top of page

Harta Terindah (Arina Dwi Iswahyuni)

Banyak orang iri kepadanya, pintar, cantik, baik, rajin, kaya dan lain-lain. Namanya Gania Seva Keysabrina siswa kelas 10 di SMA Intan Permata. Dia merupakan anak tunggal dari pengusaha interior ternama di kota Jakarta. Meski hidupnya terlihat sempurna namun orang-orang belum tahu bagaimana kehidupan Gania yang sebenarnya. Karena kesibukan kedua orang tuannya membuat Gania tidak terlalu diperhatikan, hidup orang tuanya seperti hanya untuk bekerja bekerja dan bekerja saja, jarang sekali mereka mengobrol, sekalinya mengobrol ada saja klien yang menelfon, bagi Gania hal itu sagat megganggu quality time bersama keluargaya, meski terkadang Dia merasa sedih namun Gania juga sadar bahwa yang dilakukan kedua orang tuanya juga untuk kebaikan dirinya sendiri.

Pagi ini dia memulai aktivitasnya sebagai siswa pergi ke sekolah dan mengikuti upacara bendera setiap hari senin. Setelah selesai megkuti kegiatan rutn tersebut Gania dan temannya yang bernama Finka kembali ke kelas menuggu guru datang ke kelas. Sembari menunggu, Gania dan Finka megobrol di bangkunya yang berada di nomor dua dari depan.

“Gania aku mau cerita nih, kemarin aku di ajak ayah sama ibuku ke suatu tempat yang indah sekali, aku sebenarnya hanya bercanda saja ingin kesana, tetapi mereka tau sebenarnya aku memang ingin pergi kesana”

“beruntung sekali Fin kamu punya orang tua seperti mereka, mereka tahu apa yang kamu inginkan”

“iya, aku sayang sekali kepada mereka, aku tak menyangka meskipun sibuk mereka masih ada waktu untukku”

“iya Fin perhatian sekali orang tuamu” timpal gania sedikit merasa iri dengan apa yang diceritakan oleh teman sebangkunya itu

“kalau kamu Gania bagaimana libur akhir pekanmu kemarin?”

“akhir pekanku tidak ada yang berbeda dari hari biasanya”

Mendengar Finka bercerita satu hal yang ada di benaku, andaikan saja orang tuaku seperti itu pasti aku merasa mejadi anak paling beruntung yang telah diciptakan Tuhan di muka bumi ini.Tak lama kemudian Bu Nia guru mata pelajaran Bahasa Indonesia datang ke kelas dan mulai pembelajaran hari ini.

Sudah menjadi kebiasaan Gania setiap hari senin selalu pulang petang karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Gania memutuskan untuk naik bus karena sopir pribadinya tidak bisa menjemput. Hujan mulai membasahi bumi dan hari semakin petang. Kini Gania berada di halte bus yang berada di depan sekolah berharap masih ada bus terakhir yang akan datang. Di halte tidak hanya Gania seorang, melainkan ada laki-laki paruh baya yang setengah mengantuk, serta wanita yang sedari tadi menggandeng anak kecil perempuan yang bisa di perkiraan itu adalah anaknya. Beberapa menit kemudian, bus terakhir telah datang, segera Ia langkahkan kaki memasuki bus tersebut. Suasana di dalam tampaklah sunyi, tinggal beberapa penumpang saja yang tampak kelelahan, begitupun gadis bernama lengakap Gania Seva Keysabrina itu. Ia amati keadaan sekitar, matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang duduk tepat di belakang sopir, kemungkinan umurnya sepantaran dengannya. Kepalanya selalu menunduk, berpakaian serba hitam, dengan topi yang melekat dikepalanya membuat laki-laki itu terlihat misterius. Hingga tiba di halte pemberhentian, Gania segera turun dari bus, Ia menoleh ke samping dan ternyata laki-laki misterius itupun juga turun. Ia berjalan menjauhi Gadis berwajah oval itu dan hendak menyebrang dijalan yang ramai. Ditengah jalan, laki-laki misterius itu menoleh kebelakang ke arah Gania, lalu tersenyum manis. Sungguh belum pernah Ia setakjub itu pada senyuman seseorang khususya kaum adam. Meski dari luar dia terlihat misterius, namun senyumannya mampu meluluhkan hati. Tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup kencang.

