Pekat (Dwi Nadya Oviliana)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 10 min read
Kokokan ayam mulai terdengar dan kian lama semakin keras seiring dengan matahari muncul ke permukaan. Tampak seorang gadis perempuan dibalik selimut tebalnya enggan melepaskan diri dari kenyamanan yang diberikan oleh kasur. Setelah mematikan bunyi alarm kesekian kalinya, Ia mulai beranjak dari kasur dan cepat-cepat mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibannya yaitu salat shubuh.
Selesai menunaikan salat, Ia memandang dinginnya suasana pagi hari ini. “Hhmm, Bogor.” Ucap gadis tersebut kepada dirinya sendiri. Sekelebat masa lalu tiba – tiba menghampiri gadis perempuan tersebut, tersenyum hanya itulah yang bisa dilakukannya jika masa lalu tersebut kembali mendatanginya.
“Alyssa ...” Terdengar suara perempuan yang lebih dewasa memanggil gadis perempuan tersebut. Alyssa, itulah nama gadis perempuan yang tengah berdiri menghadap lataran rumah mereka.
“Ya kak, Kak Luna butuh bantuan ?” Tanya Alyssa menghampiri kakaknya yang hanya berbeda 2 tahun darinya.
“Tidak, tadi kakak mencarimu ke kamar eh ternyata kamu sedang disini. Bagaimana suasananya ? Apakah kamu suka ?” Tanya Luna sambil mengelus rambut panjang milik adiknya.
“Lebih baik daripada di Jakarta kak. Dingin dan tenang seperti ini mungkin dapat membantuku melupakan permasalahan yang terjadi di Jakarta.” Jawab Alyssa dengan wajah tersenyum dan berusaha menutupi kesedihan yang ada di hatinya.
“Alyssa, mungkin ini memang berat bagimu. Tetapi, percayalah keluarga kita semua pasti juga merasakan sakit. Meskipun itu ayah dan ibu. Mungkin, ayah dan ibu memiliki alasan masing-masing untuk memutuskan mereka berdua berpisah. Mungkin saja dengan mereka berpisah bisa menemukan kehidupannya yang bahagia.” Tutur Luna kepada adiknya.
“Ya memang mereka bisa bahagia. Tapi tidak dengan kita berdua kak.” Kata Alyssa tetap menampilkan senyumnya dan meninggalkan kakaknya sendirian. Mau tidak mau Alyssa hanya bisa menerima takdir melihat kedua orang tuanya harus berpisah dengan alasan tidak cocok satu sama lain dan saling meninggalkan kedua anaknya demi keluarga baru mereka. Akhirnya, disinilah Alyssa dan Luna tinggal berdua di rumah peninggalan neneknya di Bogor.
***
Ada kalanya, kita merasa sepi, sendirian,
padahal suasana sedang ramai-ramainya.
Pembelajaran baru telah dimulai, tahun ini Alyssa memasuki jenjang perguruan tinggi ternama di Bogor. Hari ini adalah pertama kalinya Alyssa memasuki ruang lingkup kampus dan menyandang nama mahasiswa. Gurauan para mahasiswa memasuki gendang telinga Alyssa, begitu senangnya mereka terpilih di kampus ini tergambar jelas di wajah masing-masing mahasiswa. Setelah diamatinya satu per satu wajah para mahasiswa baru tersebut, tak satupun juga Alyssa menemukan wajah yang dikenalnya. Akhirnya Ia memutuskan duduk sendirian di bawah pohon rindang serta dibekali dengan novel kesayangannya.
“Sstt ... Sstt...” Tiba-tiba Alyssa mendengar suara yang berasal dari seberang Ia duduk. Ia menolehkan wajahnya dan tampak seorang laki-laki dengan wajah tersenyum menghampiri Alyssa.
“Kenapa duduk sendirian ? Kenapa tidak saling berkenalan seperti mahasiswa lain ?” Tanya laki-laki tersebut dengan menyandarkan badannya di pohon.
“Kamu sendiri kenapa disini ? kenapa tidak ikut seperti mereka yang sibuk cari mahasiswi cantik ?” Balik tanya Alyssa kepada laki-laki tersebut dengan menunjuk segerombolan laki-laki yang sibuk kesana-kemari tampak mencari mahasiswi cantik.
“Terkadang orang memang seenaknya sendiri. Seseorang bertanya kenapa seharusnya dijawab karena, bukan balik tanya.” Sindir laki-laki itu dengan tersenyum sinis.
