Kembali (Dikki Reza Fahlevi)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 9 min read
Ini kami para pedagang dari desa Ura, desa yang dihimpit oleh dua bukit besar dan satu gunung. Bertepat enam bulan setelah kami berkeliling ke setiap pasar yang ada di penjuru daerah, berpindah dari satu tempat ketempat lainnya. Daratan dan bahkan lautan, disambut dengan musim-musim yang entah itu akan menghambat perjalanan atau tidak. Berharap akan tiba, pada akhirnya kami tiba dipusat penjualan terbesar di negeri ini, yaitu pasar Singgi shina. Tempat nya para pedagang dan pembeli dari penjuru daerah.pada akhirnya kami sampai ditempat itu.
Penjualan hari ini cukup laku, pembeli dari berbagai daerah berkumpul jadi satu di pasar singhishina. Pasar singhishina merupakan pasar terbesar dan penjualan terlengkap di negeri ini. Pasar ini tidak hanya di huni oleh para penduduk dari daerah ku saja, tetapi dari berbagai penjuru datang kesini untuk berjualan. Mulai dari pakaian, gandum, dan berbagai barang lainnya, bahkan hewan pun dijual disini. Aku tidak berjualan sendiri, melainkan bersama paman ku. Kami berjualan gandum, buah, dan berbagai bahan makanan lainnya.
Dua hari sudah kami berjualan di Singgi shina. Bangunan-bangunan tinggi ini merupakan tempat yang dihuni oleh para pejabat-pejabat di negeri ini pikirku. Paman sedang berdiskusi dengan para pedagang lainnya, entah mediskusikan perihal apa, aku disuruh untuk tetap di tenda. Hari ini merupakan hari libur untuk berdagang, untuk mengisi kebosananku aku dengan berlatih memanah. Kami tidak hanya berdagang tetapi kami juga memoersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan saat perjalanan.
Mengambil potongan kayu yang ada didekat tenda dan ku berdirikan tegak. Mengambil tujuh langkah kebelakang, mengambil satu anak panah, siap dengan fokus yang maksimal aku mulai membidik kayu itu. Aku mengincar bolongan yang berada ditengah kayu itu, menarik nafas kulepaskan anak panah itu. Yap amak panah itu menancap tepat dilubang, bukan lubang yang berada di tengah tetapi lubang yang di atas nya.
Sungguh sangat dramatis, lubang yang berada ditengah itu tidak bisa kubidik dengan benar. Aku mengulangi nya kembali, Mengambil tujuh langkah kebelakang, mengambil satu anak panah, siap dengan fokus yang maksimal aku mulai membidik kayu itu. Aku mengincar bolongan yang berada ditengah kayu itu, menarik nafas kulepaskan anak panah itu. Yap, tepat seperti yang ku inginkan, anak panah itu menancap berada di tengah ;lubang kayu itu. Bukan lubang di atasnya tetapi lubang yang berada di tengah kayu itu. Ku dekati dan ternyata tebus hingga belakang, sungguh terkejut terheran-heran mengapa bisa tembus.
Aku mencoba kembali dengan langkah yang sama, tetapi kali ini dengan tiga anak panah. Ku tarik tali panahku dan mulai berkonsentrasi untuk membidik kayu itu, kali ini membidik kayu itu keseluruhan, dan menancapkan anak panah itu berjejer tiga. Kubidik dan kusiap kan untuk membidik kayu itu.
“Tara!!” paman memangil ku dengan kaget.
Saat kefokusan ku mecapai maksimal, paman malah memanggil ku. Aku pun mendatangi paman ke tenda. Kulihat paman dengan raut muka yang sedang banyak pikiran.
“iya paman gober” sautku
“cepat kemaskan barang dagangan kita, kita akan pulang hari ini” jawab paman dengan terburu-buru
“mengapa, kita pulang sekarang paman, sedangkan dagangan kita masih cukup untuk dijual ke tempat selanjutnya” ujarku dengan tidak percaya.
