Secarik Puisi (Rosa Ithrotul Jannah)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 4 min read
Kedai kopi bermunculan di mana-mana, tetapi warung kopi Mak Sir tetap menjadi favorit saya. Kopi bikinan Mak Sir tetap paling jos rasanya saya sudah merasakan bertahun-tahun dan tak ada rasa bosan.
Di warung Mak Sir saya bisa berkenalan dan mengobrol dengan berbagai macam orang. Petang itu, misalnya, saya berkenalan dengan seorang pria berbaju batik biru, namanya Romdhoni Kipli. ”Panggil saja Mas Kipli,” ujarnya.
Mas Kipli bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan kedua-duanya gagal.
”Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” katanya.
Untuk menuruti ambisinya, banyak harta benda yang telah dia korbankan. Dia sudah menjual tanah dan sapi di kampung, mobil, perabotan furnitur, dan barang-barang berharga lainnya. Bahkan, katanya, ”Seandainya saya punya kucing, mungkin saya akan jual kucing juga.”
Setelah didera berbagai kegagalan, Mas Kipli memutuskan untuk berserah kepada Tuhan, menjauhkan diri dari godaan duniawi. Dia ingin ikut membangun masyarakat yang bertakwa dan berakhlak mulia.
”Tak ada lagi yang bisa saya jual,” katanya. ”Satu-satunya yang masih bisa saya jual ialah….”
Dengan agak tergesa-gesa Mas Kipli beranjak dari duduknya, membayar kopinya, lalu pamit pergi katanya dia akan menengok dan mendoakan temannya yang sakit. Pada saat bersamaan saya merasakan bau kentut yang sangat menyengat. Saya dan beberapa orang saling memandang curiga, seakan-akan saling menyelidiki siapa yang telah melepaskan kentut tanpa bunyi itu. Sambil menutup hidungnya, Mak Sir mengarahkan telunjuknya kepada Mas Kipli yang sedang melangkah pergi. ”Orang itu memang suka kentut sembarangan,” cetusnya.
Sepulang dari warung Mak Sir, saya bersiap menyambut kedatangan Paman Ibad, senior saya. Saya dan teman-teman menyebutnya ”paman” karena sifat kebapakan dan sebagai guru dan pembimbing.
Paman Ibad baru saja pulang dari Tajinan. Seusai menjalani tugas selama dua bulan di sana.Paman Ibad mengajak beberapa temannyauntuk merayakan kebahagiaan dengan membacakan sebuah puisi dan membayarkan kopi serta beberapa makanan ringan.
Kegiatan iseng yang dipimpin Paman Ibad ini menarik perhatian beberapa remaja setempat. Mereka bergabung dengan kami dan kami oke-oke saja.
Para remaja itu tampaknya ikut terserang virus puisi. Mereka jadi hafal baris puisi yang berbunyi “setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”. Entah siapa di antara mereka yang mengubahnya menjadi Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti. Kata-kata ini mereka ucapkan di mana-mana. Kami gembira karena usaha kami meluluhkan hati dan jiwa melalui sastra di kalangan anak-anak muda mulai membuahkan hasil.
Di tengah kegembiraan kami merayakan rezeki Paman Ibad, serombongan pemuda setempat tiba-tiba mendatangi kami sambil menyerukan kata-kata bernada ancaman. Ternyata mereka mau menemui dan meringkus saya. Saya dianggap dan dituduh telah menyebarkan ajaran sesat.
Saya bingung, ajaran sesat mana yang saya sebarkan. Komandan pemuda setempat menunjukkan sesobek kertas bertuliskan Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti.
”Oh, itu puisi, kak, bukan ajaran,” saya menjelaskan.
Komandan pemuda setempat: ”Pokoknya, gara-gara puisi yang anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya.”
”Puisi itu menghaluskan jiwa, kak, bukan merusak,” timpal saya.
”Menghaluskan jiwa bagaimana? Karena terpengaruh oleh puisi ini, orang-orang di sini jadi tergila-gila dengan kopi. Dikit-dikit ngopi. Anak-anak jadi betah melek semalaman, lalu bangun kesiangan. Kita jadi susah ngebangunin mereka buat sekolah. Dikasih duit buat bayar sekolah malah dipake buat ngopi-ngopi.”