“Dion. Dion Lazuardy” Kata laki-laki tersebut tersenyum hangat dengan menyalurkan tangan ingin berjabat tangan. Alyssa yang awalnya bingung akhirnya menerima aluran tangan itu.
“Alyssa Anindya Wijaya” Ucap Alyssa membalas senyum hangat tersebut.
“Oke Alyssa, sampai bertemu lagi di lain waktu.” Kata Dion meninggalkan tempat dan berlari menjauh menuju teman-temannya. Dari tempatnya duduk, Alyssa tersenyum melihat Dion yang sedang bergurau dengan teman-temannya. Baru hari petama masuk kuliah, ternyata Ia sudah mengenal satu orang yang aneh.
***
Terkadang malam tak lagi menemaniku tersenyum,
Ia hanya ingin memberiku waktu sendiri
Hari ini malam terasa dingin dan menusuk tulang, melalui jendela kamarnya Alyssa memandang langit yang tampak sepi. Bulan tak terlihat dari pandangan Alyssa begitupun juga dengan bintang yang seolah tak ingin menampakkan diri di hadapan Alyssa. Rasa rindu dengan kehangatan keluarga kembali menyeruak di dada Alyssa.
“Hidup seperti inikah yang disebut bahagia oleh ayah dan ibu ? Saling berpisah dan menelantarkan anak-anaknya ? Aku tak mengerti lagi bahagia seperti apa yang indah. Bahagia yang dulu aku ciptakan kini telah runtuh, hilang, tanpa ada bekas. Yaaa, seperti malam ini. Bahkan bulan pun tak ada dan bintang tak satupun berkeliaran di langit. Apa memang ini yang disebut dengan hidup ?” Ucap Alyssa kepada dirinya sendiri. Setelah merenung begitu lama, bergegas Ia bangkit dan menuju ke tempat tidur tak ingin rasa sakit tersebut semakin datang menghantuinya.
***
Suasana kampus terlihat lenggang di sore hari. Alyssa yang baru saja menyelesaikan jadwal perkuliahan hari ini merasa enggan langsung pulang ke rumah. Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Di selang perjalanan menuju perpustakaan, Alyssa melihat begitu banyak karya-karya puisi ataupun quotes yang terpajang di mading kampus. Alyssa menyempatkan diri untuk berhenti dan membaca karya-karya tersebut, kebetulan Ia menyukai hal yang berbau dengan sastra.
“Percaya tidak kalau karya-karya disini aku yang buat ?” Kata Dion yang tiba-tiba muncul dan sudah berada di samping Alyssa.
“Tidak.” Jawab Alyssa singkat.
“Alasannya ?” Tanya Dion yang kini mulai penasaran dengan jawaban Alyssa.
“Karena karya-karya yang terlihat disini tidak menunjukkan ciri dari diri kamu.” Jawab Alyssa yang kini ikut menatap Dion.
“Yaahhh, tapi terkadang manusia terlalu pintar untuk menyembunyikan masalahnya dengan berpura-pura ceria di depan orang lain.” Kata Dion dengan menghela napas dan merasa tidak puas dengan jawaban Alyssa.
“Bukankah lebih baik seperti itu, jadi orang lain tidak menemukan kelemahan kita dan memperdaya kita. Meskipun biasanya bersikap baik-baik saja di depan ketika ada masalah itu sulit. Tetapi itu bisa membentengi diri kita sendiri.” Tukas Alyssa dengan wajah tenangnya.
“Mungkin bagi sebagian orang bersikap baik-baik saja akan melindungi diri. Namun, percayalah ada di satu titik kamu perlu menunjukkan kepada orang lain bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja agar orang lain juga mengerti dan tidak melakukanmu semena – mena. Memendam sendiri itu sulit, aku sudah mengalaminya.” Ujar Dion tersenyum dengan wajah sendunya. Alyssa yang mendengar penuturan dari Dion hanya bisa terdiam dan memikirkan kembali kata – kata yang diucapkan Dion.
***
Bahkan, embun tak perlu berubah warna untuk membuat daun jatuh cinta
Semenjak bertemu di depan mading kampus, Alyssa dan Dion menjadi sering bertemu dan mengobrol bersama. Entah itu tentang sastra, gurauan aneh yang dilontarkan Dion, serta masalah perkuliahan. Semua obrolan menjadi menarik jika dibahas dengan Dion, begitu pandangan Alyssa terhadap Dion. Meskipun sering menghabiskan waktu bersama, mereka berdua tetap membentengi diri masing-masing tentang masalah pribadi. Tak satupun dari mereka berdua bercerita atau mencurahkan masalahnya, walaupun masing - masing megetahui jika ada masalah yang ditimpa satu sama lain.
