Tentang Secangkir Kopi (Amalia Khoirunnisa)
- Coastrac 18

- Jul 26, 2019
- 4 min read
Updated: Jul 29, 2019
“mengaduk kopi dengan air panas seperti sedang ingin di rindukan apalagi mencicipi pahitnya kopi bahkan rasa ku semakin bertambah”
Cahaya malam ini tidak terlalu redup bahkan udara yang hangat tiba tiba menjadi sangat dingin. Semakin malam semakin banyak orang berdatangan mengunjungi cafe tempat kerjaku. Aku anak pertama dengan keadaan yang alhamdulillah berada tapi sifat manja membuat ku ingin merubah hidup sebagai anak yang mandiri, karena menurutku keadaan orang tua ku yang seperti itu tidak selamanya, bisa saja tiba-tiba berada dalam keadaan yang sebaliknya, tidak ada yang tau kan kedepannya seperti apa, makanya aku memutuskan untuk bekerja sekalian membantu ayah untuk membayar biaya kuliah dan kos, itung-itung mengurangi beban ayah ku.
Setiap harinya aku selalu menuangkan air panas pada gelas, mengitung jumlah sendok yang berisikan gula dengan meletakkan nya kedalam gelas, mengaduknya lalu mengantarkan kepada pelanggan. Setiap malam selalu seperti itu. Belum lagi pelanggan-pelanggan yang genit mencoba mengganggu.
Aku suka kopi, makanya aku memilih menjadi barista. Dengan airnya yang harus mendidih ataupun dari kopi yang memang pahit itu, lucu mungkin jika bikin kopi tapi airnya dingin, dengan rasa yang manis. Apa bedanya dengan es cappucino kalau membuat kopi dengan rasa yang seperi itu, dulu aku pernah mencoba membuat kopi dengan air dingin, aneh rasanya, bahkan serbuk tidak bisa menyatu dengan air. Disitu lah kenikmatan di dalam kopi saat di munumnya, dengan rasa pahit dan air panas yang mendidih.
”mbak kopi susunya satu” kata salah satu pelanggan yang ternyata kekasihku.
“delapan ribu mas” tanpa kusadari yang memesan tadi adalah kekasih ku sendiri.
“kirain siapa” muka kaget dengan tampang malu-malu kucing.
Oh iya kekasih ku tadi memang tak terlalu suka kopi alias bukan menikmat kopi, pesannya saat memesan kopi selalu “susu nya banyakin” jadi yang biasanya hanya dua sendok saja takarannya tapi jika dia yang memesannya beralih menjadi tiga sendok. Baru baru ini saja dia memasan kopi biasanya selalu cokelat panas.
Lalu ku buatkan kopi susu dengan rasa tersipu malu karena rekan kerjaku mengolok i.
“ciee ciee di samperin pacarnya” kata bang hendra rekan kerjaku
“apa si bang” jawab ku malu malu kucing
“kok yang di aduk Cuma cokelat panas aja, mentang-mentang pesanan pacarnya” dengan muka mengejeknya
“lah kan aku juga ngaduk ini bang” jawab ku kesal
“haha iya iya anter ini ya di meja sepuluh sama punya pacarmu”
Rame pelanggan membuat ku bingung, bikin soda gembira malah pakai air panas, pesen nya kopi hitam bikin nya kopi hijau, lemonti tertukar dengan es teh, Sampai pelanggan protes sana sini. Hal yang biasa kata semua rekan kerjaku. Teman-temanku yang awalnya ngopi di daerah malang kota malah beranjak ke tempat kerjaku, bermain uno sambil tertawa bahagia, ada juga yang sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Pada suatu malam aku tidak ada yang menjemput karena semua sibuk, ada yang ga bisa jemput karena di luar dingin, sedangkan kekasihku sedang sibuk bekerja, akhirnya aku memutuskan untuk pulang dengan ojek online, udara sangat dingin sedangkan aku deg-degan takut kenapa-kenapa karena malam mulai larut jalan mulai sepi, jam pukul dua,
“mbak ke jalan nemptunus ya?” kata abang ojek nya
“iyaa” jawabku
Di perjalanan..
