top of page

Rinduku Terobati Pilu (Uma Yaumil Khasannah)

Updated: Jul 29, 2019

Kampung halaman tempat terlahirnya wanita kecil mungil di desa rindang. Kicauan burung yang menari diatas langit, tanda hari sudah berganti, ayam berkokok seakan alarm setia para manusia, warga berbondong pergi meninggalkan rumah demi mengais sesuap nasi dan kebutuhan sekolah. Semua memberatkan materi untuk bertahan hidup serta bekal perjuangan, berjuang mengubah nasib malang menjadi cemerlang. Yaaa… itu sudah keinginan naluri manusia, menjadi terpandang jika rajin dan tekun dalam berjuang. Banyak manusia ingin bahagia dunia, berbagai cara menjadi halal meskipun tidak halal, kebutuhan dan keinginan selalu berdampingan dan rata-rata keinginanlah yang dikejar sampai ke teluk merah tanpa memikirkan jatuh mungkin tak lagi semringah.

Hidup rantau sudah menjadi bagian hidup wanita kecil nan mungil itu bernama Nasima. Alasan rantau bukan untuk mencari materi, namun mempersiapkan bekal untuk mencari materi. Dua malaikat selalu mendoakan dan mendukungnya, Bapak dan Ibu katanya. Bapak ibu sebagai alasan merantau mengais mencari meminta-minta ilmu, karena ilmu dapat mengubah nasib seorang hamba. Jerih payah mandiri hingga sakit tak dirasa begitulah nasibnya sebagai anak kost sederhana yang memiliki mimpi luar biasa. Nasima nampak enjoy dengan kehidupannya, kehidupan penuh pengorbanan untuk mencapai keinginan dan cita-cita, sosok yang memiliki hati tegar dan kuat sudah menjadi ciri utamanya.

Baginya harta milik orang tua tak dapat diandalakan untuk menjamin kehidupan dan ketergantungan. Kedua malaikatnya Bapak Nardi serta Ibu Nardi berlatar belakang dari keluarga kecil yang tak berlimpah harta, bersyukur dari cukup sudah hal biasa. Bapak dan ibu pernah berkata

nduk, dadio wong kang nduwe ilmu,insyaallah dadi wong kang ngerti mulyo mujur lan makmur uripmu mbesok”

Menjadi orang yang berilmu dapat mengubah nasib hidup yang susah menjadi makmur dan jaya suatu saat, pesan itu selalu diingat Nasima saat dia mulai lalai dalam menjalani proses mulia ini yakni ngangsu kaweruh. Pesan tersebut yang dapat menjadi sangu atau bekal dalam berjuang untuk tidak malas-malasan dan saat pulang akan membuktikan kepada dua malaikat tersebut bahwa buah hatinya dapat mengubah butiran debu menjadi butiran berlian yang berharga baginya.

Nasima bersemangat dalam mewujudkan hajat atau keinginannya, berjuang dengan ikhlas. Kesehariaan yang apa adanya, makan sedehana nasi putih tahu tempe menjadi penyandang makan khas dari sosok wanita kecil yang berjuang itu. Ibarat soro dilakoni, segala kesusahan dihadapi sebagai tantangan yang memerlukan waktu untuk memanen tanaman yang ditumbuh tersebut. Yaa, lagi lagi dua malaikat itu yang akan disapu air mata dukanya menjadi air mata bahagia. Keadaan dapat berubah dengan cepat,bisa saja Nasima berhenti berjuang karena sebuah alasan yang membuatnya patah bahkan hancur.

Ayah, manusia yang tak kenal lelah bekerja demi menghidupi keluarganya setiap hari raga serta fikiran selalu digunakan untuk mencari uang demi istri dan anak. Bagai cahaya yang tak pernah redup, bagai sinar yang tak pernah surut dan bagai rembulan yang kokoh dengan segala fungsi. Terik panas hujan tidak menjadi halangan, justru anugerah Tuhan yang besar, tantangan bukan suatu yang harus ditinggalkan bahkan tak dihiraukan namun tantangan dan cobaan memberikan bukti kuat “sing kuasa langit bumi lan seisine iku adil marang makhluk e kabeh”.

Tuhan semesta alam selalu berlaku adil terhadap makhluknya. Dengan akal dan hati manusia diberikan cobaan sesuai dengan porsinya masing-masing, hidup di dunia tidak selalu berada diatas ada kalanya dibawah seperti roda sepeda yang berputar. Begitupun dengan akar tumbuhan semakin tinggi pohon tersebut maka akan semakin banyak angin kencang yang menghadang. Artinya manusia yang diberikan cobaan dan tantangan yang semakin hari semakin berat, tandanya Tuhan menguji kekuatan manusia tersebut, jika berhasil menghadapi tantangan maka akan ada waktu indah yang menunggu didepannya kelak.

Nasima sehariannya hidup diperantauan, kampung orang dijajahi demi sebuah ilmu. Rasa rindu terhadap kampung halaman pasti menggebu, apalagi dengan kedua malaikatnya itu. Namun rasa rindu itu tak dapat bertahan dihatinya dengan kata baik-baik saja memang benar rindu itu anugrah perasaan yang mewakili rasa kasih sayang seseorang. Rindu itu menjadi pilu, pulang agar betemu mengobati rindu ternyata tidak sesuai dengan keadaan saat itu. Rindu yang seharusya menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan saat bertemu namun rindu kali berbeda tak terobati justru menyiksa rindu.

