Perjalanan Keajaiban (Astrid Sofia Rini)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 15 min read
Hari ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke penjara suci. Keputusan kedua orang tuaku sudah bulat untuk menyekolahkan aku di pesantren. Meskipun beberapa alasan yang ku lontarkan untuk menolaknya, tetap saja ibuku bersikeras untuk menyekolahkanku di pesantren. Begitu berat, bahkan sangat berat untuk aku yang masih lulus SD berumur 12 tahun harus berpisah dengan orang tua. Setidaknya ada teman atau saudara untuk menemani atau menjaga aku di pesantren, tetapi ini tidak ada siapapun untuk menjagaku ataupun menemani menjadi santri baru. Itulah yang aku takuti, aku sendiri tidak ada teman atau saudara yang aku kenali di sana. Masih terlalu berat untuk aku bersosialisasi di lingkungan pesantren itu. “Buk, aku takut gak punya temen disana”, rengekku kepada ibuku yang tak hanya satu kali aku lontarkan kepadanya. “kamu lo di pesantren, bukan di hutan, bagaimana mungkin gak ada temen, kecuali kalau ibu mengantarmu ke hutan itu pantas kalau kamu bilang takut gak ada teman!”, itulah jawaban yang keluar ketika aku beberapa kali mengeluh tentang teman.
Hari ini, hari dimana aku harus benar-benar berangkat ke pesantren untuk memulai menuntut ilmu di sana. Ayah dan ibuku sudah mempersiapkan semua kebutuhan yang aku butuhkan, tetapi hatiku masih dihantui rasa takut di sana, aku berfikir di sana aku dengan siapa tidak ada siapapun yang aku kenal, saudarapun tidak ada. Sang ibu selalu menyisipkan nasehat akan bekal ilmu agama. Ilmu yang akan menjadi lentera dalam kegelapan kedzaliman pada zaman yang sudah tua ini. Ibuku menyadari bahwa ini berat bagiku dan semuanya. Tak kuasa air mata menetes, ketika aku sampai di gerbang pesantren. Tampak terlihat urat-urat wajah ibuku menandakan teramat berat berpisah denganku. Hingga sampai pada kamar yang aku tempati dengan suara riuh santri dan wali santri yang juga mengantarkan anaknya untuk belajar di pesantren. “nah kan, banyak temannya gak mungkin kamu sendirian semuanya juga akan di tinggal dengan ibunya, jadi gak usah khawatir untuk tidak punya teman!”, sedikit petuah yang di lontarkan ibuku kepadaku. Saat itu ayah tidak boleh masuk ke kamar karena hanya khusus putri saja yang boleh masuk ke kamar itu, jadi ibuku saja yang mengantarkan sampai ke kamar ayahku menunggu di ruang tamu.
Di tengah-tengah hiruk pikuknya keadaan dalam kamar tersebut ibuku bilang, “jika kamu niat dalam hati dengan sungguh-sungguh, ibu yakin kamu pasti kuat. Ibu selalu berharap putriku bisa membawa lentera di masa depan, menghadirkan senyuman harapan di masa depan kelak.” Dengan bahasa yang agak bisa di bilang nyastra, ibuku menasehatiku dengan halus. Memang sejak remaja ibuku sangat suka sekali sastra, jadi kerap kali setiap menasehatiku ibuku menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan menyentuh hati. Aku hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Aku takut jika aku meneteskan air mata lagi akan membuat ibuku sedih berlipat ganda. Jadi aku berusaha keras membendung air mataku agar tidak jatuh di depan ibuku. Menit berlalu ibuku meninggalkan ku di pesantren, aku hanya berkata dalam hati, “apapun akan aku lakukan demi membuat orang tuaku bisa tersenyum bahagia meskipun dengan bersusah-susah dahulu, insya allah aku ikhlas.” Dengan pandangan mata yang kosong seseorang temanku membuyarkan lamunanku dengan ajakan makan bersama. Akupun agak kaget dengan ajakannya tetapi tidak ku hiraukan dan langsung aku mengikuti mereka makan.
