top of page

Sekantong Biji Kacang Tanah (Abrilian Rahma Frisgi Destianti)

Pada suatu hari di sebuah desa Wonokromo mempunyai masyarakat yang sangat kekurangan sekali, entah itu mulai dari ekonomi maupun anak-anak nya yang ingin bersekolah. Masyarakat di desa tersebut memang bukan orang yang pemalas. Melainkan memang mereka tidak ada biaya atau modal apapun untuk memulai sebuah usaha. Mereka belum sama sekali mengerti tentang bertani ataupun yang lainnya, karena masyarakat di desa tersebut hanya menggantungkan dirinya dengan hasil alam disana untuk diri mereka sendiri. Masyarakat disana sangat kurang sekali ber sosialisasi, itu yang menyebabkan mereka tidak bisa berkembang. Seharusnya di dalam desa tersebut dibiasakan bergotong royong, kerja bakti, dan lain sebagainya. Tanah dari desa tersebut jugalah bukan milik mereka, tanah tersebut adalah milik saudagar kaya yang bernama Arif. Faktor tersebut juga membuat masyarakat di desa tersebut kesusahan.

Di sebuah desa tersebut ada seorang gadis remaja yang bernama Brilian. Ia adalah seorang gadis remaja yang ingin membantu masyarakat di desa Wonokromo tersebut. Brilian sangat antusias sekali membantu masyarakat di desa tersebut meskipun ia juga bisa disebut kekurangan ekonomi. Ia mempunyai tekad yang sangat besar sekali, segala upaya untuk menghasilkan uang dan membantu ekonomi di desa ini dan membangun sekolah untuk anak-anak. Tetapi, upayanya selalu terasa sangat kurang sekali bagi masyarakat di desanya tersebut. Ketika ia berusaha mencari cara lain, ada seseorang yang memanggilnya yaitu pak RT di desa tersebut. “nduk, tolong datanglah kamu ke sebuah kota dan bertemu lah dengan saudagar disana, ia bernama tuan Arif. Ia adalah pemilik tanah di desa ini. Buatlah janji dengannya nduk. “baik pak RT akan saya coba demi kemakmuran di desa ini”.

Hingga suatu ketika, Brilian pergi ke kota untuk menemui saudagar kaya bernama Arif tersebut dengan harapan si tuan kaya itu bisa membantu keadaan ekonomi di desa Wonokromo tersebut. Ketika bertemu dengan saudagar kaya tersebut, Brilian menceritakan bagaimana keadaan ekonomi dan pendidikan yang tidak memadai di desa tersebut. Gadis remaja tersebut sangat mengharapkan sekali bantuan dari tuan Arif yang kaya raya tersebut. Dengan nada bosan, tuan kaya tersebut berkomentar dengan santai “gadis muda, disini bukanlah badan amal yang memberikan sumbangan hanya cuma-Cuma. Kalau memang kondisi di desamu tidak memadai ya itu urusan mereka!”. Tampak sekali tuan tersebut tidak mempercayai ketulusan hati Brilian. Dengan putus asa, Brilian menyadari bahwa usahanya ini telah gagal.

Sebelum Brilian pergi meninggalkan tempat tersebut, brilian berpikir kembali dan berusaha dengan cara berkata kepada tuan Arif “tuan, apakah boleh saya meminjam sekantong bibit biji kacang tanah yang tuan hasilkan selama ini dan menanamnya di tanah milik tuan?, anggaplah hari ini tuan sudah membantu kami semua dan saya berjanji tidak akan mengganggu tuan lagi dan mengembalikan sekantong bibit kacang tanah yang tuan pinjamkan”. Dengan heran dan tanpa banyak cakap, tuan kaya tersebut dengan segera memberikan sekantong bibit kacang tanah yang diminta gadis remaja tersebut dan membolehkannya menanam di tanah miliknya.

Sepulang dari sana, Brilian langsung mengajak dan sekaligus mengajari warga desa untuk menanam biji kacang tanah tersebut diatas tanah milik tuan Arif yang kaya dengan atas izin nya. Dengan tekad kuat, Brilian yakin hanya dengan bekal sekantung bibit biji kacang tanah saja bisa menghasilkan kacang sebanyak yang tumbuh di ladang tuan kaya raya bernama Arif tersebut. Usahanya pun tidak sia-sia, Brilian dan masyarakat di desa tersebut berhasil membuat kacang tanah tersebut tumbuh sangat banyak seperti di ladang tuan Arif yang kaya raya.

Setelah Brilian berhasil panen, ia kembali ke kota dan mendatangi si tuan kaya tersebut dengan membawa sekanting bibit biji kacang tanah yang ia pinjam waktu itu. Ketika bertemu dengan tuan tersebut, “tuan, saya datang kemari untuk mengembalikkan sekantong biji kacang tanah yang saya pinjam waktu itu”. Dengan ekspreksi kaget, tuan Arif menjawab “apakah desamju sudah Makmur seperti yang kau inginkan?”. Lalu, Brilian menceritakan semuanya dari mulai ia dan warga desa Wonokromo menanam hanya sekantong biji kacang tanah sampai memanen sebanyak itu. Brilian meminta tuan Arif untuk datang ke desanya dan memintanya untuk melihat hasil panen dari kami.

Keesokan harinya, tuan kaya raya bernama Arif tersebut datang ke desa Wonokromo tersebut. Ia sangat terkesan dengan hasil usaha dan ketulusan hati Brilian yang ingin membantu keadaan yang sulit di desa Wonokromo tersebut. Tuan kaya raya ini malah menyumbangkan alat-alat pertanian, mengajarkan cara bertani kepada masyarakat di desa tersebut sampai membeli semua hasil panen yang dihasilkan masyarakat di desa itu. Tiba-tiba kehidupan di desa tersebut berubah total hanya dengan bekal sekantong biji kacang tanah. Mereka mampu menghasilkan uang dari panen tersebut, hidup mereka lebih sejahtera, dan bahkan mereka sampai mampu membangun sekolah untuk pendidikan anak-anaknya. Sungguh perjuangan gadis remaja yang sangat membanggakan dan patut dicontoh. Benar seperti kata pepatah “usaha tidak akan menghianati hasil”. Seluruh penduduk di desa tersebut selalu bersyukur dan sangat berterima kasih atas jasa gadis muda bernama Brilian.

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page