top of page

Memori Yang Terlupa (Jiddanul Mahbubil Haq)

Suatu saat aku pergi berkumpul dengan temanku untuk hanya sekedar berbincang siang, saat itu hanya ada empat orang dari teman kelasku yang berada di gazebo kecil hutan pinus. Saat ini untuk menyimpan sebuah kenangan dilakukan dengan menancapkan memori pada otakku, karena orang-orang zaman sekarang malas berpikir hingga otak mereka kosong, saking kosongnya sampai tidak bisa terisi lagi. Aku pada saat itu berbincang tentang keindahan alam ini, “Ya tanpa tuhan tidak akan ada tempat sebagus ini” imbuhku “juga tanpa tuhan tidak akan ada kehidupan” kata reza. Aku sempat tersadar karena kebanyakan di antara kami adalah sekumpulan orang yang sadar bahwa otak masih berfungsi dengan baik dan normal, namun semua itu masih perlu bantuan dengan memori tetapi tidak berperan penting untuk otak kami.

“Kalian sadar? Hutan sekeliling kita hampir habis dirusak kerusuhan memori mereka” imbuhku. “Ya memang begini lah manusia tanpa otak” imbuh Mad.

“Baiklah aku kembali dulu aku banyak urusan di rumah”, “Ya hati-hati di jalan” Kata Ulan

Aku melihat Zika masih merenung melihat luasnya hutan pinus ini, aku langsung tinggal saja dia ku biarkan dia merenungi dunia ini. Aku terkadang sering bilang banyak urusan pada temanku, padahal kadang aku sendiri di rumah juga tidak berbuat apa-apa dan tidak ada urusan apapun. Perjalanan pulang ini aku merasa lebih sejuk dari biasanya karena adanya angin berhembus yang segar dari hutan menuju kota, sambil menuju tempat parkir aku mencabut memori kecil dari belakang kepalaku, aku dengan santai menaiki sepeda lalu pergi pulang. Perjalanan pulang aku selalu berbelok untuk membeli sebuah roti dan kopi instan kalengan di mini market, meskipun aku sendiri selalu siap sedia kopi biji di rumah.

“Kopi moka sama roti coklat” kataku

“Baik, total harga 18.000 rupiah” balas kasir

Aku mendapatkan hari sial hari ini karena lupa membawa uang dari rumah dan sudah aku cek di semua sakuku “Oh

maaf, ternyata uangku tertinggal apa bisa aku membawanya dulu? Kira-kira nanti sore aku bayar”

“Baiklah itu sering kamu lakukan disini”

“Hehe!” jawabku

Aku pun pergi pulang dengan santainya menikmati jalanan kota ini. Sampailah di rumah “Akhirnya dengan selamat lagi, ini semua karena tuhan”. Aku sudah biasa dengan bicara pada diriku sendiri, untuk mengisi kesepian di rumah kecilku ini, aku biasa mengerjakan sebuah editing, design logo, dan menulis karang kecil untuk biaya hidupku, karena dengan hobi itu aku bisa membiayai hidupku sendiri. “Badan terasa lelah lebih baik aku istirahat”. Sontak aku pergi ke sofa depan yang menangkan dengan lonceng angin yang bertabrakan tanpa tujuan di udara, rumahku juga sedikit jauh dari keramain kota “ini adalah tempat terbaikku!” aku berkata. Aku menyetel jam beker untuk bangun pada sore hari, sekalian untuk ibadahku untuk tuhan dan mengingat-ingat uang bayar kopi moka dan roti coklat tadi di mini market.

“Kriingg!” jam beker menggetarkan kepala besinya.

Aku terkaget dan langsung mematikannya, bergegas untuk bersiap beribadah dan membayar hutang tadi. Aku keluar dari rumah dan pergi ke mini market tadi. Terlihat dari kejauhan kakek yang biasanya di kasir sudah terlihat untuk membersihkan mini market miliknya, ia terlihat sangat kelelahan sigap langsung aku hampiri.

"Ini uang kopi moka dan roti coklat tadi, maaf ngerepotin hehe"

"Yah nak terima kasih" jawab kakek kasir

"Yah sama-sama, yasudah saya balik dulu"

"Ya hati-hati di jalan"

Sesampainya di rumah aku mengerjakan design pesanan client "Ooh aku melupakan kopi moka tadi" ya terkadang aku membeli jika lelah untuk meracik kopi sendiri. Larut malam aku mengerjakannya langsung saja aku pergi melakukan kewajibanku biasanya. Saat itu tubuh terasa lelah karena sudah tengah malam, aku pergi ke kamar untuk beristirahat malam untuk melakulan aktifitas besok.