Hingga suatu hari, Alyssa menemukan secarik kertas kecil bertuliskan sajak – sajak indah yang dikirim oleh Dion kepadanya. Entah mengapa, hati Alyssa begitu berbunga-bunga menerima surat tersebut dan merasa ada kupu-kupu yang melayang indah di hatinya. Meskipun pernah beberapa kali dekat dengan orang lain waktu di Jakarta dulu, Ia belum pernah merasakan kagum, tertarik, dan terpesona secara bersamaan seperti yang dirasakannya sekarang ini kepada Dion.
Alyssa merasa Dion adalah orang yang berbeda, dia memiliki aura misterius dan banyak teka-teki di hidupnya namun sangat pintar bisa menutupinya dengan sempurna melalui kata-kata puitisnya yang tidak dapat ditebak.
Isi dari surat Dion :
Setiap manusia memiliki luka
Setiap manusia mempunyai rahasia
Setiap manusia memiliki duka
Tak terkecuali kamu, aku, dan mereka.
Di waktu yang tepat, bisakah kamu membaginya denganku ?
Menghancurkan lukamu bersamaku ?
Agar, senyummu kembali tercipta
Dan lukamu biarlah meronta
Halaman Belakang Kampus besok, pukul 15.00
***
Tepat seperti yang dijanjikan oleh Dion di halaman belakang kampus, Alyssa sudah berada di halaman tersebut setengah jam yang lalu. Perasaan senang menggebu-gebu dalam diri Alyssa, baru kali ini Ia menunggu seseorang dengan tak sabar dan sangat menanti kehadirannya. Lama tak datang, Alyssa menyibukkan diri dengan menulis buku harian di note kecil kesayangannya.
“Hari ini langit begitu cerah, entah ada apa gerangan. Mungkin ..... langit sedang berpihak kepadaku. Hahaha jangan menghayal Alyssa, jangan terlalu percaya diri. Hhmm,,, Dion Lazuardy. Nama yang indah. Aku tak tahu rasa apa yang kurasakan saat ini. Suka ? Ataukah hanya sebatas kagum ? Ada yang berbeda dari dirinya. Cara bergurau, cara berdiskusi, kata-kata puitis yang selalu dilontarkan, kehidupannya yang penuh teka-teki, dan semua hal yang dia lakukan tak pernah aku temui dari diri orang lain. Dion berbeda dengan .... Kak Reza. Wah Kak Reza, sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Apa kabar dia di Jakarta ? Mungkin dia sedang baik-baik saja. Dia adalah teman sekaligus kakak yang selalu ada untukku. Tapi, semenjak aku bertemu dengan Dion perlahan aku melupakan Kak Reza. Seharusnya aku tak boleh seperti ini bukan ? Kak reza baik, aku tak boleh melupakannya. Ya memang seperti itu.”
Sekian lama Alyssa menunggu, tapi nyatanya Dion tak kunjung datang. Hari semakin sore dan Alyssa tak sebodoh itu untuk tetap menunggu di halaman belakang kampus untuk menunggu Dion. Takut hari semakin malam, Ia bergegas meninggalkan halaman belakang kampus dan juga lupa membawa buku note kecil kesayangannya.
Selang beberapa waktu Alyssa meninggalkan halaman kampus tersebut, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berperawakan tinggi gagah menghampiri satu-satunya bangku di halaman belakang kampus. Laki-laki itu datang ke tempat tersebut karena mencari seseorang yang selama ini sangat dirindukan, Ia sangat hapal jika ingin mencari seseorang tersebut karena pastinya dimanapun seseorang itu berada adalah tempat yang sepi dan tenang. Hingga laki-laki itu menemukan buku note kecil yang tak asing bagi dirinya, ya buku note tersebut milik Alyssa seseorang yang ingin ditemuinya, dan laki-laki tersebut tak disangka adalah Kak Reza yang datang dari Jakarta.
***
“Assalamu’alaikum” Ucap Alyssa sesampainya tiba di rumah. Dilihatnya kakak perempuannya sedang sibuk bergelut dengan bahan masakan persiapan untuk makan malam. Setelah menaruh tas dan berganti pakaian, Ia ikut menuju ke dapur untuk membantu Kak Luna memasak.
