top of page

Tunggu Aku Dalam Muroja’ahmu (Icha Nurhalimah)

“ Jodoh, semua orang dibelahan dunia sangat menanti itu, tanpa mereka sadari ada hal yang begitu penting yaitu maut. Didalam Al-quran sudah dijelaskan setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Entah jodoh atau kematian yang menghampiri kita terlebih dahulu yang terpenting teruslah memperbaiki diri”

Namaku Muhammad Hisyam, aku tinggal di desa yang tak jauh dari wisata gunung Bromo. Cita-citaku dari kecil ingin sekali bersekolah di luar negri. Takdir berkata lain, sampai saat ini aku masih berada di dalam lingkungan pondok pesantren yang tak jauh dari rumahku. Pondok pesantren Darul Quran, sekarang menjadi tempat dimana aku mencari ilmu dan mengabdi. Ditempat inilah aku mempunyai segudang cerita senang maupun sedih dan menjadi sejarah disaat aku pertama kali mengenalnya. Wanita itu bernama Fatimah Az-zahra, darinya aku banyak belajar mulai dari bersabar menanti, memperbaiki diri, hingga memantaskan diriku agar aku bisa mendapatkan- nya.

Setiap pagi, aku duduk di depan masjid. Menunggu munculnya fajar dan sesekali kumelihat didalam rumah Abuya. Abuya itu panggilan santri kepada pengasuh pondok. Setiap harinya, aku duduk disitu siapa tau fatim berada disana, karena dia merupakan putri dari Abuya. “kang, ngelamun aja?” Salim datang dan mengagetiku. “Astaghfirullah saliiim, ngagetin aja” sahutku dengan mengelus dada. Salim merupa- kan teman dekatku satu kamar, anak yang menjengkelkan tapi dia anak yang begitu cerdas dan sudah menghafal 30 juz Al- Qur’an. “mari kang, kita setoran dulu ke Abuya santri-santri sudah pada kesana” Salim mengajakku dengan terburu-buru sambil membawa dampar (meja kecil untuk mengaji). “setoran ke Abuya? Ana masih ada yang belum hafal lim gimana ini?” sahutku gelisah. “ sudah lah kang, nanti aja disana. Siapa tau nanti ketemu neng fatimah didalam, hahaha.” seru Salim sambil mengejekku. “iya udah lim, tunggu ana disana” pintaku.

Tiga bulan telah berlalu, dan hari ini adalah saat yang ditunggu-tunggu para santri yang akan diwisuda. Pagi ini, hari sangatlah cerah dan ditempat yang sama ku duduk di antara fajar yang datang dengan membawa berjuta pertanyaan. Entah dia membawa kabar gembira atau sebaliknya. Mataku dengan lirih tersenyum, seakan-akan menertawakan kita yang semakin hari semakin menjauh. Sesekali, dengan sangat yakin aku mengharapkan pelukan hangatnya yang akan datang suatu saat nanti. “Akankah setelah perpisahan dia akan datang kepadaku?”, berkali-kali kalimat ini terlintas dipikiranku.

Aku hanya bisa bermimpi tentangnya. Dimana hanya satu inginku suatu saat nanti ia bisa bersamaku sampai disurga-Nya kelak. Pertanyaan ini, menemukan sebuah titik temu “yaa Muqallibal Quluub, wahai zhat yang maha membolak- balikkan hati tetapkan dan teguhkan hati hamba dalam mencintainya, semoga Engkau meridhoi disetiap langkah kami”. dari sini aku hanya bisa meminta kepada Allah, untuk selalu menetapkan cintaku padanya. Acara demi acara telah selesai. Kamipun menyibukkan diri untuk berfoto bersama teman lainnya. Dari kejauhan, aku tidak sengaja melihatnya. Sudah terlihat, senyumannya yang membuat hati ini melemah seketika. Ingin sekali rasanaya aku memberanikan diri untuk mengungkap- kan apa yang sudah lama terpendam didalam hati. Tanpa di sadari, dengan rasa yang begitu berdebar kaki ini menghampirnya dan kini aku tempat berada di depannya. “Terimakasih telah menemuiku.” ucapannya lirih.

Ketika, ucapan itu keluar dari bibirnya seketika aku kembali melemah. Kenapa dia sangat senang sekali saat bertemu denganku? apa dia sudah mengetahui kalau aku mencintainya? sejak kapan dia mengetahu itu semua? Banyak sekali pertanyaan didalam fikiranku yang seketika muncul karena jawaban itu.

“jangan mengucapkan terimakasih, karena ini adalah pertama dan mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita saat ini. Aku akan melanjutkan mencari ilmu di negara seribu wali, izinkan aku untuk pergi kesana dengan tenang. Meskipun akan beberapa kali rindu ini akan menghampiriku tanpa memberi tauku terlebih dahulu.” balasku tanpa melihat mata indahnya. “Baiklah, aku bisa menerimanya dan mengizin- kan akhi untuk pergi, disini aku juga akan menunggu akhi sampai kembali dan akan meneruskan perjuanganku untuk menghafal al-Quran” ucapnya dengan penuh ke- lembutan. “Tunggu aku dalam muroja’ahmu, disitulah kamu akan mendapatkan ke- sabaran yang luar biasa” sahutku.

