Kotak Musik Yang Hilang (Novita Hidayatun Nisa)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 5 min read
Ibarat sebuah pensil, aku pasti telah diraut runcing kemudian patah. Kemudian diraut runcing lagi, kemudian patah lagi. Ibarat sebuah pensil, aku pasti sudah menjadi pendek sekali, tinggal bagian ujungnya. Namun, bedanya pensil itu setelah pendek dan dirasa sudah tidak bisa digunakan lagi, dia langsung dibuang begitu saja. Dan diganti dengan yang baru. Tapi tidak denganku, ketika aku sudah dirasa tidak lagi berguna. Apakah ada yang dengan mudah membuangku? Tidak semudah itu.
Aku Aileen. Dan aku orang yang kuat.
Pagi ini, keluarga kami mengemas barang-barang inti yang akan dibawa ke rumah baru. Kami akan pindah ke rumah baru. Kata Ibu, rumah yang ini sudah sangat tua dan banyak sesuatu yang dirasa mistis. Ibu memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih nyaman. Kebetulan, aku dan kakak-kakakku setuju dengan keputusan Ibu.
Aku tinggal bersama Ibu dan ketiga kakakku, tanpa Ayah. Sudah tiga tahun berlalu sejak terbakarnya perusahaan Ayah, dan Ayah berada di dalam ruangan itu. Ayah terjebak diruangan itu, sehingga dia tidak bisa diselamatkan. Walaupun tanpa seorang laki-laki di keluarga, kami tidak pantang menyerah dan selalu optimis dalam menjalani hidup dengan baik. Ketiga kakak perempuanku memiliki karakter yang berbeda.. Kakakku yang pertama bernama Ayse, dia paling tua diantara kami. Dia sangat manja dan sangat ketus kepadaku. Yang kedua bernama Aysu, dia perempuan tulen. Dia lemah lembut dan sangat menyanyangiku. Yang ketiga bernama Aishel, dia orang yang paling cerewet setelah Ibuku. Dibandingkan dengan kakak-kakakku, aku Si bungsu orang yang paling kuat.
Kami telah sampai di rumah baru. Ibu segera menyuruh kami menata barang pribadi masing-masing, karena pembantu kami masih dalam perjalanan kesini. Meskipun begitu, Ibu sendiri segera membereskan barang-barang miliknya.
“Aiih, siapa yang lihat kotak musik kakak yang dulu diberikan oleh Ayah?” Kak Aysu menghampiriku dengan tertatih.
“Aku tidak melihatnya kak, memang diletakkan dimana?” Aku menggeleng seadanya.
“Sebenarnya sudah hilang sejak tiga hari yang lalu di rumah lama tepatnya di kamar kakak” Kak Aysu menjelaskan.
“KENAPA BARU BILANG SEKARANG?” Aku meninggi, bagi kami pemberian dari ayah sangat berharga dan tidak boleh dihilangkan.
Kak Aysu buru-buru membekap erat mulutku agar tidak bersuara keras. Dia meringis, “Kakak pikir akan ada yang menemukannya sebelum kita pindah rumah.”
Aku melepaskan tangannya dari mulutku, “Lalu, apa yang kakak inginkan dariku?”
“Temani kakak ke rumah lama untuk mencarinya.”
Buru-buru aku berteriak, “TIDAK AKAN!” namun dia merengek seolah bayi yang ditinggal Ibunya mencuci piring, sedangkan ia menunggu sarapan bubur.
“Ayolah Ai, hanya kamu yang paling berani diantara kami. Tidak mungkin aku mengajak kak Ayse, sedangkan melihat cicak saja dia takut.” Kali ini tatapannya serius. Aku berpikir sejenak untuk mempertimbangkan ajakan kak Aysu.
“Ibu bilang rumah itu mistis, dan kak Aishel pun pernah melihat sesuatu yang melayang sendiri secara tidak wajar di rumah itu.”
“Kakak tau… tapi tidakkah kamu berpikir bahwa kotak musik pemberian Ayah itu sangat penting dari semua kejadian itu? Kakak sudah berjanji pada Ayah, bahwa kakak tidak akan menghilangkan kotak musik itu. Dan kalaupun hilang, kakak berjanji akan mencarinya dimanapun kotak itu berada pokoknya harus dicari sampai dapat.”
“Tapi kakak sendiri yang menghilangkannya bukan?” Aku menyangkal.
“Aku berani sumpah Ai, aku meletakkan kotak itu selalu di bawah bantalku agar sebelum tidur aku bisa memainkannya.”
“Lantas kenapa tiba-tiba hilang?”
“Sepertinya ada yang membukan pintu kamarku tanpa seijinku.”
“Ada yang mau es krim?” kami terkejut melihat kak Aishel masuk membawa es krim kerucut bermacam rasa. Dia telah menghentikan percakapanku dengan kak Aysu yang mulai memanas (seperti air yang sudah matang, heheheheee).
Kami menanggapinya dengan seceria mungkin, agar dia tidak curiga atas apa yang kami bicarakan. Hingga dia keluar dari kamarku.
Akhirnya kak Aysu berhasil membujukku. Aku mau menemaninya ke rumah lama untuk mencari kotak musik itu. Mau tidak mau itu tetap saja pemberian Ayah, dan disisi lain kak Aysu telah berjanji akan mencarinya jika barang itu hilang. Aku tidak keberatan mencarinya, besok pagi aku dan kak Aysu akan pergi ke rumah lama.