“para kawanan itu akan bermigrasi, jika kita tidak cepat maka harus ada yang dikorbankan” jawab paman.
Aku masih bertanya-tanya, mengapa kita harus kembali ke desa sekarang, sedangkan barang dagangan masih bisa untuk dijual di satu tempat lagi. Dan paman tadi berkata bahwa para kawanan itu akan bermigrasi, siapa para kawanan itu, belum sempat bertanya, aku langsung mengemasi barang dagangan sambil membantu paman.
Ditengah-tengah itu terdengar suara dari tengah-tengah tenda para rombongan pedagang. Suara nya keras,lantang, dengan sedikit agak serak. Itu adalah pimpinan rombongan sekaligus kepala desa di daerah ku. Itu adalah Tara-rana sebutannya di desa.
‘wahai para penduduk ku, kemaskan barang dagangan kalian, kita akan kembali ke desa hari ini. Perjalanan dimulai saat matahari terbenam” sebut Tara-rana dengan suara yang keras.
Para rombongan yang lain pun sekilas bingung karena ini merupakan pengumuman yang mendadak menurut mereka. Dengan penuh kebingungan salah satu penduduk bertanya
“wahai Tara-rana, mengapa kita harus kembali sekarang juga, sedangkan barang dagangan kami masih belum habis”
“jika kita tidak pergi sekarang, hal yang dulu akan terulang kembali, para rombongan itu akan bermigrasi. Menurut mata elang meraka akan lewat sini dan jalur pulang kita yaitu Sambaragu” kata Tara-rana
Para penduduk mendadak kaget dan tidak percaya. Aku sebelumnya pernah diceritakan paman, para pedagang terdahulu pernah melakukan perdagangan dengan cara berkelana ketempat-tempat yang jauh. Tetapi pada suatu saat hal yang tak terduga datang menghampiri mereka. Sekawanan hewan entah bagaimana bentuk nya muncul secara tiba-tiba saat para pedagang itu hendak melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Dengan ganasnya mereka merusak barang-barang dagangan yang dibawa. Dan bahkan mereka rela membunuh para pedagang itu. Maka dari itu para penduduk tadi seperti tidak percaya, kejadian terdahulu harus datang kembali di era mereka sekarang.
“sekarang cepat kemaskan barang-barang kalian, kita akan langsung berangkat saat matahari mulai terbenam” himabu Tara-rana
Waktu semakian beejalan ditengah ketegangan, awan-awan saling berkejaran. Matahari mulai turun dan menurun,. Warna jingga mulai menyelimuti ujung-ujung langit. Waktu inilah perjalanan kembali kami dimulai dengan dipimpin oleh Tara-rana dan paman Gober. Kata Tara-rana tujuan pertama kita adalah menemui mata elang di perbukitan berpasir dan mata elang lah yang akan menuntun jalan kami kembali ke desa.
Menurut cerita yang kudengar dari paman, mata elang adalah anak buah dar Tana-rana atau bisa dibilang prajurit hebat dan merupakan penduduk desa sama seperti kami. dan menurut cerita yang kudengar dari paman ia sangat hebat dalam menggunakan pedang, dan yang memberitahu akan adanya para kawanan itu ialah mata elang. Menurut ku mata elang ialah mata-mata yang ditugaskan dalam mengawasi perjalanan kami saat perdagangan. Aku penasaran dengan orang itu.
Suara dengung terompet yang ditiup oleh Hiliup yang merupakan wakil pimpinan rombongan perjalanan ini. Kuda dan unta yang kami naiki siap untuk berjalanan, menggunakan obor untuk menerangi perjalanan ini. Perjalanan kembali kali ini ditemani sepi dan tegang. Sepi karena suasana malam hari ini dengan sejuta bintang yang berada dilangit malam ini. Perasaan tegang justru seperti dirasakan oleh paman Gober. Dengan raut wajah yang penuh waspada ataupun bingung, entah apa yang dipikirkan paman.
