top of page

Pilu Dari Ujung Desa (Thoiah Amaliyah)

Dua tahun sejak tinggal dan berkarir di Ibu kota, aku mulai merasa asing dengan diriku. Kata teman lama ketika berkunjung ke kontrakan

“Kamu engga kenal tetanggamu? Apatis banget sih, padahal dulu kamu paling suka basa-basi”.

Aku hanya menanggapinya dengan senyuman ataupun hanya dengan lambaian tangan, mengelak bahwa memang di kompleks ini semua orang tidak saling kenal. Rumah-rumah dengan pintu gerbang besi, tetangga yang setiap hari hanya keluar untuk melangkah ke jalan raya, menyetop angkot lalu kembali berpapasan ketika sore hari, dengan wajah kusam dibaluri bedak murah bercampur minyak dan parfum imitasi bercampur bau keringat.

Tak ada waktu untuk bertegur sapa, semua serba lelah lalu masuk gerbang rumah masing-masing. Sibuk dengan beranda media sosial yang diabaikan sejak pagi. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di Ibu kota, sebuah pekerjaan yang selalu dibanggakan orang tuaku di kampung. Putri semata wayang mereka bekerja di Ibu kota, di sebuah gedung menjulang tinggi tak seperti kedua orang tuanya yang bergelut dengan kebun dan cangkul

Di tengah kejenuhan ibukota, aku mengambil cuti untuk berlibur ke sebuah desa yang pernah kusinggahi. Meskipun bukan desa kelahiranku tapi kampung itu cukup berkesan bagiku. Desa Kedungringin sudah jauh berbeda sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki ditempat itu. Empat tahun yang lalu, aku menjalani KKN di sana, tinggal di rumah pak RT dan bercengkrama dengan warga setiap hari.

Rumah-rumah penduduk sangat sederhana, tak ada pagar besi atau garasi, hanya halaman bersih dengan air irigasi yang mengalir di depan rumah berlantai semen. Setiap sore, mereka duduk di depan rumah tetangga, berkumpul di mushola atau di pinggir sungai, desa itu dipenuhi dengan canda tawa khas orang desa, mereka menertawakan apa saja, dimana saja asalkan bersama. Ah, desa Kedungringin adalah tempat yang sempurna untuk pulang.

Kini, aku tengah menginjakkan kaki di tanah itu. Sayup-sayup suara azan Ashar terdengar dari mushola. Bunga-bunga anggrek di depan rumah warga sudah tak terlihat lagi. Pot-pot dari ember plastik yang digantung telah jatuh ke tanah, menyatu dengan rumput liar, lalu kalah saing berebut air, anggrek-anggrek itu telah mati, mengering dan menunggu petugas pemerintah untuk datang membakarnya, berikut rumah-rumah penduduk yang atas nama pembangunan harus dirobohkan.

Aku membuka pagar kayu setinggi pinggang, berderit lirih menampakkan bagian depan rumah pak RT yang tak lagi kukenali. Pohon mangga yang dulu berbuah lebat, buah jambu yang selalu diincar anak-anak TPQ sepulang dari mushola, dan bunga mawar yang selalu kami rawat setiap pagi, kini mengering diterpa panas menyengat. Dengan ragu, ku ketuk pintu rumah pak RT sambil mengucapkan salam.

“Ya ampun, Nak, kamu masih ingat rumah ini?” Bu RT yang membukakan pintu, menutup mulut menahan tangis. Aku langsung berhamburan memeluknya.

“Saya lihat di TV Bu, pemerintah mau membuat bandara baru di sini. Semua warga terpaksa dipindahkan” aku berbohong, mengusap pundak Bu RT yang ringkih. Barangkali usianya enam puluh tahun, tapi kesedihan di wajahnya membuat ia nampak lebih tua dan tak berdaya.

“Di mana Bapak dan Sulton, Bu?” aku menanyakan Pak RT dan anak laki-lakinya yang dulu SMP.

Sulton adalah anak yang cerdas, pemikirannya jauh berbeda dari teman-temannya. Ia selalu menjadi ketua kelompok dan memimpin anak-anak desa dalam banyak hal. Bahkan, mereka pernah memenangkan acara festival kemerdekaan di provinsi, hanya berbekal ide cemerlang pemuda desa.

“Sulton sedang tidur, Nak,” Bu RT tersenyum, lalu menunduk menatap keset yang telah usang, bahunya berguncang seolah menahan tangis.

“Di kamar Bu?” Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.

“Tidak, Nak, Sulton menginap di rumah Anto,” tangis Bu RT kini memenuhi dinding-dinding rumah. Aku semakin tak paham maksudnya. Saat itu, ingatan tentang Sulton berputar begitu saja. Sulton yang selalu mengikuti kami, seolah ia mengerti apa yang kami diskusikan untuk program KKN, Ikut mengajar TPA, sosialisasi kesehatan, posyandu, rapat hingga larut malam dan banyak kegiatan lain. Sulton juga lah yang mengajak kami menyusuri sungai di perbatasan Desa Kedungringin dan Desa Turi, untuk memungut sampah lalu mendaur ulangnya menjadi mainan yang bisa dijual kembali.