Paman Ibad melirik ke arah saya sambil pura-pura batuk-batuk, entah maksudnya apa.
”Kalau dapat rezeki, mestinya kan berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, bukan malah ngopi-ngopi. Yang bisa kasih kebahagiaan kan cuma Tuhan, bukan kopi.”
Saya tak tahu lagi harus bilang apa.
”Intinya kami minta pertanggungjawaban. Bisa jadi urusan polisi nih.”
Mendengar ”urusan polisi”, hati saya terguncang. Saya membayangkan hal-hal buruk akan menimpa saya.
Paman Ibad memberikan kode kepada Subagus agar segera menangani komandan pemuda setempat.
Subagus bangkit, mengajak komandan pemuda setempat bicara empat mata. Oleh komandan pemuda setempat, Subagus dibimbing untuk menemui pemimpin gerakan yang menunggu di seberang sana, di bawah pohon mangga. Ya ampun, ternyata itu Mas Kipli, pria tampan berbaju batik biru itu.
Saya tak tahu perundingan macam apa yang mereka lakukan. Saya hanya melihat Subagus berbicara dengan pemimpin gerakan dan komandan pemuda setempat sambil memiringkan telunjuk di jidatnya. Pasti dia bilang saya ini sinting, tidak waras. Saya juga sempat melihat dia merogoh saku celananya.
Setelah melalui perundingan yang cukup lama, pemimpin gerakan memerintah komandan pemuda setempat membubarkan rombongan.
Mungkin karena dianggap sinting, setelah itu saya dicuekin orang-orang. Hanya beberapa remaja yang tetap segan kepada saya. Saya sempat bertanya, benarkah orang-orang jadi tergila-gila kopi gara-gara puisi saya. Mereka bilang tidak tahu.
Ketika suatu sore saya keluar untuk cari angin dan beli rokok, saya melihat Mas Kipli sedang duduk manis menyeruput kopi dan melahap pisang goreng di warung Mak Sir. Setelah beberapa tidak singgah ngopi di warung Mak Sir. Mak Sir senang saya muncul lagi. Dia mengira saya pergi untuk tidak kembali.
Malam itu orang-orang di warung Mak Sir geger melihat Mas Kipli berlari kencang sambil berteriak-teriak minta tolong seperti sedang dikejar seseorang. Katanya dia mau ditangkap. Orang-orang bingung karena tidak melihat sosok yang memburunya.
Mas Kipli terus berlari menuju rumah saya. Dia minta perlindungan. Dia sembunyi di kamar saya. Sesaat kemudian ada orang datang: ”Mana Kipli? Kipli mana?” Saya terima dia dengan baik. Saya tanya, mengapa dia mau menangkap Mas Kipli. Ternyata dia cuma mau memberikan dompet Mas Kipli yang dia temukan di depan ATM. Saya terima dompet Mas Kipli dari orang tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih. Setelah itu, dia pergi sambil tertawa.
Mas Kipli tertegun sembari menenangkan jantungnya. Saat itulah dia merasa mantap untuk menempuh jalan kerohanian yang bersih dan berbuat baik kepada sesama. Saya mendukung niat sucinya.
Niat suci Mas Kipli mulai kelihatan ketika keesokan harinya dia mengajak saya ngopi di warung Mak Sir. Mak Sir heran melihat saya datang berdua dengan Mas Kipli. Namun, diam-diam saya tetap waspada. Siapa tahu kebaikannya hanya modus.
Sikap saya untuk tetap waspada terbukti tepat. Di tengah kenikmatan kami—para pengunjung warung Mak Sir minum kopi dan menyantap pisang goreng, tiba-tiba merebak bau kentut yang menyengat. Meskipun aromanya agak berbeda, saya sudah yakin itu pasti kelakuan Mas Kipli. Seketika itu pula saya kehilangan respek lagi terhadapnya. Orang semacam itu memang sulit berubah.
Sewaktu saya bergegas pergi, Mak Sir dengan cepat menggemggam lengan saya dan berkata pelan, ”Aduh, maaf ya tadi. Saya sudah enggak kuat nahan. Perut saya kembung. Untung enggak bunyi.”



Comments