“mbak ini jalan lurus bisa kan ya?”
“bisa kayaknya bang” jawab ku
Aku baru inget kalau jalanan ini itu jalan nya sepi trus gak ada penduduk nya gitu soalnya bukan perdesaan, panas dingin aku (semoga aku ga di apa-apain) dalam hati aku berdoa terus. Setelah melewati jalanan sepi tadi akhirnya sampai juga di depan kost. Setiap malam setelah kerja perutku selalu terasa lapar, mau makan gak ada makanan, mau masak juga gak ada yang bisa di masak, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja, besok pagi masi bisa makan kan (kataku dalam hati).
Hari ini sangat cerah, tetapi masih terasa sejuk, bangun tidur ingin langsung beranjak mandi, tapi air terasa dingin seperti ada es batunya, setelah tadi malam tidur jam setengah tiga paginya aku kuliah pukul setengah tujuh, pengan rasanya tidak kuliah, tapi ya gimana lagi, tujuan ku kerja bukan seharusnya menjadi penghalang ku untuk berangkat kuliah.
“din mata mu kok bengkak abis nangis ya?” salah satu temen ku bertanya.
“bengkak dari hongkong” jawab ku ngegas.
“seriusan matamu bengkak tau” tegasnya lagi.
“enggak silfiiiii aku ga nangis”
“oalah yaudah kirain nangis”
(padahal mataku bengkak karena kurang tidur)
Setelah seharian di kampus aku merasa sangat lelah, ga capek si sebenrnya, tapi ngantuk banget, seharian Cuma tidur tiga jam di tambah nanti malam aku kerja lagi pukul delapan.
“din kamu kerja lagi malam ini?” tanya salah satu temen kos ku.
“iya fah aku kerja lagi malam ini” jawab ku
“oalah yaudah aku berangkat duluan ya” kata temen ku yang juga sedang bekerja di salah satu stand mall di malang.
Di cafe malam ini sangat sepi, membuat ku sangat ngantuk karena tidak ada kegiatan sama sekali, akhirnya aku sekalian membuka laptop untuk mengerjakan tugas kuliah ku, lama-lama aku merasa sangat ngantuk akibat istirahat yang kurang, aku tertidur lama sampai ketika pelanggan datang malah kembali untuk pulang karena merasa tidak ada orang di dalam cafe. Tanpa disadara ternyata bosku melihatku dari cctv, di grub whatsap rame karena bosku yang sedang marah-marah.
“siapa yang malam ini jaga? Kok tidak ada orang di cafe? Pelanggan semua pada balik karena gaada yang melayani”, tanya bang har bosku dengan nada tinggi.
“tadi pas saya pulang masi ada dinda bang jaga sambil nugas” kata bang syahrul rekan kerjaku.
“kamu dimana sekarang rul?” tanya bang har.
“di kampus bang masi penelitian buat skripsi”
“yaudah nanti kalau sudah kelar tolong bangunin dinda ya, percuma di bayar kalau datang malah tidur” kata bang har sambil marah-marah.
“siap bang”.
Aku tertidur cukup lama hampir satu jaman,
“din, bangun din, di marahin bang har lo di grub” bang syahrul mencoba membangunkan’
“masyallah bang aku ketiduran, maaf bang, trus bang har gimana? Tadi cafe sepi terus aku ngantuk eh malah ketiduran” kataku mengeles
“yaudah gapapa din, lain kali jangan seperti itu ya, coba kamu chat di grub minta maaf sama bang har bilang kalau kamu kecapean”
“siap bang”
(Di grub)
“maaf ya bang aku ketiduran”
Singkat cerita akhirnya bang har memaafkan karena keteledoran ku yang hobi tidur, yang awalnya aku selalu mengaduk kopi mengantarkan ke pelanggan, mengaduk kopi mengantarkan ke pelanggan selama lima bulan seperti itu terus, setelah itu aku menjadi kepercayaan bang har lalu aku di jadikan manager cafe, dengan gaji yang menurut ku gak terlalu banyak itu aku memutus kan untuk resign hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk membuka cafe sendiri dengan modal sendiri dari hasil kerja keras ku menabung selama ini.



Comments