Di pesantren tentu saja banyak rintangan yang aku hadapi saat itu. Masih hari pertama aku bermalam di sanapun sudah ada suatu hal yang membuat ku tidak merasa nyaman di sana. Teng..teng..teng....! terdengar suara kentongan pesantren berbunyi. Aku melihat jam ternyata masih pukul 03.00 shubuh, aku pun terkejut. “Bangun.. bangun.. ayoo bangun.. anak-anak, waktunya sholat tahajud ayoo bangun”. Suara ustadzah yang terdengar bising di telinga.
“Hemmm, baru juga jam segini, juga udah di bangunin, coba aja kalau aku di rumah pasti masih bobok nyenyak”, gumamku dalam hati.
“Hey kamu, ngapain masih diem aja, ayo bangun segera ke kamar mandi!”, bentak ustadzah itu kepada salah satu kakak kelas yang masih berusaha untuk bangun.
“Santai aja kali dzah, apa gak tau ini masih ngumpulin nyawa, bangun bangun aku gak juga harus di bentak kek gitu!”, bantah kakak kelas itu dengan ketus. Aku sempet berfikir kok berani ya kakak itu ngelawan ustadzahnya. Hemmm apalah dayaku masih santri baru yang tak tau apa-apa.
Aku pun beranjak ke kamar mandi, dengan tergesa-gesa membawa handuk dan alat mandi. “haaaa!, kok segini panjangnya sii antriannya?”, aku terkejut melihat kamar mandi yang begitu ramai orang. Apa aku saja yang heran dengan keadaan seperti ini, batinku terheran-heran. “Mbak, aku ikut antri ya mandinya”, aku memberanikan diri untuk bicara pada mbak-mbak yang entah siapa aku juga tidak mengenalinya. “Oh maaf mbak, setelah saya tadi sudah ada yang mau mandi ”, saut mbak-mbak itu.
“Gimana mau mandi kalau kek gini terus, katanya suruh tahajud, lah gimana mau tahajud kalau mandi aja gak bisa, mau whudu juga antri, heran deh!”. Keluhku dalam hati sambil berjalan mencari kamar mandi yang agak sepi.
Akhirnya saat itu aku dapet antrian mandi dan aku terburu-buru karena waktu tahajud sebentar lagi habis. Tok..tok..tok..! “mbak, mbak masih lama?”, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi, sampai aku tekejut. Perasaan juga baru masuk, udah di tanya masih lama. “Sebentar mbak, saya ini baru aja masuk”. Jawabku dengan agak kesal.
Tak ada saut suara yang menjawab. “Masak orangnya langsung pergi?”, gumamku dalam hati. “Ah, tapi biarin ajalah orang bener kok, aku juga masih baru aja masuk”. Pikirku dengan santainya.
“Lo kamu kok baru mandi, pasti belum sholat tahajud ya?”, pertanyaan itu mengagetkanku saat aku selesai mandi dan menuju ke kamar. Aku bingung mau jawab apa, aku memang belum sholat tahajud tetapi aku juga takut pasti nanti bakal di hukum. “Hemm, iya mbak saya belum sholat tahajud, ini juga baru selesai mandi”. Jawabku dengan agak terbata-bata karena takut. “Lo gimana, kamu masih santri baru lo kok sudah melakukan pelanggaran?” dengan nada agak tinggi mbak-mbak itu memarahiku.
“Ya maaf mbak, saya tadi juga sudah bangun awal dan mencari kamar mandi malah antri dan akhirnya ini belum sholat tahajud.” Jawabku dengan mempertegas alasan.
“Ya seharusnya, kamu whudu dulu sholat tahajud dan habis itu mandi, di sini peraturan tetap harus peraturan, tidak menerima alasan apapun, kalau melanggar ya harus bisa terima konsekuensinya”. Mbak-mbak itu malah ceramah panjang lebar kepadaku.