“hai paman, apa yang sedang engkau cemaskan?” tegur ku
“tidak, entah mengapa sepertinya ada yang mengganjal pikiranku, Tana-rana bilang para kawanan itu akan melintasi tempat berkemah kita tadi, tetapi mereka bergerak ketika kabut mulai keliahatan. Sedangakan tempat berkemah dan selama perjalanan kita ini, tidak ada kabut sama sekali” begitulah pikir paman.
“kalau begitu, aku akan berjaga disisi bagian kanan” jawab ku
“baiklah, kalau menemukan atau melihat hal-hal yang aneh, langsung beritahu aku” kata paman
Aku memutuskan untuk berjaga disisi bagian kanan rombongan ini. Rombongan kami tidak begitu panjang, jadi aku bisa melihat keseluruhan rombongan ini dari depan hingga belakang pada sisi kanan. Sejauh ini perjalanan kami masih lancar dan tidak ada hambatan apapun. Malam terus berlarut dan bulan semakin naik hingga mencapai puncak nya.
Enam jam perjalanan kami akhirnya mencapai di perbukitan berpasir. Tana-rana bilang kami akan menemui mata elang di perbukitan berpasir ini. Entah dimana ia berada kami tidak menemukan siapapun disini
“wahai mata elang, kami sudah sampai disini” teriak Tana-rana.
Suara teriakan nya berdengung diantara perbukitan ini. Satu jam berlalu kami menunggu, mata elang tidak memperlihatkan wujudnya. Tana-rana pikir ia sudah duluan untuk ke sambaragu. Tana-rana kembali mengintruksikan kami untuk kembali melanjukan perjalanan. Seperti namanya pebukitan berpasir. Tempat ini dikelilingi perbukitan dengan tanah yang berpasir.
Dengan angin yang cukup deras menghembus pasir-pasir yang berada dibawah nya. Membuat perjalanan kami sedikit terhambat. Dengan menggunakan penutup kepala agar pasir-pasir ini tidak memasuki mata. Saat perjalanan sedang berlanjut, seekor kuda yang berada ditengah barisan tumbang tanpa sebab. Ternyata penunggang dan kudanya sama-sama terjatuh. Aku pun mendatangi kuda tersebut dan membatu penunggang nya.
“hei sauadara apa yang terjadi?. Sadarlah” tegurku.
Suasana padang pasir ini semakin tidak bersahabat. Angin semakin kencang berhembus dan pasir semakin tebal berterbangan. Aku semakin tidak bisa meliat sekeliling. Entah dimana para rombongan, apa sudah berada didepan atau dimana. Aku semakin tidak bisa berpikir. Aku pun memutuskan untuk mengangkat pemuda ini dan menaruhnya di kuda ku, untuk kuda pemuda ini sudah sadar dan bisa berdiri kembali. Aku pun menuntun kuda ini dan lanjut untuk menyusul para rombingan.
Jarak pandang semakin sempit, aku tidak bisa melihat kedepan, tetapi aku tetap memacu kudaku kedepan. Entah mengapa kesadaran ku mulai berkurang. Mataku semakin rabun. Tiba- tiba ada sesuatu yang menghantam ke arah kepalaku entah apa itu, tetapi itu membantuku. Berkat itu kesadaran ku mulai kembali.
Dengan terus kedepan aku melihat cahaya yang berada di depan. seperi apa dugaan ku itu adalah para rombongan. Dengan kesadaran yang kurang. Akhirnya aku sampai di ujung padang pasir ini dan rerumputan hujau mulai mewarnai sebagian tanah ini.
“apa yang terjadi, mengapa engkau tertinggal dibelkang?” tegur paman kepadaku.
Dengan nada yang setengah tergepuh-gepuh “saat ditengah perjalanan aku menemukan pemuda ini tanpa sadar terjatuh bersama kudanya, jadi aku memutuskan menaruhnya di kuda ku sambil menntun kudanya.”