"Sepertinya aku ada yang lupa, apa ya?! Ah sudahlah, besok saja kupikirkan" kataku.

Handphoneku berbunyi dan aku terbangun. "Ah pagi dingin kali ini!" Aku terlena akan kedinginan ini hingga aku berselimut kembali hingga kesiangan. "Hari sial lagi!" Ucapku, aku mulai melakukan kewajiban pagiku.

"Lapar sekali pagi ini!" Grutuku.

Mendadak aku langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi untuk diriku sendiri.

"Andai mereka semua ada disini pasti aku selalu dimasakkan olehnya" Aku meninggalkan mereka sudah lama dan jauh dari tempat asalku lahir hingga ke sini, aku dulu mencari pekerjaan yang cocok di sini ternyata malah kerjaanku cocoknya memang kantor di rumahku sendiri. Aku mulai mengecek email setelah sarapan pagi ini, apa ada yang baru dari clientku.

"Sial, ini memang hari terburukku!" Aku menggrutu lagi.

Aku mendapat email dari client bahwa warna dari logo tersebut kurang cocok, dan aku pun mendesign ulang warna logo tersebut.

“Sudah siang, ke hutan pinus ah”

Aku pun bersiap dan bergegas pergi ke hutan pinus tempat biasa aku berkumpul, siang ini terasa panas sekali rasanya kulitku terbakar. Saat sampai di parkiran hutan pinus sontak aku teringat apa yang kurang, aku merasakan memori hilang dari sakuku “Oh, apa terjatuh saat aku mengecek saku celana tidak ada uang waktu di min market ya?” aku bertanya sendiri. Bergegas aku pergi ke mini market tempat biasa aku beli kopi. Aku sampai dan langsung lari menuju kakek kasir dan menanyakan apakah ia menemukan sesuatu “Apa kakek melihat memori yang jatuh kemarin?”

“TIdak nak! Kalau aku bersih-bersih pasti aku telah tahu bahwa ada barang yang jatuh ataupun tertinggal” jawab kakek

“Aduh! Bagaimana ini?” gerutuku

Aku di sapa oleh seorang wanita yang seumuran denganku di dalam mini market.

“Hey! Ada apa? Ada yang bisa dibantu?” sapa dia.

“Ini, aku kehilangan memori berhargaku!”

“Kebetulan aku suka mengkoleksi memori bekas atau terbuang oleh sejumlah orang yang tidak suka akan isi memori tersebut, dan kemarin aku menemukan memori di sekitar sini. Mari ikut ke gudang tempat dimana aku menyimpannya” balas dia.

“Baiklah”

Aku pun pergi dengannya dan aku terpesona denganya, di perjalanan aku bertanya padanya “Siapa namamu?”

“Aku dulu biasa di panggil Risa oleh kawanku, semenjak mereka pindah ke kota yang lebih maju tidak ada orang yang pernah memanggilku Risa” jawabnya.

“Oh baiklah” aku menjawab dan berpikir “apa dia tidak menanyakan siapa namaku?” gerutuku dalam hati.

“Kita sampai!” dia berseru.

“Jadi ini gudangmu?”

“Ya begitulah, setidaknya aku bisa beristirahat di tempat ini. Eh tadi aku lupa siapa namamu? Aku sudah jarang sekali berbicara dengan orang selama dan sedekat ini”

“Eh, a-aku biasa di panggil D” aku gugup untuk menjawab.

“Baiklah D bagaimana penampilan fisik memorimu?”, “Biru ada tulisannya D”

“Ok! ini bukan?”

“Ya itu dia! Terima kasih aku berhutang padamu!”

“Ah sudahlah! Ngomong-ngomong bisakah aku minta nomor ponselmu? Jika suatu saat aku menemukan memorimu yang hilang lagi aku bisa menghubungimu!” Seru dia. “Baiklah aku tuliskan langsung saja di ponselmu” aku menuliskan nomorku “Haduh aku lupa kalau siang ini aku harus berkumpul ke teman-temanku, pasti aku akan tidak di percaya lagi oleh mereka. Baiklah aku kembali dulu!” “Temanmu pasti akan memaafkanmu jika kau menjelaskan pada mereka semua!”

“Hmm baiklah aku akan menjelaskannya tapi tidak sekarang, karena ini hampir sore”

“Aku bisa mengantarmu jika kau mau”. “Baiklah jika kau tidak keberatan” lalu aku pergi kembali ke parkiran mini market tersebut dan akhirnya sampai juga “Terima kasih!”

“Sama-sama D!” seru dia.