“Ya aku kan belum tau apa-apa mbak, peraturan di sini itu kek gimana, aku juga masih baru kemarin di sini masak udah di hukum mbak”. Perdebatan antara aku dan mbak itu, siapa aku juga gak kenal dia siapa tapi udah debat sampai panjang. Akhirnya aku masih di beri dispensasi, karena masih santri baru yang belum tau peraturan yang sebenarnya seperti apa.
Setelah aku liat-liat, ternyata mbak itu namanya adalah mbak lila yang terkenal dengan kedisiplinannya dan di jadikan keamanan pondok pesantren. Semua santri membenci dia, karena semua santri yang kepergok mbak lila melakukan pelanggaran akan di hukum atau dalam istilah pesantren ta’zir.
Pagi itu semua yang berkumpul di kamar membicarakan tentang kekejaman mbak lila, yang selama dia menjabat jadi keamanan pondok pesantren sangat kejam. Sebenarnya bukan kejam si kalau kataku, ya dia memang mematuhi aturan dan ingin membuat semua santri disiplin, jadi ya wajar kalau santri yang tidak taat peraturan akan membencinya.
Seiring waktu, sudah menujukkan pukul 06.20. Hari pertama aku sekolah di SMP, selain di pesantren tetapi juga tetap sekolah formal sebagaimana biasanya. Semua siswa SMP di sini wajib bermukim di pesantren, jika keluar dari pesantren juga harus keluar dari sekolah. Itulah peraturan yang berlaku di yayasan tersebut. Masih hari pertamapun aku sudah merasakan ketidaknyaman berada di sekolah. Beberapa hal yang membuatku tidak nyaman telah menimpaku.
Sampai pada pulang sekolah, di kamar aku tiba-tiba di panggil oleh pengurus keamanan pesantren. “Kamu nanti habis magrib ke kantor ya menemui saya!”. Perintah pengurus itu, akupun bingung mengapa aku tiba-tiba di panggil keamanan pesantren, semacam habis melakukan pelanggrana saja. “Oh saya ya mbak, iya mbak nanti sayake kantor habis magrib”. Jawabku dengan rasa penasaran. Habis magrib, aku langsung berangkat menuju kantor, aku penasaran mau di tanyai apa, perasaan aku juga gak berbuat pelanggaran.
“Assalamualaikum..”, ucapan salamku
“Waalaikumsalam, masuk”, suara dari dalam kantor menjawab salamku. Aku pun masuk dengan hati deg-deg an. Pertanyaan pertama yang di lontarkan kepadaku adalah “Kamu berangkat ke pesantren ini niat mencari ilmu bukan?”, sungguh pertanyaan yang menusuk batinku. “Ya iya mbak, aku kan di suruh orang tuaku untuk belajar di pesantren, untuk mencari ilmu disini, emang aku ada salah ya mbak?”, jawabku dengan nada yang agak tinggi. “Nah, kalo niat belajar di pesantren ini, kamu harus menaati peraturan yang berlaku disini, jangan semaunya sendiri dan di samakan dengan kamu berada di rumah. Pesantren ini kan juga bukan punya kamu atau keluargamu, sayapun juga begitu, hanya mengemban amanah sebagai pengurus disini. Tugas saya ya menertibkan santri-santri yang biasanya melanggar peraturan, seperti kamu sekarang ini, ya kan?”. Itulah yang dikatakan pengurus kepadaku.
