itukah dia memilihku? Aku bahagia, tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. 3 tahun dia bersama dengan Irva, bukan waktu yang sebentar bagi mereka. Pasti ada banyak suka duka yang mereka lalui. Benarkah keputusanku dengan menerima lamarannya?
“Harfi, Ira! sini yuk makan dulu.” Ajak ibunya sambil meneriaki kita yang ada ditepi pantai disusul anggukan kepala tanda mengerti ajakan itu. Aku membantu ibu mas Harfi menata piring dimeja, mengeluarkan nasi dan lauk pauk yang sudah dibawa dari rumah. “Ayo dimakan ya, jangan sungkan-sungkan. Ibu tadi cuma memasak ikan bakar dan udang goreng tepung aja, mau masak yang kuah-kuah tapi takut nanti tumpah.” Ibu Harfi bercerita sambil menuangkan nasi kepiring untuk suaminya. “Nggak apa-apa bu, ini juga udah enak banget.” Jawabku sambil menuangkan nasi dan lauk untuk mas Harfi. “Gimana fi, kamu udah bilang yang semalem?” Ibunya mengode, dan langsung kuketahui apa maksudnya. “Sudah bu hehe.” Dia menjawab dengan sumringah. “Wah.. terus Ira gimana? Mau nggak jadi menantu ibu?” Ibunya menimpali, yang kujawab sambil tersenyum “Insyaallah bu, saya mau.”. “Alhamdulillah, kalau gitu seminggu lagi ibu sekeluarga bisa dateng ke rumahmu ya?” Tanyanya antusias. “Iya bu, saya sampaikan dulu ke ibu saya.” Sore ini berakhir dengan makan dipinggir pantai dibumbui dengan candaan yang ringan. Ternyata orangtua Harfi sangat terbuka padaku, kami berbincang banyak hal dan dari situ aku mengetahui jika mas Harfi mirip kedua orangtuanya, suka membahas banyak hal, cara pandangnya luas tapi tidak membatasi pendapat orang lain. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan dan mencari apa yang menganjal dalam hati ini. Belum pernah aku memiliki perasaan yang seperti dua sisi mata uang, bahagia tapi terasa ada yang aneh. “Tuhan, kutitipkan masa depan dan apapun yang akan terjadi didepan. Berikan jalan yang terbaik untukku.” Doaku dalam hati menutup perjalanan pulang.
Seminggu kemudian, hari yang dijanjikan terjadi. Rombongan keluarga mas Harfi datang kerumah untuk lamaran dan pertunangan, perasaan yang campur aduk semua menimpaku. Sangat bahagia, terharu, masih tidak percaya jika aku dipersatukan dengan pria yang kutemui pertamakali saat ospek, tutur kata dan tingkah lakunya berhasil membawa bagian dari diriku, disisi lain rasa aneh itu terus mengikutiku. “Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan dunia dan segala isinya, tapi satu yang bisa kujanjikan untukmu jika setiap lika-liku jalan, curamnya tebing, hujan badai pun akulah yang akan tepat berada disebelahmu, menggenggam tanganmu, bersama melalui itu semua. Ira Sasmitha, menualah berdua denganku.” Ucap Harfi. “Gimana mbak Ira, diterima?” Ucap pembawa acara. “Jika ayah dan ibu mengizinkan, insyaallah diterima.” Jawabku sambil tersenyum disusul tepuk tangan meriah keluarga besar kita berdua, ada juga kedua temanku yang datang. Kita sepakat untuk tidak mengundang semua teman saat pertunangan, hanya ada beberapa sahabat saja yang diundang. Banyak ucapan selamat yang masuk dan doa semoga lancar sampai hari H, tentunya setelah acara lamaran dan pertunangan itu kita berdua disibukkan dengan persiapan pernikahan. Mulai dari memesan catering, mencari jasa WO yang sesuai dengan kebutuhan, foto prewed, mencari gedung yang cocok dengan budget yang ada, mengurus berkas ke KUA, memilih undangan dan itu semua dibarengi dengan aku yang sedang menulis skripsi.Untungnya mas Harfi bisa diajak kerjasama, sehingga urusan ini terasa sedikit ringan. Tiga bulan kemudian persiapan pernikahan sudah hampir 95% selesai, undangan juga sudah disebar, tinggal pelaksanaan acara pernikahan kami, aku semakin optimis jika dia adalah jodoh yang memang ditujukan untukku.