Keesokan harinya, aku dan kak Aysu naik angkutan umum untuk pergi ke rumah lama. Kami tidak sempat ijin pada Ibu karena dia berangkat ke kantor pagi sekali. Kami hanya membawa satu ransel kecil di punggung. Sesampainya disana, ketika kami akan membuka pintu gerbang rumah. Kak Aysu mengambil handphone yang berbunyi dari sakunya. Dia seolah mengisyaratkan “tunggu, ada yang telpon” kepadaku. Akhirnya, aku menunggu kak Aysu sedang bicara dengan seseorang yang menelponnya. Lambat laun aku mendengar kak Aysu bicara,
“Ada apa kak Ayse menelpon? Aku sedang darurat sekali.”
“Umm.., aku.., aku sedang berada di rumah lama bersama Aileen. Kotak musik pemberian Ayah hilang.”
“Apa kak? Kakak tidak bercanda kan?”
“Tidak mungkin Aileen mengambilnya, dia anak yang baik.”
“Aku tidak salah dengarkan? Kotak itu ada dilemarinya?”
Setelah beberapa kata berikutnya aku tidak mendengar lagi. Lantas aku bersikap biasa agar tidak disangka menguping. Kak Aysu memandangku dengan wajah ketus, dia bilang “kita pulang sekarang!”
Aku tidak mengerti apa yang telah kak Aysu dengar dari telepon tadi. Yang jelas, aku tahu yang menelponnya adalah kak Ayse. Aku menuruti kemauan kak Aysu, kami kembali ke rumah baru.
Sesampainya di rumah, kak Aysu langsung berlari masuk dan memanggil-manggil nama kak Ayse. Kak Ayse menyambutnya di depan kamarku. Dia tersenyum sinis padaku, “Adik kesayanganmu mencuri kotak musik itu.” Dia membuka pintu kamarku dan membuka pintu lemariku dengan kasar. Aku tidak menyangka ternyata kotak musik kak Aysu, melanjutkan “Lihat Aysu, adik yang selalu kau sayangi ternyata seorang pencuri.”
Aku terkejut, menahan marah. Kak Aysu menatapku seakan tidak percaya. Aku sama sekali tidak tahu perihal kotak musik milik kak Aysu.
“Kenapa tiba-tiba jadi begini? Sejak kapan kotak musik itu ada di lemariku? Dan aku sendiri tidak pernah melihat bahkan menyentuh kotak musik itu? Aku tahu itu milik kak Aysu, tapi aku sama sekali tidak pernah meminjam apalagi mengambilnya. Kenapa kak Ayse menuduhku?” Gumamku.
Aku tahu sejak dulu kak Ayse membenciku. Disaat kelahiranku semua orang sangat antusias tidak sabar ingin aku segera hadir di tengah-tengah mereka. Saat di USG aku akan terlahir sebagai seorang laki-laki. Namun, saat tiba kelahiranku ternyata aku lahir sebagai seorang perempuan. Hal itu yang membuat kak Ayse kecewa, yang ia inginkan kehadiran sosok adik laki-laki di kelurganya. Sejak kecil kak Ayse tidak pernah menyayangiku dan ia selalu membuat masalah kepadaku. Akan tetapi, Ibu dan Ayah selalu membela dan menyayangiku. Sehingga itu yang membuat kak Ayse semakin benci dan iri kepadaku. Lantas membuat masalah yang sebesar ini, seolah-olah aku biang masalah dari setiap kejadian. Aku pernah dituduh memecahkan piring, membakar berkas Ibu, meracuni kucing peliharaan kami, dan lain-lain. Namun itu tidak separah ini, sekarang kak Ayse menuduhku seorang pencuri. Padahal dikeluarga kami, kami sangat anti terhadap pencuri.
Kak Aishel menelpon Ibu setelah ia mendengar kami bertengkar hebat, pembantu kami pun ikut panik melihat majikannya berdebat.
“Aku tidak mencurinya! Aku bersumpah!” aku berteriak di depan muka kak Ayse.
“HAHAHAA! Kecil-kecil berani meneriaki kakak sendiri! Ngaku saja bodoh!” dia tertawa sinis.
Kak Ayse mengambil kotak musiknya dari lemariku, menggeleng-gelengkan kepala. Seolah ia tidak percaya kepadaku. Aku menangis sembari masih berdebat dengan kak Ayse.
“AKU BERSUMPAH, AKU TIDAK MENCURI!” aku berteriak semakin kencang.
Kak Ayse malah semakin tertawa lepas. “Mana ada maling ngaku, sekali maling ya tetap maling.”
Tanganku hampir saja memukul wajah kak Ayse, kalau saja kak Aishel tidak menahan tanganku. Ibu pulang dengan tergesa-gesa, setelah mendengar ada keributan di rumah.
“Ada apa ini?” Mengapa kau menuduh adikmu seorang pencuri, Ayse?” Ibu berkata kepada kak Ayse, setelah mendengar penjelasan dari kak Aishel lewat telepon.
“Aileen mencuri kotak musik Aysu, Bu! Buktinya kotak musik itu hilang dan ditemukan di lemari Aileen.” Kak Ayse menjelaskan dengan penuh kegirangan.
Ibu membelaku, namun jauh di dalam hatiku tetap saja terasa hancur setelah ku tahu bahwa kakak kandungku telah menuduhku sebagai seorang pencuri. Kak Aishel memelukku erat setelah mendengar kak Ayse berkata “AKU SANGAT MEMBENCIMU!!!”
Aku Aileen. Dan aku orang yang kuat.



Saya suka saya sukaak👏👏
Enggeh Ibuku😍😍😍
Bagus Nak, lanjutkan bakatmu
Terimakasih mbak risa😊
Semangat untuk terus berkarya