“Lo lo lo, sebentar ya mbak, memang pelanggaran apa yang saya lakukan? Perasaan saya juga baru kemarin berangkat ke sini, saya juga mematuhi peraturan yang berlaku, malah saya juga belum semuanya tau apa larangan-larangan di pesantren ini. Mbaknya jangan sembarangan dong kalau nuduh orang!”, jawabanku dengan suara yang lantang. Aku ya gak trimalah, salahku apa aja aku gak tau kok udah di tuduh yang aneh-aneh. Bikin kesel aja jadi makin gak semangat deh di pesantren, banyak aturan, di larang ini itu sembarang lah di larang. Serasa di penjara kalau kek gini. “Lo kamu belum tau kesalahanmu apa?” , tanyanya. “Lo saya memang benar-benar gak tau mbak!”, jawabku. “Dari awal kan sudah di bilang kalau di pesantren itu dilarang membawa alat-alat elektronik dan sebagainya, tapi kenapa kamu masih membawanya?”, pertanyaan dari pengurus itu. Aku kaget, kok bisa aku di kira bawa alat elektronik, alat elektronik apa juga, HP juga di bawa ibuku kemarin pas nganterin aku.
“Mbak mohon maaf ya, sampai saat ini pun aku juga tidak membawa HP, aku juga tidak di bolehin lah sama orang tuaku, niat mondok kok malah membawa HP”. Kataku mempertegas.
“Ini tas mu bukan?”, sambil menyodorkan tas dari belakangnya. Entah, aku juga bingung mengapa kok itu adalah benar-benar tasku.
Sreekk..., membuka lerekan tasku dan yang tambah membuatku bingung, di dalamnya memang ada HP nya, tapi itu bukan HP ku, aku yakin pasti ada yang gak suka sama aku dan memfitnahku.
“Mbak sebelumnya mohon maaf, itu memang benar tas saya mbak tetapi HP nya itu bukan punya saya, bisa saja ada orang yang iseng nyembunyiin HP itu dalam tas saya, kan juga bisa gitu mbak?”, jawabku tetap menyangkal.
“Untuk sementara ini kamu menjalani hukuman yang berlaku dulu ya, karena bukti ini sudah lumayan kuat buat saya, dan saya juga mendapat laporan bahwa kamu memang agak nakal di pesantren ini.” Katanya dengan sangat santai. “Ya gak bisa seenaknya gitu dong mbak, ini kan pesantren harusnya lebih spesifik lah dalam menyelesaikan masalah, gak nemuin bukti langsung percaya gitu aja, bisa juga itu hanya bukti yang belum tentu benar, saya berani sumpah mbak kalau saya gakpernah sama sekali bawa HP”. Kataku sambil terisak, aku tak kuasa menahan air mataku. Baru juga jadi santri baru, tapi malah kenak fitnah besar gini. Jadi pengen pulang kalau gini aku ya allah.
Tetap saja pengurus itu tidak mau mencari bukti lagi. Terpaksa aku harus terima menjalani hukuman tersebut. “Jadi mulai besok kamu harus menyapu semua halaman pesantren pagi dan sore dengan memakai baju pelanggaran ya!” suruhnya kepadaku. Tanpa ada jawaban dari ku, aku langsung pergi dari tempat itu.
Aku lari menuju kamar dan entah berapa tetesan air mata yang sudah jatuh dari mataku. Sala satu temanku bertanya, “lo kamu kenapa kok menangis?”. Hanya gelengan kepala yang menjawab dari pertanyaan temanku tadi. “kenapa kamu? Coba ngomong deh sama aku!” bujukan dari teman yang tempat tidurnya sampingku, mega namanya. Dengan agak sesenggukan aku menceritakan semua yang sudah terjadi tadi. “Loh kamu di fitnah ya?” tanya mega dengan terkejut. “Kok bisa sih gitu, pengurusnya gak caritahu lebih dalam lagi apa ya?”, lanjut mega. “Aku juga gak tau meg, tadi aku juga udah jelasin semuanya tapi pengurusnya gak percaya Cuma gara-gara HP nya itu ada di tasku, padahal aku gak merasa punya HP yang kayak gitu”. Jawabku dengan terbata-bata. “Ya allah emang bener-bener ya gak kasian apa sama santri baru malah udah kenak pelanggaran, langsung berat lagi ini. Kamu yang sabar ya aku pasti bantu kamu kok gimana caranya agar terbukti itu HP nya siapa, udah kamu jangan nangis lagi”. Kata mega menenangkanku.