“itu pasti karena ia terlalu banyak menghirup pasir ini, karena pasir ini mengandung sebuan racun yang bisa membuat orang yang menghirupnya terlalu banyak kehilangan kesadarannya”. Jelas paman
Itulah mengapa aku tadi sempat kehilangan kesadaran ku, ternyata pasir ini mengandung racun atau apalah itu. Tana-rana langsung mengusaplan air ke arah wajah pemuda itu dan seketika pemuda itu sadarkan diri.
“wahai Tana-rana terimaksih sudah menyelamatkan ku” ujar pemuda itu
Dengan nada yang lembut Tana-rana menjawab “jangan berterimakasih kepadaku, berterima kasihlah kepada pemuda pemberani ini. Ialah yang sudah menyelamatkan mu.”
“terimakasih wahai tuan, karena telah menyelamatkanku, kali ini aku akan lebih berhati-hati.” Jawab pemuda itu.
“iya, sama-sama” jawab ku kepada pemuda itu.
“baiklah, tujuan kita yang terakhir ialah Samabaragu, entah apa yang akan kita temui selanjutnya disana. Kita akan tetap melanjutkan perjalanan kita” himbau Tana-rana
Perjalanan kembali dilanjutkan, tujuan kali ini hutan sambaragu, yang katanya penuh misteri didalam nya. Karena kehidupan di hutan itu seperti tidak bisa diperkirakan, dan kami juga belum bertemu dengan mata elang, entah dimana ia sekarang.
Dua jam perjalanan, dengan suasana yang mendung tidak terkena matahari. Perjalanan masih tetap berlanjut, penuh kewaspadaan kami tiba di hutan Sambaragu. Tidak seperti yang ku bayangkan hutan ini diselimuti kabut. Entah bagaimana bisa, sedangkan saat perjalanan kami setelah melewati buki berpasir tidak ada kabut sama sekali apa karena kemisteriusan tempat ini.
Kami memasuki hutan ini, dengan suara yang hening. Entah mengapa hutan ini nampak berbeda. karna suara-suara hewan-hewan kecil tak bersuara ini. Ditengah perjalanan tiba seekor rusa dengan tanduk yang besar, tidak hanya tanduk nya tetapi juga badannya yang berukuran besar, lewat didepan kami. Tana-rana menghimbau untuk tidak terlalu gugup karena rusa ini hanya kebetulan lewat dengan kawanan nya.
Baru saja Tana-rana menghimbau untuk tidak gugup karena kedatangan rusa tersebut, tiba-tiba sauara auman yang sangat kencang berbunyi entah darimana, mengisi keseluruhan hutan ini. Suasana mendadak tegang
“itu mereka, mereka berada dihutan ini” ujar Tana-rana.
“apakah kita harus bertemu mereka dihutan ini di tempat seperti ini, sungguh tidak terduga” jawab paman Gober dengan nada santai.
Dengan nada tegas Tana-rana menghimbau kepada para rombongan.” Cepat siapkan alat tempur kalian, entah ada apa yang menunggu kita di ujung hutan ini”
Dengan sigap para rombongan mempersiapkan alat tempur yang mereka miliki. Aku siap dengan panah ku dan paman siap dengan pedang nya yang mengilap. Sedangkan Tana-rana dengan pedang dan panah sekaligus ia gunakan.
Rombongan kembali melanjutkan perjalanan saat diskusi sebelum keberangkatan paman berkata, jikan ingin keluar dari hutan itu, cukup dengan mengikuti jalan utama saja tetapi entah ada apa yang ada dibalik pohon atau disekliling jalan itu, karena kiri kanan hutan ini bahkan sekeliling hutan ini diselimuti oleh kabut.
Suara keras tiba-tiba terdengar dari arah kanan rombongan, “itu suara pohon jatuh” ujar paman
Ya itu seperti suara pohon jatuh dan suara itu terdengar dua kali, bahkan berkali-kali. Entah apa yang membuat pohon-pohon itu jatuh dengan bersama-sama, paman mendatangi sumber bunyi itu. Paman kembali dan memberitahukan bahwa, pohon itu tumbang akibat tabrakan hewan. Aku semakin bingung hewan apa yang bisa membuat pohon itu jatu berbarengan.