Brukk

Gania terpental jauh. Tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan seperti mati rasa. Cairan merah pekat terus mengalir dari dalam tubuhnya. Dia sangat lemas, dan terdengar banyak orang bicara

"segera panggil ambulan kasihan dia" teriak bapak-bapak

"saya sudah menelfon ambulan, mereka akan segera datang" teriak bapak-bapak lainnya

Terdengar suara-suara yang tidak Ia kenal, dengan keadaanya yang seperti itu namuan Ia masih saja memikirkan laki-laki itu, bagaimana nasibnya? Apakah dia selamat?. Dan hingga samar-samar Gania mendengar suara seperti bisikan sebelum matanya terpejam sempurna.

"lekaslah mati" bisikan itu membuatnya merinding. Dan penglihatannya pun juga sudah gelap

Gania berjalan di lorong gelap. Ia terus berjalan tak tentu arah. Dimana ini? Apa aku sedang bermimpi? Dia terus berpikir akhir-akhir ini mimpinya memang aneh.

"matilah"

"matilah"

Dia terkejut mendengarkan kata itu lagi. Dilihatya keseluruh penjuru tak ada siapapun. Sebenarnya siapa dia? Apa dia Tuhan? Jadi apa aku sudah mati

"kau siapa?" tanpa takut Dia bertanya. Namun tak ada jawaban.

“Gania acuhkan suara itu dan kembali berjalan”. Gania mulai ketakutan, disini tidak ada satupun benda juga tidak ada tembok pembatas. Setelah beberapa waktu terus berjalan, Gadis cantik itu melihat secercah cahaya diujung sana.

"akhirnya" batinnya merasa senang

Tanpa ragu Dia terus melangkah ke arah cahaya. Hingga tiba disana, Dia seperti berada diruangan lain. Apalagi ini?Ruangan ini tak ada apapun disana, kosong. Diapun terus berjalan, meskipun sudah lama berjalan tapi tidak pernah Ia rasakan lelah. Kemudian suara lembut itu muncul kembali.

"ikutlah denganku, Gania" suaranya mirip wanita

"kenapa dia tau namaku? Bagaimana bisa?" batinnya

"Ayo ikutlah denganku, Gania"

"Tidak. Tunjukkan wujudmu. Siapa kau?

Hening beberapa waktu hingga suara wanita itu kembali terdengar.

"aku adalah malaikatmu, jadi ikutlah denganku Gania"

"aku tidak akan ikut denganmu, aku akan pulang. Orang tua ku pasti sedang mencariku"

"mereka bahkan sudah tak perduli denganmu, Untuk apa kau kembali kepada mereka? Sekarang mereka mencampakkanmu, mereka melupakanmu. Mereka hanya memikirkan pekerjaannya. Untuk iku ikutlah denganku, kau akan bahagia"

"mereka perduli denganku, mereka menyayangiku seperti aku menyayangi mereka”.