Malam itu tak terasa aku sudah terlelap tidur dengan air mata yang membasahi bantal. Tak terasa pun tiba-tiba aku terbangun dengan suara ricuh kamar yang entah apa penyebabnya.
“Padahal baru jam 03.00 lo kok udah ramai, ada apa si?” , tanyaku kepada Mega. “Ya allah, udah ketemu ternyata orang yang masukin HP di tasmu, ternyata dia kakak kelas tiga. Dia tadi malem ketahuan sama pengurus dan di tanyain sampai jawab jujur”. Jelas Mega. “Loh sumpah beneran Meg?, berarti aku gak jadi kena hukuman dong?”, mataku sambil melotot. “Ya enggak lah, kan udan ketemu tersangkanya, hemmm kan aku udah bilang kalau memang benargaksalah gak usah takut, kebenaran pasti terungkap kok, lah ini nyatanya!, Untung kamu belum ngejalanin hukumannya ya”. Mega pun mempertegas kalimatnya. “Hemmm ya alhamdulillah aku masih di lindungi oleh Allah Swt heheheh”, kataku sambil tersenyum lega seperti tak punya beban.
Memang ada-ada aja cobaan di pesantren, masih beberapa hari di sini ada aja yang bikin gak nyaman. “Udahlah, kamu harus sabar namanya juga penjara suci, ketat dengan aturan-aturan kepesantrenan yang harus di taati”. Nasehat dari Mega yang berusaha menguatkanku.
Satu minggu sudah aku berada di pesantren ku jalani dengan apa adanya. Menangis adalah hal biasa yang di alami oleh santri baru. Begitupun aku, sudah beberapa kali aku menjatuhkan air mataku dengan alasan belum terbiasa mungkin. Berbagai macam kejadian yang aku alami di pesantren, ada peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di pesantren seperti halnya, pada saat itu sedang ngaji malam hari bertempat di madrasah, memang di situ tempatnya bisa di bilang agak mistis, kakak-kakak kelas pun berkata juga tempat itu memang agak horor. Ketika guru menjelaskan pelajaran, tiba-tiba seketika ada anak yang menjerit sangat keras, semua kaget dan langsung jadi pusat perhatian satu kelas. Ternyata anak itu kesurupan penunggu yang ada di kelas itu. Beberapa anak ada yang lari cari air putih dan yang sebagian memanggil ustad yang bisa mengurus anak kesurupan itu.
Banyak hal yang terjadi di pesantren, belum juga ada satu bulan tetapi aku merasa ada ilmu atau beberapa hal bermanfaat yang sebelumnya aku tidak tahu. Adzan magrib telah berkumandang, aku mensegerakan minum air untuk membatalkan puasa. Tiba-tiba malam itu aku merasakan sakit pada tenggorokanku. Entah kenapa tiba-tiba untuk menelan berbagai macam makanan atau bahkan hanya air saja itu sangat sakit sekali. “Meg, kenapa kok leherku sakit ya?”, tanyaku kepada Mega. “Lo, la kenapa kamu habis makan apa tadi?”. Jawab Mega dengan nada agak naik karena khawatir. “Aku tadi cuma minum teh di masjid pas tadarus” jawabku. “ Ya sudah besok coba bilang ke pengurus agar di bawa periksa ke dokter”, kata mega besoknya suruh periksa ke dokter saja supaya kalau ada apa-apa bisa tau. Semoga saja tidak ada apa-apa dan cuma sakit biasa. Waktu itu aku langsung tidur dan tanpa sadar tiba-tiba sudah di bangunkan untuk sahur. Rasa sakit di tenggorokanku malah semakin menjadi, aku sampai tidak bisa menelan makanan untuk sahur. Terpaksa aku hanya meminum segelas teh hangat itu pun agak memaksa menelannya. Rasa sakit yang aku rasakan juga tampaknya berbeda dengan biasanya sakit tenggorokan pada umumnya. Entahlah, tunggu besok juga di periksa dokter pasti nanti tau sakitnya apa.