Dengan sangat terkejut suara aungan besar berbunyi dari arah depan kami, kami siap dengan peralatan kami. dengan sangat cepat hewan itu muncul dan menabrak gerobak barang yang berada di tengah. Dengan sangat tekejut nya ukuran hewan itu sama seperti rusa yang kutemukan tadi. Dengan tanduk nya yang tajam dan mata yang merah,, tidak hanya satu mereka sangat banyak dari segala penjuru hutan ini.
Dengan sangat sigap Tana-rana langsung mengambil anak panah nya dan memanah hewan itu.
“tembak para wildebis itu” perintah Tana-rana
Akhirnya aku mengetahui nama hewan itu, hewan itu ialah wildebis. Tana-rana menarik tiga anak panah nya dan melepaskan nya sekaligus. Dengan serangan mendadak dari Tana-rana satu wildebis tumbang dengan mudahnya. Aku juga ikut mempersiapkan diri. Kali ini aku mempunya jurus memanah yang baru, ujung anak panahku kutambahkan api dari obor-obor yang menjadi penerang jalan dengan sangat terkejut aku berhasil mengenai mata dari salah satu wildebis itu.
Dengan suasana yang genting ini, Tana-rana mengimbau kepada para rombongan untuk tetap jalan dan mengikuti jalan utama ini. Saat perjalanan dimulai satu wildebis datang dengan sangat cepat dan mulai meyeruduk Unta yang berada dibarisan depan. dengan sangat cepat juga paman Gober menebaskan pedang nya ke leher wildebis itu. Kali ini berbeda.
“awas arah depan kalian”teriak paman
Tiba tiba dari arah yang berkabut dibagian depan muncul dua ekor wildebis yang siap dengan tanduk tajam nan panjang nya. Para pedagang berteriak, para wildebis itu sangat cepat. Dengan tidak kasat mata dua ekor wildebis itu langsung terpelanting ke kiri dan kanan entah apa yang membuat mereka bisa terpelanting sejauh itu. Dan teryata sesosok orang denga kuda berwarna putih itu yang membuat mereka terpelanting ke depan.
Orang itu adalah si mata elang dengan dua pedang nya ia berhasil melumpuhkan dua woldebis itu.
“wahai mata elang dari mana saja kau?” tanya Tana-rana
“maaf Tana-rana, aku harus mengikuti jejak mereka, mereka sampai lebih dahulu dari pada aku saat di tebing berpasir, jadi aku mengikuti mereka dan sampai di hutan ini. Disini merupakan daerah kawanan mereka, kita tidak akan mampu melawan mereka dengan peralatan dan daya tenpur yang minim.” Ujar mata elang
“lantas bagaimana caramu kali ini untuk meyelamatkan para rombongan ini” tanya Tana-rana
Dengan memacu kudanya mata elang langsung menunjukan jalan ke arah yang aman, agar tidak terkena langsung dengan para rombongan wildebis yang kejam ini. Dengan melewati ke arah bukit yang lebih tinggi dan kabut yang mulai meninpis, pada akhirnya kami sampai di tempat yang terkena cahaya, kami berada di ujung bukit Sambaragu.
Dengan sangat terkejut nya aku melihat kebawah kabut itu sangat tebal dan hutan yang berada dibawah kami tadi tidak kelihatan dan ini seperti lautan kabut yang tebal. Mata elang kemudian menunjukan jalan yang aman untuk menuju ke desa secara langsung tanpa harus bertemu dengan hambatan apapaun.
Pada akhirnya kami menemukan sebuah jalan yang berada diatas bukit, dan bukit itu langsung tehubung dengan perbukitan berpasir, jadi kami tidak lagi harus melewati pasir yang beracun itu. Semua jalan ini berkat mata elang ialah yang menemukan jalan tembusan ini.
Pada akhirnya para pedagang yang akan melintas untuk menempuh pengmbaraan, tidak perlu khawatir dengan para wildebis ataupun pasir-pasir yang beracun itu.



Comments