Gania mengernyit tak suka. Siapa dia berani memerintahku? Dia bukan Tuhan. Di mimpi sebelumya Dia hanya diam dan berpikir. Namun sekarang Dia sudah muak. Dia menghiraukan ucapan suara itu dan melanjutkan langkah kakinya yang tak tahu arah dan mencoba menutup telinga agar tak terdengar suara wanita yang mengaku bahwa wanita tadi adalah malaikat, meskipun itu tidak berhasil. Gania terus mencari jalan keluar agar bisa keluar dari tempat aneh itu. Hingga akhirnya Dia menemukan sebuah pintu kayu yang pendek. Gania yakin bahwa pintu itu adalah pintu yang bisa membawanya dia kembali ke dunia dan berkumpul bersama orang tuannya. Dia mencoba membukanya dengan berbagai cara namun tidak bisa. Gania terus berpikir bagaiamana cara membuka pintu tersebut. Matanya terpejam memikirkan cara. Hingga dirinya teringat akan sosok Orang yang Ia rindukan. Dia teringat pada masa kecilnya yang bahagia dimana sang Ibu selalu mengajarkan banyak hal, ketika Dia sakit dengan telaten sang Ibu selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan meskipun keadaan ekonomi keluargaya pada titik terendah ayahnya selalu menyisakkan uang hasil jerih payahnya bekerja selama satu bulan untuk dibelikan hadiah kepada puti semata wayangnya itu, karena dimata Ayahya Gania adalah putri cantik yang bisa menjadi obat penyembuh rasa lelah ketika pulang kerja. Meski pada nyatanya akhir-akhir ini mereka sangatlah sibuk. pekerjaan kantor sang Ayah sangat menumpuk, begitu juga butik Ibunya yang kian hari kian ramai dikunjungi oleh para pelanggannya. Gadis berusia 17 tahun itu seperti terlupakan tak diurus oleh kedua orangtuanya. Tapi Dia tahu, mereka sangat menyayanginya. Dia ingin kembali bersama mereka.Tak terasa air mata kerinduan itu telah mengucur keseluruh pipi Gania.

Krekk

Suara gesekan berdecit tubuhnya seakan tertarik ke dimensi lain.

Gania mencoba untuk mengerjapkan matanya dan menyesuaikan dengan cahaya. Diruang serba putih dengan bau khas obat-obatan yang kini menyeruak kedalam penciumannya.

“bagaimana bisa aku disini” Ternyata, kini Dia sedang berada di rumah sakit setelah kecelakaan pada saat itu.

“Dimana Ayah dan Ibu? Kenapa aku sendirian? Apa mereka benar-benar tidak sayang aku?

Lamunan itu seketika buyar ketika Dia menoleh dan mendapati sosok laki-laki yang tampak tidak asing dimatanya..

“kau?” tanya Gania

“iya ini aku, laki-laki yang sudah kau selamatkan nyawanya ”

“kenapa kau disini?

“karena aku sedang mengincarmu”

“maksudmu?”

“kenapa kau menyelamatkanku, kenapa kau tidak membiarkanku mati saja hahh, aku sudah muak hidup didunia ini”

“maksudmu?” Gania tak paham dengan apa yang sedang dibicarakan laki-laki misterius itu

“’kau tau, dunia ini kejam tak ada orang yang perduli denganmu, lebih baik mati saja, kau baru akan mendapatkan ketenangan disana”

“tidakk, kau salah..banyak orang yang perduli denganku, aku tidak ingin mati sebelum aku bisa membagiakan kedua orang tuaku”.

Tiba-tiba saja Gania terkejut dengan apa yang sudah terjadi. Pisau tajam sudah menancap tepat diperut Gania, Ia merintih kesakitan. Apa yag telah diperbuat laik-laki ini? mengapa dia melakukaknnya padaku?

“terimakasih sudah menyelamatkanku. Kau sangat bodoh. Ini adalah hadiah ku untukmu, sebuah kematian” ucapnya tersenyum senang seraya menggertakkan gigi nan putih itu.

“a-appa-ya-ng-kau—lakukan?” Ucapku lirih dengan rasa penuh ketakutan

Ia yang melihat ini malah ketawa semakin keras. Hingga berulang kali dia melakukannya lalu beralih ke tangan Gania, dipotongnya semua ujung tangan gadis cantk itu, sungguh ini sangat menyakitkan. Tuhan bantu aku dia adalah Psikopat.

“arghh”

Kini darah Gania sudah terkuras habis. Dia sudah tak tahan hingga semua sudah hening dan gelap.

Tuhan, apakah aku sudah mati?Jika iya Tuhan Tolong jaga kedua orang tuaku dan sayangi mereka selalu.

*

“Tidakkk” Gania menjerit sekuat tenaga. Nafasnya sudah tak berarturan lagi serta keringat megucur dikeningnya.