Matahari pun sudah menampakan dirinya dan bersinar terang menerangi isi bumi ini. Mega menyuruhku bersiap-siap untuk segera berangkat periksa ke dokter. Tadi pengurus juga sudah memberitahu untuk segera mempersiapkan diri dan jangan lupa memakai almamater. Aku pun mengiyakan perintah Mega dan segera berangkat ke dokter. Memang sebelum tenggorokankku sakit aku di serang batuk yang agak lama gak sembuh-sembuh. Malah mulai dari sebelum UN kelas enam dan sampai aku masuk di pesantren pun batuk itu masih ada. Cek up sudah pernah dilakukan dan hasilnya semua 100 persen sehat tidak ada penyakit apa-apa, kata dokter juga itu hanya batuk biasa. Mengingat itu pengurus yang mengantarkanku juga khawatir jika ada apa-apa yang tidak terdeteksi pada tubuhku. Akhirnya sesampainya di rumah sakit aku pun mengambil nomor antrian yang lumayan panjang. Hari itu tepat pada hari jumat jadi waktunya agak singkat. Ketika nomor urutan di panggil aku langsung masuk di ruangan yang di sediakan dokter. Aku mulai di tanya keluhan dan di periksa segala macem perut, mulut, mata, tenggorokan dan lain-lain. Pada saat dokter menyuruhku untuk menganga dan dokter menyalakan senter lalu di arahkan ke tenggorokanku.
Tatapan dokter saat melihat tenggorokanku agak aneh dan seperti ada apa-apa yang ingin di sampaikan. “Begini dek, kok seperttinya di tenggorokannya ada bintik-bintik putihnya, seperti gejala firus difteri”. Begitu kata dokter kepadaku. Ada bahasa yang terdengar asing di telingaku, ya firus difteri lah yang saat itu aku derita. Kata dokter penyakit itu masih langka karena firus ini merupakan firus yang di sebarkan oleh negara asing ke negara Indonesia entah apa tujuannya. Di daerahku saja aku pasien nomer dua yang terkena firus difteri ini. Agak sedikit bahaya firus ini karena sangat sekali cepat menular, hanya dengan cara berinteraksi saja sudah bisa tertular. Maka dari itu cara penyembuhan ini harus dengan perawatan secara intensif. Tidak boleh ada yang sembarangan bergaul dengan orang yang sedang menderita difteri. Mendengar kalau cara penyembuhan harus dengan cara rawat inap aku sedikit tercengang. Aku yang sangat takut dengan jarum suntik tidak bisa membayangkan kalau harus di rawat apalagi di infus. Saat itu juga pengurus langsung menghubungi pihak keluargaku untuk segera ke rumah sakit karena aku harus di opname.
Setelah keluargaku datang pengurus langsung membicarakan apa penyakit yang aku derita dan harus menjalani pengobatan secara intensif. Lepas dari itu ayahku berterimakasih kepada pengurus karena sudah membawaku ke rumah sakit dan pengurus itu langsung pamit pulang ke pesantren. Ibuku berkata kepadaku “Sabar ya, namanya juga cobaan orang mencari ilmu itu berat jadi gak usah sedih, lagian juga penyakitnya ada obatnya kok”, mendengar ibuku bilang seperti itu aku jadi semakin sedih, tapi sudahlah aku jalani saja mengikuti alur yang sudah di atur.