“Heii Alyssa, tumben kamu pulang jam segini. Bagaimana kuliahnya hari ini ? Lancar ?” Tanya Kak Luna perhatian kepada adiknya.
“Iya tadi ada urusan sebentar. Yaaa seperti biasanya, tak ada yang menarik, hanya mengikuti pembelajaran dan pulang.” Jawab Alyssa santai. Kini Alyssa menganggap kakaknya seperti ibu keduanya. Peran Kak Luna meningkat menjadi Ibu kedua yang selalu ada untuk Alyssa, dengan adanya Kak Luna tetap berada di samping Alyssa akan membuat hidup Alyssa bahagia meskipun sedikit.
“Oh ya, tadi Kak Reza datang kesini. Katanya Ia ingin menemuimu, tadi dia di ruang tengah, kamu tidak melihatnya ? Atau mungkin sekarang dia sedang di taman. Sana, temui dulu, kasihan dia datang jauh-jauh dari Jakarta.” Kata Kak Luna lembut kepada Alyssa. Meskipun dengan berat hati Alyssa tetap pergi ke taman untuk menemui Kak Reza.
Tampak dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang sedang memberi makan ikan-ikan kecil di kolam. Alyssa kenal betul perawakan laki-laki tersebut meskipun dari kejauhan, laki-laki tersebut adalah Kak Rea. Langkah Alyssa semakin mendekat kepada Kak Reza.
“Kak Reza, apa kabar ?” Sapa Alyssa dengan wajah tersenyum.
“Oh hai Alyssa. Kabarku baik. Mungkin seharusnya aku yang bertanya kepadamu, bagaimana kabarmu disini ? Betah tinggal disini ?” Balik tanya Kak Reza sambil menatap wajah Alyssa dengan mata kerinduan.
“Seperti yang kakak lihat sekarang ini. Aku baik-baik saja disini, bahkan melampaui baik daripada kehidupanku di Jakarta dahulu.” Ucap Alyssa berusaha tetap tersenyum. Aneh, itulah yang dirasakan oleh Alyssa saat ini. Tidak seperti waktu-waktu yang lalu jika Ia bertemu dengan Kak Reza selalu ceria dan semangat. Kini, Ia merasa biasa saja dan enggan untuk bercerita banyak seperti dahulu. Malah, Alyssa disaat seperti ini masih sempat-sempatnya berpikiran tentang Dion yang sampai sekarang belum mengabari akan ketidakhadirannya di halaman belakang kampus tadi sore.
“Alyysa, aku ingin memberitahumu. Ayah dan ibumu ingin menemuimu. Mereka sangat rindu kepadamu.Apalagi Ibu beliau .... ” Kata Kak Reza berbicara lembut kepada Alyssa tak ingin menyakiti perasaan Alyssa.
“Kak Reza, kalau kakak kesini hanya ingin memberiku kabar tidak enak lebih baik kakak pulang dan balik lagi ke Jakarta.” Alyssa memutar balik badan. Alyssa tidak ingin mendengar kabar apapun tentang ayah dan ibunya di Jakarta. Alyssa sudah kesal dan muak akan keputusan kedua orangtuanya dan tidak suka dengan keluarga baru orangtuanya.
***
Tiba – tiba semuanya berkumpul dan datang dalam pikiran.
Seminggu telah berlalu, selama seminggu itu pun Alyssa tak pernah bertemu dengan Dion. Kabar juga tidak ada, Dion seakan-akan menghilang dari bumi. Padahal banyak sekali yang ingin diceritakan oleh Alyssa kepada Dion. Alyssa ingin membuka diri dan erbagi cerita tentang masalahnya yang selalu menghantui dirinya. Namun, waktu berkata lain, tidak ada wujud Dion sama sekali dalam kesehariannya.
Hingga suatu hari, rumah Alyssa kedatangan tamu. Tamu yang sama sekali tidak ingin Alyssa temui. Ya mereka adalah keluarga baru ibunya, akan tetapi keluarga tersebut tidak bersama dengan ibunya yang Alyssa harapkan. Wajah mereka tampak tidak bersahabat ketika Alyssa baru saja pulang dari kampus. Ingin sekali Alyssa tidak menemui mereka. Namun, tiba-tiba seorang anak perempuan seumuran Alyssa maju dan marah-marah kepada Alyssa.