Akupun langsung saja pulang karena merasa bersalah telah meninggalkan perjanjian aku dengan kawan-kawanku karena hal memori hilang ini. Sesampai di rumah akupun rehat sejenak namun akhirnya aku tertidur pulas sampai tengah malam “Oh tengah malam! Aku terlalu pulas!” gerutuku. Aku mengecek email apa ada client yang baru atau tidak dan ternyata ada satu permintaan logo lagi. Langsung saja aku kerjakan sampai fajar. Aku melakukan rutinitas pagiku dan aku menerima pesan dari Risa yang berisi “Hey D mari kita sarapan pagi ini! Aku tunggu di sebelah mini market”

Aku langsung saja pergi kesana dan sarapan dengannya.

“Apa kau nanti siang kosong?” tanyanya

“Aku nanti siang sebenarnya ada kumpul ke temanku, tapi aku takut sudah tidak di percaya lagi oleh mereka” jawabku

“Apa aku boleh ikut? Aku ingin pergi ke sana dan bertemu temanmu!”

“Baiklah kalau itu maumu, tunggu aku di sini nanti” imbuhku.

Aku pulang dan aku berkarya membuat logo tipografi untuk di cetak dan di buatkan stiker untuk Risa. Siang hari pun datang aku langsung saja menghampiri Risa dan berniat memberikan stiker yang aku buat untuknya. Akhirnya aku sampai dan melihatnya berteduh di kursi depan mini market “Ayo, kita bergegas ke sana!” dan aku memberikan stiker itu untuknya “Ini untukmu!” “Wow! Bagus terima kasih! Kau membuatnya sendiri?” “Ya tentu saja aku punya kantor pribadiku di rumah” “Keren!” jawabnya

Aku dan Risa akhirnya sampai di hutan pinus ini

“Baiklah kita sampai” Seruku

“Ok, sekarang diman temanmu?” tanyanya

“Mari ikut!” jawabku

Aku berjalan yang tadinya ragu untuk bertemu mereka aku pun sekarang ingin bertemu mereka karena Risa. Aku melihat Zika memandangi dari kejauhan dengan raut waja penuh kebencian, padahal dia anak paling diam di antar kawanku.

“Mengapa kau kemari?!” kata Mad dengan penuh sontakkan.

“Kau saja kemarin tidak datang!” imbuh Ulan

“Aku bisa jelaskan tentang hal kemarin” jawabku

“Sekarang jelaskan apa dan kenapa? Jangan banyak alasan, langsung saja katakan” kata Ulan.

“Jadi aku kemarin kehilangan memoriku, dan memori ini adalah kenangan masa kecilku yang di rekam oleh kedua orang tuaku, aku sulit mengingat mereka tanpa memori ini. Karena mereka sudah tiada di sana” aku menjawab dengan rasa sakit menusuk hatiku.

“Ah aku tahu perasaanmu!” jawab Reza.

“Baiklah aku bisa menerima alasan itu” imbuh Mad

“Hey siapa dia di belakangmu?” tanya Zika.

“Oh perkenalkan ini Risa! Dia menemukan memori hilangku kemarin” jawabku.

“Hai!” sapa Risa dengan senyumannya.

“Oh jadi itu yang membuatmu tidak datang? Kenapa tidak kesini saja dulu dan kami bisa membantumu” kata Reza.

“Aku terlalu resah akan hilangnya memoriku” imbuhku.

“Baiklah kita berkumpul sampai di sini saja besok lagi kita kumpul ajak Risa kalau mau” Kata Mad

“Ris! Besok sini lagi lah!” kata Reza.

“Hehe Baiklah jika D mengizinkan aku berangkat bersamanya” jawab Risa.

“Aku bisa saja memabawamu kemana saja! Baiklah kita pulang” imbuhku.

“Kalian terlihat serasi!” kata Zika

“Ah bisa saja! aku saja baru kenal kemarin sama dia!” Jawabku.

Dan akhirnya aku tenang karena memiliki kawanku lagi dan bertambah satu lagi kawanku, atau mungkin lebih dari kawan. Saat perjalan pulang aku diajak berbincang oleh Risa, sontak aku kaget.

“Hey D! aku memiliki rasa padamu meskipun hanya kemarin kita bertemu, aku sudah lama memandangmu saat aku di mini market itu” kata Risa.

“Sudahlah Ris! Kau pasti tahu jawabanku!”

“hehehe” dia tertawa pelan. Dan akhirnya aku pun mengantarnya pulang ke gudangnya, dan langsung aku kembali ke rumahku melakukan rutinitas seprti biasanya dengan ke tenangan seperti awal. Dan aku mulai mengingat isi sebuah memori ini di otakku, semoga saja aku selalu mengingatnya.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page