Tepat pada pukul 06.00 WIB ada perawat yang masuk ke kamar, aku sudah firasat pasti membawa jarum suntik. Ternyata apa yang aku fikirkan benar, perawat itu akan memberi obat lewat jarum suntik. Apalah daya pasien yang harus menuruti semua apa kata perawatnya. Rasa sakit yang aku rasakan sebenarnya sudah gak terlalu sakit, tapi mengapa kok aku masih harus di rawat dan terus di beri vaksin secara teratur. Saat itu hari raya tinggal satu hari, aku bertanya kepada ibuku, “bu, hari raya pulang kan? Tenggorokanku sudah tidak sakit”. “Ya kalau sudah sembuh pasti ya pulang berdoa saja”. Singkat jawaban dari ibuku. Membuatku agak sedikit lega karena ada harapan lebaran untuk pulang. Gak kebayang kalau lebaran masih di rawat di rumah sakit. Betapa trenyuh hati ini.
Sore itu, seperti biasanya perawat datang memberi vaksin lewat suntikan kepadaku. Ibuku bertanya, “maaf bu, apakah sebelum lebaran sudah bisa di bawa pulang ya? Karena kemarin kata anaknya rasa sakitnya sudah hilang dan merasa sehat?”. “Oh mohon maaf ya bu, besok dokter sendiri yang akan memeriksa untuk firus ini, karena kan ini harus dengan perawatan 10 vaksin bu besok akan di jelaskan dengan dokter sendiri, permisi bu!”. Sambung perawat itu dan langsung pamit untuk pergi. Mendengar penjelasan perawat tadi, mataku berembun dan aku tak bisa membendungnya akhirnya jatuhlah air mataku. Aku menangis tersedu-sedu apa yang aku takutkan ternyata memang benar-benar terjadi. Lebaran aku masih harus di rawat di rumah sakit dan hanya bisa menikmati jarum suntik. Tak ada henti-hentinya aku menangis sampai ibuku bingung bagaimana cara agar aku berhenti menangis. Bebagai macam rayuan ibuku lakukan hanya agar bisa membuatku tersenyum.
Esok paginya dokter yang akan memeriksaku datang dan mulai untuk mengecek tenggorokanku. Kata dokter, “Ini bintik-bintik putih yang di tenggorokan sudah hilang, tapi bukan berarti pasien sudah boleh pulang, karena firus belum 100% mati. Nanti di khawatirkan malah bisa menular ke orang lain yang berinteraksi dengan pasien. Jadi harus sembuh total dulu ya baru boleh pulang”. “Jadi lebaran masih di sini ya dok?” tanya singkat ibuku. “Terpaksa iya bu, harus 10x pemberian vaksin perhari, jadi setelah 10 hari nanti pasien insya allah sudah boleh pulang”. Penjelasan dokter dengan halus dan sedikit memberiku semangat. “Yang sabar ya dek, sembuh kok! Yang pentingkan bisa sembuh, gak usah mikir gak bisa lebaran ya, lebaran masih banyak kok, semangat ya dek!”. Itulah kata dokter yang gak membuatku senang tapi malah membuatku semakin terisak-isak. Tangis yang kemarin ternyata masih belum berakhir, masih ada sisanya. Ibuku lagi yang berusaha untuk menenangkanku agar berhenti menangis. Berbagai nasehat telah di lontarkan kepadaku, tapi entah apa yang aku pikirkan saat itu. air mataku tak bisa di bendung dan terus keluar. Matahari sudah tenggelam dan telah di kabarkan bahwa 1 syawal jatuh pada hari esok. Takbir pun berkumandang di tambah suara petasan yang begitu ramai bersautan. Baru saja aku berhenti menangis, tapi aku mendengar suara takbir bersahutan ramai disertai petasan yang berturut-turut tanpa henti membuat air mataku tak bisa ku tahan lagi.