Tok.tok.tok

Seketika Dia kaget siapa yang mengetuk pintu itu? Gania sedang ketakutan sekarang.

“Gania Seva Keysabrina, bangun nak. Kamu tidak ingin telat sekolah kan?” ucap ibu dari balik pintu

Gania bernafas lega mendengarnya, ternyata itu adalah suara dari sang Ibu. Dia sungguh Ibu, meski sibuk, Ia masih mau membangunkan gadis remajanya agar tidak terlambat ke sekolah, masih memasakkan sarapan, dan banyak hal lagi perhatian darinya.

“iya Ibu, aku sudah bangun” jawab Gania

Aku masih tegang, tapi bisa bernafas lega. Tenang Gania tadi hanyalah mimpi, mimpi hanyalah bunga tidur.

Sudah menjadi kebiasaan di rumah Gania setiap pagi selalu sarapan sebelum memulai aktivitas. Namun pemandangan dipagi hari ini tampak berbeda tidak seperti biasanya.

“Gania ayo cepat sarapan, nanti kamu telat loh” Ucap Ibu

“Iya iya ini Gania sudah siap Ibu” jawab Gania menuruni anak tangga seraya merapikan dasi yang dikenakan .

“Ibu sama Ayah kok belum berangkat kerja?”

“sengaja, biar Ayah bisa melihat wajah putri semata wayang Ayah ini”

“Ayah..tumben sekali”

“Oh iya, kamu kan minggu depan sudah mulai libur sekolah, rencananya Ayah mau ajak kamu liburan sekeluarga, sudah lama juga kan kita tidak liburan bersama. Bagaimana kamu setuju tidak?

Tanpa basa-basi lagi Gania langsung menjawab

“setujuuu..setuju sekali Ayah”

“semangat sekali kamu Gania ehehe, sudah-sudah sekarang kamu sarapan dulu, biar tidak terlambat ke sekolah, kamu tidak mau kan kalau dihukum sama guru BK karena terlambat” celoteh Ibu

“Siap Ibuku sayang”

“Oh iya, Ayah..Ibu...Gania boleh berbicara sesuatu tidak”

“Tentu boleh nak, ada apa?” tanya Ayah

“Gania sayang sekali sama Ayah dan Ibu, Gania berharap setiap hari momen-momen seperti ini terus ada tidak hanya hari ini saja, karena kebahagiaan Gania yang sesungguhnya adalah bisa merasakan kebersamaan bersama ayah dan Ibu”

Penuturan Gania membuat Ayah dan Ibunya merasa bersalah kepada putri tercintanya itu, karena kesibukan bekerja membuat mereka kurang ada waktu untuk berkumpul bersama hanya sekedar untuk bersedau gurau.

“Ibu minta maaf Gania, Ibu selalu sibuk degan pekerjaan ibu, ibu juga jarang sekali menemanimu dirumah, Ibu janji setelah ini Ibu akan megurangi pekerjaan Ibu”

Kata Ibu sambil memeluk Gania dengan tangis rasa bersalah. .

“Ayah juga minta maaf Gania, sebagai Ayah dan juga kepala rumah tangga belum bisa menjadi pemimpin yang baik buat keluarga kecil ini”

“Ishhh kenapa jadi sedih begini suasananya, kan harusnya kita senang. Ayah dan Ibu tidak bersalah toh kalian bekerja juga untukku kan”

“Dan sekarang ayah baru sadar ternyata putri kecil Ayah dan Ibu sudah tumbuh menjadi remaja yang pintar”

“Iya dong Yah”

Waktu berjalan begitu cepat, Setelah sarapan selesai, kini Gania menuju ke sekolah di antar oleh supir pribadinya, tentu dengan perasaan yang tak dapat diucapkan lagi degan kata-kata. Sungguh inilah yang diinginan seorang Gania selama ini, bukan harta melimpah ataupun fasilitas serba mewah, namun arti kebersamaan bersama orang-orang yang disayangnya... sebuah keluarga.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page