Sulton memang berbeda dari teman-temannya, termasuk surat cinta yang pernah ku temukan di balik bantal ku. Aku tertawa membacanya, “Sulton kagum dan selalu merasa gugup setiap bertemu kak Dinda” begitu tulisnya.

Sejak saat itu, aku selalu tertawa setiap melihat Sulton, sengaja berjalan mendekati lalu mengacak rambutnya, dan Sulton hanya bisa tersenyum salah tingkah. Terakhir kali bertemu Sulton, yaitu pada malam perpisahan KKN. Dengan baju koko kebesaran, pemberian dari salah satu teman KKN kami, ia berjalan ke panggung rakyat, membacakan sebuah puisi berjudul Doa karya Chairil Anwar yang fenomenal itu. Sulton selalu bercita-cita menjadi kepala desa, sebab hanya itu cara yang ia tahu untuk melindungi desanya.

Sulton menyukai bau harum buah mangga, jambu dan bunga mawar selepas hujan. Semua itu, tidak akan pernah ia dapatkan di tempat lain, selain di kebun mereka.

“Ayo masuk dulu, Nak, duduk di dalam” Bu RT membuyarkan ingatanku, lalu kami masuk perlahan, menyaksikan barisan kardus bekas minuman kaleng dan mie instan yang telah penuh dengan pakaian, piring, gelas dan apa saja yang bisa diselamatkan dari keserakahan pembangunan.

“Sulton kelas berapa sekarang, Bu?” Aku bertanya penuh ragu, memperbaiki posisi duduk di tikar yang lusuh.

Tapi tak ada jawaban, wajah sendu Bu RT malah semakin bertambah, seolah kesedihan bertubi-tubi menyiksanya setiap hari.

“Assalamu’alaikum…” dari luar tedengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam.

Aku bergegas hendak membuka pintu, meninggalkan Bu RT yang masih berdiam diri menatap kamar kosong dihadapannya. Ketika hendak kubuka, pintu berderit lebih dulu.

“Pak RT…” sambutku pada Pak RT yang datang membawa dua kardus besar ditangan kanan dan kirinya.

Pak RT tersenyum lebar. “Wah, kedatangan tamu dari jauh ini. Kapan sampai sini, Nak?”

Pak RT mengajakku kembali duduk. Kini, kami telah duduk bertiga diantara tumpukan kardus dan baju kotor yang masih berserakan.

“Belum lama, Pak, sampai sini pas azan ashar di Mushola. Bapak dari mushola?”

“Iya nak, ngambil buku-buku Sulton dari mushola. Setahun lalu, sejak lulus SMP dia bawa semua buku pelajaran ke mushola, katanya supaya bisa dibaca anak-anak lainnya”.

“Kenapa diambil lagi Pak?” tanyaku penasaran.

“Buat apalagi, Nak? Lusa, mushola sudah mau dirobohkan, bapak tidak mau buku-buku kenangan Sulton ikut dibakar dan dirusak.” Jawab Pak RT.

“Kenangan?” Aku mengernyitkan dahi.

“Sulton sudah pergi, Nak Dinda… dua minggu yang lalu.” Ujar Pak RT sarat dengan kesedihan.

“Maksud bapak? Bukannya Ibu bilang Sulton nginap di rumah Anto?” aku melirik Bu RT yang berlari masuk ke kamar Sulton.

“Malam itu Sulton memang pergi menginap di rumah Anto Nak, tapi petugas sudah mulai membongkar desa sebelah. Anto dan keluarganya menangis, mereka pindah dibantu Sulton. Tapi tak ada yang tahu bahwa Sulton kembali ke rumah itu, ia bertekad mempertahankan rumah kawannya dengan melawan petugas. Lalu menurut laporan yang warga berikan di kepolisian, Sulton tertimpa puing-puing bangunan yang roboh karena tidak disengaja. Entahlah Nak” jelas Pak RT dengan menghela nafas panjang.

Akhirnya aku tahu, mengapa Bu RT terlihat lebih tua bertahun-tahun, kesedihan memenuhi seluruh guratan di wajahnya. Ya, anak semata wayang kebanggaannya telah pergi menukar nyawa demi kebebasan desa. Sayang, kini setelah ia kehilangan anaknya, ia juga harus rela kehilangan tanah dan semua kenangan yang ada didalamnya. Hari itu juga, aku kembali ke ibu kota, mengetik selembar surat pengunduran diri pada perusahaan ternama milik Negara. Aku mengubur semua harapan orang tuaku tentang menantu, semua imajinasi tetanggaku tentang para pengusaha yang berjas dan berdasi atapun wanita-wanita sosialita dengan bedak ketebalan. Aku pulang, memperjuangkan impian Sulton yang terinjak oleh pembangunan.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page