“Alyssa !!! kamu tahu apa yang terjadi dengan ibu ? Semuanya gara-gara kamu. Ketika ibu rindu anak sepertimu hingga beliau sakit dan kritis kemana saja kamu ? Kamu diajak Kak Reza ke Jakarta kamu juga menolak. Sekarang kamu tahu apa yang terjadi dengan ibu ? Ibu meninggal. Orang yang kamu benci sekarang sudah tiada” Kata anak perempuan tersebut dengan wajah memerah.
Alyssa yang mendengar kabar tersebut, hanya diam mematung tak dapat berkata apa-apa. Semua kenangan masa lalu bersama ibunya muncul dan kenangan ketika ia marah-marah kepada ibunya karena tidak terima akan ditinggalkan bersama keluarga barunya. Mata Alyssa tidak bisa membendungnya lagi, air mata Alyssa turun deras menyesali semua kebodohannya. Menyesal telah menolak penjelasan Kak Reza dengan lengkap, menyesal selalu membuang jauh-jauh kabar dari ibunya.
Tak kuat menahannya lagi, Alyssa berlari menuju taman dekat rumahnya. Hanya taman itulah yang selalu Alyssa gunakan untuk melampiaskan amarah dan menenangkan pikirannya. Dion. Hanya satu nama yang terlintas di benak Alyssa disaat ia sedang putus asa. Akan tetapi, Alyssa sama sekali tidak bisa menghubungi Dion, di saat kalut dan sedih seperti ini Dion juga tak ada untuk menghiburnya seperti biasanya.
***
Pekat yang mulai aku usir pergi kini kembali datang mengerubungiku. Bisakah aku kembali mengusirnya ? atau tetap diam berada disampingku ?
Keesokan harinya, mata Alyssa seperti ada beban untuk membukanya. Mata yang merah karena terlalu lama menangis tidak bisa terelakkan. Pikiran Alyssa kosong, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa untuk menebus kesalahan dan penyesalannya selama ini kepada ibunya. Hingga tiba di kampus, Alyssa melihat salah satu teman Dion dan bertanya akan kemana hilangnya Dion selama ini.
“Dion ... emm ... mungkin kamu akan kaget mendengar berita ini. Selama ini Dion menderita penyakit kanker mata dan kemarin sudah stadium 3. Semakin lama penyakit Dion semakin parah. Seminggu yang lalu, kabarnya juga ada orang yang ingin mendonorkan matanya untuk Dion. Namun, ketika Dion sudah siap di operasi ternyata pendonor tersebut membatalkan operasinya dan hasil akhirnya karena penyakit Dion sudah parah dia tidak terselamatkan.” Kata Bian teman Dion dengan raut muka sedih.
Hati Alyssa serasa ditimpa bebatuan yang keras, belum rasa sedihnya hilang karena meninggalnya ibunya kini dia juga mendapat kabar yang tak mengenakkan lagi. Orang yang membuat hidupnya mulai berwarna kini ikut pergi meninggalkannya. Alyssa kembali mengingat-ingat ucapan Dion ketika dia tidak bisa melihat benda dari jarak jauh, ternyata bukan karena rabun jauh akan tetap ada masalah dengan matanya. Memang sebodoh itu Alyssa tidak menyadari. Selama ini Alyssa hanya berpikiran kalau masalah hidupnya adalah yang paling berat, padahal ada orang lain yang memiliki masalah hidup lebih berat.
Entah apa yang dapat mendeskripsikan keadaan Alyssa disaat seperti ini. Semua orang yang disayanginya perlahan meninggalkannya satu per satu. Pikiran Alyssa kosong, hati Alyssa hancur, dan hidup Alyssa kembali gelap, secercah cahaya yang kemarin datang malah mundur kembali meninggalkan Alyssa sendirian. Hidup Alyssa kembali gelap dan pekat tanpa ada cahaya, tanpa ada rasa bahagia.
Hari tetap berlanjut, kesedihan Alyssa tidak mungkin langsung hilang. Kesedihan dan gelap yang dimilikinya tetap ada, namun kehidupan Alyssa juga tidak mungkin berhenti disini. Alyssa masih ingat bahwa ada Kak Luna yang selalu ada untuknya, Kak Reza yang setia menemaninya, dan keyakinan Alyssa yang tak pernah akan meninggalkannya. Bersama dengan pekat yang selalu berada di sekitarnya, Alyssa mulai belajar membuka diri dan tersenyum dengan permasalahan yang akan dihadapinya.
TAMAT



Comments