Berbohong salah satu sikap yang menjengkelkan dan menimbulkan malapetaka. Jika seorang telah berbohong satu kali pasti akan menutupi kebohongan itu dan tentunya banyak akibatnya. Ibu, yang selalu dia jadikan idola dalam hidupnya, ternyata menyimpan rahasia yang bisa dikata tak pantas untuk dicontoh. Terkejud dan heran dengan perilaku ibu yang seperti itu membuat rasa nyaman itu sedikit demi sedikit hilang terganti oleh rasa kecewa.

Bagi Nasima cobaan yang dititipkan Tuhan kali ini sangat berat, keluarga yang utama dalam hidupnya kini diuji kesabaran dan kekuatan hatinya. “dadi wong sabar iku akeh gudone nanging yo akeh ganjarane”, menjadi orang sabar itu banyak godaannya tapi juga banyak balasan pahalanya. Matahari mulai menampakkan sinarnya, diufuk timur sinarnya terbangun nampak cerah namun mendung berselimut. Nada handphone berdering, tanda pesan masuk diterima. Ibu yang berada didapur bergegas mengambil handphone yang terletak diatas meja belajar. Sedangkan Nasima yang sedang menonton televisi berjalan menuju meja belajar untuk melihat pesan tersebut namun Ibu meminta handphone itu secara paksa dari tangan Nasima.

Beberapa hari telah berlalu gerak gerik Ibu semakin hari semakin aneh dan suka menyendiri di dalam kamar. Ibu senyum-senyum tipis seperti orang lagi kasmaran dan jatuh cinta. Dahulu, Ibu tidak terlalu bisa dalam mengaplikasikan handphone, namun saat ini Ibu sudah sangat mahir dalam mengaplikasikan handphone bahkan perubahannya dapat dibilang berubah drastis.

Perubahan itu membuat Ayah dan Nasima merasa tidak nyaman dan curiga apa yang sebenarnya terjadi hingga Ibu berubah sering bermain handphone dari pada berbincang dengan Ayah dan Nasima. Ayah juga pernah bilang ke Nasima, “ndhuk, ibumu mojok tengah wengi lan saben isuk mbangkong”. Istilah mojok tersebut berati sedang melakukan perbincangan dengan lelaki. Mojok sering dilakukakan hingga tak kenal waktu, tengah malam dini hari hingga sore hari mungkin menerima telefon dari seorang misterius itu. Hingga pekerjaan rumah pun lupa diselesaikannya, yang akhirnya Nasima yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.

Peran sebagai ibu dan istri lama-kelamaan luntur bahkan peran tersebut tidak dapat dirasakan lagi oleh ayah dan Nasima. Rindu keluarga yang harmonis dan selalu ada dalam keadaan suka dan duka pastilah sangat dirindukan mereka. Kerja sama mencari rahasia yang disembunyikan Ibu adalah kunci utama agar keluarga yang utuh tesebut kembali seperti semula.

“Kenapa Ibu berubah ayah?” Nasima dengan nada kecewa mengutarakan isi hatinya.

“Ayah juga tidak tahu nak, kamu tidak usah memikirkan Ibumu,biarkan ibu mu mungkin ada hal penting yang sedang ia jalani dengan temannya. Kamu fokus saja dengan belajarmu, semoga nilai kamu memuaskan”. Ayah dengan nada tegas dan bijaksana.

“Aku mengetahui isi chatting ibu di handphonenya. Kata-kata yang digunakan dalam chat tersebut tidak pantas dan seperti anak muda saja yah, siapa itu? Aku tidak mengenalnya.” Jawab Nasima dengan rasa penasaran.

“Sudah, jangan dipermasalahkan biar Ayah saja yang menghadapi. Do’akan semoga Ibu selalu berada dijalan Allah.” Sahut Ayah dengan sangat sabar.

Rindu keluarga yang harmonis itu tentu. Menjadi angan dalam diam,menjadi benalu lebat di pagar yang kokoh merusak kekuatan hati menjadi misteri. Misteri, dipertanyakan selalu, dicari hingga bertemu dan saat bertemu lari dengan tesipu malu. Berasal dari jujur itu mahal, satu perbuatan meragukan atas bentuk penghianatan hancur seperti gelas antik yang semula indah nan bermanfaat seketika tak dapat berfungsi jika sudah pecah berkeping-keping. Menjaga lebih sulit daripada mencari, menjaga gelas antik kesayangan mungkin dapat using ataupun karatan disbanding mencari dipenjual barang antik mudah ditemukan bahkan mungkin lebih dari gelas kesayangan.

Kecewa, pasti ada. Anak berjuang untuk kebahagian orang tua, namun apa daya yang diperjuangkan mematahkan perjuangan itu. Dari mana lagi jika bukan dua malaikat dari kecilnya itu, dan untuk siapa lagi hasil perasan tenaga, perasaan serta fikiran itu jika bukan mereka. Semarah-marahnya anak terhadap orang tua tetap tidak tega, musibah berjalan silih berganti menjadi hampasan angin yang pergi lalu kembali,roda berputar dari atas ke bawah kembali lagi, serumit itu hidup didunia. Namun, Tuhan memberi dengan porsinya masing-masing, jika sabar tetap berjuang tanpa mengeluh maka selesai badai itu dan jika berdiam tanpa bertindak justru semakin kencang badai menerpa. Hidup bukan untuk disesali tetapi harus disyukuri. Kecewa, senang, sedih, patah dan sebagainya semua anugerah jika ikhlas menghadapinya.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page