Tiga minggu sebelum hari H, dia bekerja di Surabaya. Mas Harfi menjadi orang yang berbeda, hanya pulang 3 hari dalam seminggu, menjadi sangat sibuk dari biasanya, tidak pernah memberi kabar sama sekali bahkan tidak pernah pamit jika akan pergi, bisa dibilang dia hanya bisa perhatian dan asik pada saat libur, tapi menjelang hari kerja dia akan berubah menjadi dingin lalu menghilang tanpa alasan tanpa kabar. Hari ini kebetulan ada keperluan di Surabaya, aku berencana mampir ke studio tempatnya bekerja, sesampainya disana aku bertemu dengan temannya, kemudian aku bertanya “Mas Harfi ada di kantor?” “Emm.. Ada mbak diatas.” Jawab temannya dengan raut wajah gelisah. Tanpa ada firasat apa-apa aku langsung naik menemuinya, barang kali ada di studio. Belum masuk kedalam studio, aku melihatnya ada di balkon. Tunggu, seperti ada yang aneh. Dia berdiri menghadap keluar tapi aku melihat rambut sebahu diterpa semilir angin tepat berada didepan mas Harfi. Seperti ada jutaan aliran listrik yang menyengat tubuhku, kuberanikan diri melihatnya dari dekat. Tepat disampingnya aku melihat wajah perempuan itu, dia Irva yang sedang dipeluk Harfi dari belakang. Tak terbendung lagi air mata yang dari tadi sudah tertahan, Harfi yang menyadari kehadiranku seketika melepaskan pelukannya.
“Kenapa? kaget ya ada aku disini.” Seraya menepis tangannya dariku, sekuat tenaga aku menahan air mata ini. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang yang mengejikan ini. “Ra, tunggu biar aku jelasin. semua gak kayak yang kamu pikirin.” Kalimat klise yang biasanya terjadi di sinetron ketika seorang pria ketahuan selingkuh, tidak kupercaya adegan itu terjadi sekarang. “Emangnya apa yang ada dipikiranku?” jawabku menahan emosi. “Ra, maafin aku. Nanti kita selesaikan ya, kamu masih emosi sekarang.” Katanya sambil berusaha menenangkan tapi aku enggan membiarkan tanganku diraihnya. “Aku gak mau, selesaikan sekarang atau jangan pernah kamu tunjukkan mukamu itu didepanku!” Suaraku meninggi. “Penghianat termanis, kembali ke dia dan berbahagialah dengannya. Kalian berdua cocok, sama gilanya.” lanjutku sinis. “Ra, jangan gitu. Kita kan mau nikah” panggilnya mencegahku pergi, aku berbalik badan sebelum meninggalkannya “Masih punya muka kamu bicara pernikahan didepanku? Ganti namanya diundangan, biar dia yang pakai baju pernikahanku, ambil cincinku dan pakaikan ke jarinya. Menyedihkan kalian berdua!” Dia hanya tertunduk diam membiarkanku pergi. Sepanjang perjalanan pulang aku menangis sejadi-jadinya, rupanya seperti ini rasa sakit akibat penghianatan, masih belum kupercaya jika rasa sakit yang teramat ini diberikan dari orang yang wajahnya tidak berpotensi bisa menyakiti, Seketika juga rasa aneh itu menghilang berubah menjadi kelegaan, ternyata ini yang kucari selama ini dan sudah kutemukan jawabnya.
“Mama, papa!! kenalin ini temenku namanya Rio. Dia belum dijemput sama ayahnya, aku nemenin dia dulu ya.”
“Pa, kamu jagain dulu ya, aku mau beliin es krim dulu buat mereka berdua.”
Seorang laki-laki datang memanggil anaknya, Rio. Ternyata ayah anak itu adalah mas Harfi. Tiga tahun setelah kejadian itu aku dipertemukan dan menikah dengan suamiku. Ada seseorang yang lebih baik, yang tidak banyak berjanji tapi juga tidak pergi meninggalkan. Pada akhirnya luka pasti sembuh dibasuh waktu, tapi prinsip tabur-tuai memang benar adanya. Harfi bercerai dengan Irva diusia pernikahan ke-1.



Comments