Sebenarnya bukan aku saja menangis pada waktu itu, ibuku, ayahku semuanya menangis. Tapi tanpa sepengetahuanku, aku tahu kalau mereka menyembunyikan air matanya karena takut tambah membuatku sedih. Ibuku sempat menulis memo di hp nya “Untuk hari raya sekarang, sang buah hati hanya bisa merasakan sakitnya jarum suntik tanpa bisa menikmati kue lebaran yang manis seperti biasanya”. Aku sedikit terharu akan kata-kata ibuku tadi dan semakin tak mau berhenti air mata yang keuar. Tak henti-hentinya ibuku memberiku motivasi, semangat dan beberapa hiburan serta rayuan yang sekiranya dapat membuatku tersenyum. Tanpa ku sadari hari sudah pagi, hari itulah lebaran pertamaku di rumah sakit. Aku rasa kalau sudah tidak mendengar takbir, biasa saja rasanya malah tidak lebaran, seperti hari-hari biasa. Air mataku sudah tak keluar lagi. Mungkin puncaknya adalah tadi malam dan nafasku sampai sesak karena sangking lamanya menangis. Hari-hari pun aku jalani sampai pada akhirnya hari ke sepuluh pun telah tiba. Betapa senangnya hati ini setelah sekian lama 10 hari di rumah sakit tanpa boleh keluar sama sekali. Berasa seperti punya penyakit yang medis dab merasa diasingkan.
Firus difteri 100% sudah hilang dari tubuhku dan aku pun di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Tentu saja hati ini sangat gembira sekali. Sampai di rumah aku baru ingat kalau ternyata pesantren sudah waktunya masuk. Berhubung aku masih baru pulang dari rumah sakit, mungki ada dispensasi nya kalau telat tidak akan jadi masalah. Mengingat aku masih belum betah di pesantren, di tambah juga umurku saat itu yang masih terlalu kecil untuk jauh dari orang tua. Semua orang menyalahkan ibuku terutama nenekku. “Anak gak usah terlalu di paksa kalau gak kuat, kasian dia sampai sakit lama gitu juga”. Kata nenek ku dengan nada agak tinggi. Ibuku hanya terdiam. Hati dalam hatinya bekata, “penyakit juga bukan dari pesantren kok malah nyalahin pesantren”. Kemauan ibuku untuk menyekolahkanku di pesantren memang kuat. Jadi apapun yang terjadi ibuku tetap bersikeras untuk tetap menyekolahkanku di pesantren. Semakin hari aku juga sudah semakin baik, jadi ibuku sudah ingin mengantarkanku untuk kembali ke pesantren, nanti juga kalau lama-lama tidak masuk kan malah ketinggalan pelajaran dan malah tambah rugi. Seperti itu kata ibuku.
Aku denger-denger juga teman-temanku, terutama Mega, dia yang selalu menanyakanku bagaimana keadaan ku, kapan aku bisa kembali lagi ke pesantren dan sebagainya, karena dulu aku ngomong kalau sakit juga ke Mega, dan yang menyuruhku periksa juga Mega. Jadi dia khawatir akan keadaanku bagaimana sekarang.
Guru-guruku juga mencariku dan menungguku kembali ke pesantren bisa ngaji dan sekolah. Meskipun aku belum betah dipesantren, mendengar berita itu agak sedikit menyemangatiku untuk segera kembali ke pesantren.
Keesokan harinya, aku di antar oleh ayah dan ibuku berangkat ke pesantren. Ibuku mengantarku sampai kamar sama persis pada saat aku pertama kali masuk pesantren waktu itu. Saat aku mengucapkan salam, seisi kamarpun terdiam sejenak dan langsung menyambutku dengan hangat. Menanyakan kabar, ucapan maaf berhubung masih susasana syawal jadi teman-temanku semuanya bersalaman denganku. Aku agak sedikit lega dengan perlakuan hangat teman-temanku yang seperti itu.
Rasa nyaman pun akhirnya dapat ku rasakan di pesantren. Sampai akhirnya aku malah nyaman dan betah di pesantren, aku menemukan hal-hal yang indah. Setelah lulus SMP aku juga masih lanjut SMK di pesantren juga. Banyak yang aku temukan di pesantren sahabat, keluarga, kasih sayang, perjuangan, motivasi, semuanya ada di pesantren lebi tepatnya adalah Penjara Suci.



Comments