Terlihat senyuman dari bibir kecil itu, membuatku sangat lega dan bisa melangkahkan kaki tanpa membawa beban berat. “saya pamit dulu, semoga kita di pertemukan kembali pada waktu yang sudah ditentukan oleh-Nya suatu saat nanti. Assalamualaikum”, langkak kaki semakin menjauhinya “Aamiin, waalaikumsalam” sahutnya lirih. Tidakku sangka ternyata selama ini dia juga mempunyai rasa yang sama denganku. Aku kira, aku hanya melihat dirimu yang tak pernah melihatku. sungguh ini membuatku ingin terbang keawan, menikmati rasa yang sudah lama terpendam dan mendapatkan sebuah timbal balik yang baik. Aku sangat yakin dengan doa yang selama ini ku panjatkan. Setelah pertemuan itu aku selalu bersyukur atas rasa yang telah Engkau berikan kepadaku. Tapi, bukan saat ini untuk memakaikan setempel halal untuknya. Masih ada mimpiku dan mimpinya yang akan kita per- temukan suatu saat nanti. Kesuksesan kita juga harus kita bayar dengan jerih pahayah dan keringat-keringat yang menemani kita. Aku harus membanggakan kedua orangtua ku terlebih dahulu sebelum membahagiakannya.

Setelah, aku mencoba mendaftarkan diri ke universitas di Yaman. Alhamdulillah ternyata aku diterima disana. Aku harus meninggalkan semua duniaku yang ada di kampung halamanku. Akan ku simpan baik-baik duniaku saat ini dan Akan ku buka lembaran baru lagi. Untuk memulai dunia baru dinegri yang selama ini banyak santri dari berbagai negara menginginkan berilmu disana.

Ayam jantan, sudah terdengar berkokok pertanda fajar akan datang. Mata ini tak seperti biasanya yang sering menunda-nunda untuk bangun melaksanakan sholat. Kali ini seruan itu membuatku sanagat bahagia, karena tepat dihari ini aku akan berangkat ke Yaman. Cita-cita yang sudah lama menjadi mimpi dan kini menjadi sebuah kenyataan. Aku bergegas mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat. Tak ku sadari, Ibuku ternyata sudah terbangun terlebih dahulu. Melihat, wajahnya yang se- makin hari semakin terlihat cantik membuatku meneteskan air mata dan ibu seketika memelukku dengan air mata yang jatuh begitu deras. Semakin tak inginku beranjak untuk pergi, tapi bagaimana lagi? Aku ingin menjunjung namanya, membahagikannya dan menunjukkan bahwa aku bisa mewujudkan mimpi ini

Awalnya ibu adalah orang yang tak merestui keberangkatan ini. Ibu tak sanggup jauh dari ku, umur ibu sudah menginjak kepala lima, ibu hanya takut jika maut mendahuluinya. Dan tak bisa lagi mengantarku sampai aku menikah. Hanya bapak yang bisa menaklukan hati ibu, hingga aku mendapat restu darinya. Sesampainya, aku dibandara ibu selelu bertanya, “apa yang belum kamu bawa?, apa ada yang tertinggal?, nanti kalo dipesawat jangan lupa berdoa, sesampainya disana jangan lupa kabari bapak sama ibu disini”. Rasa khawatir membuatku tak henti meneteskan air mata, aku tak pandai menyembunyikannya.“sudah ibu, semua sudah Hisyam bawa. Insyaallah tidak ada yang tertinggal. Ibu, bapak jaga kesehatan, Hisyam akan selalu mendoakan agar selalu didalam lindungan-Nya. Doakan Hisyam agar bisa lulus dengan cepat” sambilku mencium kaki surga mereka berdua. Susasana semakin haru.

Bapak ibu sudah meninggalkan bandara terlebih dahulu, karna hari sudah hampir petang.Aku duduk bersama teman-temanku diruang tunggu. Dari jauh sempat aku mendengar ada yang memanggilku. “Hisyam” panggilan itu samar-samar, “mas, Hisyam” panggilnya sekali lagi. Sepertinya aku kenal dengan suara ini, aku mencari sumber suara itu. Tak kusangka, dari jauh aku melihat senyuman indah itu dengan berlari kearahku. Dia semakin mendekat kearahku. Apakah aku sedang halu? Ternyata, “ neng fatimah, lagi ngapain disini” perasaanku tak karu-karuan, “hari ini, aku akan berangkat untuk menunaikan ibadah umroh mas, aku tadi enggak sengaja melihat mas Hisyam disini. Kenapa enggak ngabarin fatim, kalau pergi ke Yaman hari ini?” tanyanya. “hmm iya neng, sebelumkan maafkan ana, enggak ngasih tau keberangkatan ana..”tegasku.

Dia hanya tersenyum yang membuatku semkin salah tinggkah. Suara dering panggilan masuk dari HPnya mengakhiri pertemuan kita,” sudah dulu ya mas, aku pergi dulu umi sudah menelfonku, semoga selamat sampai tujuan. Jaga hati untukku jangan lupa saling mendoakan satu sama lain”. Dia pergi dengan berlari. ” jangan lupa kabarin fatim” senyum terakhir itu selalu terbayang-bayang belum sempat aku menjawabnya, dia sudah berlari menjauhiku. 15 menit merupakan pertemuan ter- lamaku dan menjadi akhir aku bertemu dengannya sebelum keberangkatanku ke Yaman.

***

KOTA SERIBU WALI

Sedalam aku menunggu, sedalam pula aku mencintainya. Dua tahun sudah berlalu aku berada di Yaman. Liburan semester ini, aku memutuskan untuk tidak kembali ke tanah kelahiranku. Aku memutusknan untuk pergi berziarah ke makan Nabi Muhammad SAW, bersama teman-temanku. Sesampainnya di kota Madinah, aku memilih tidak mengikuti temanku yang bersinggah dirumah kerabat siridwan. Aku memilih berdiam diri di Masjid Nabawi, karena aku hanya ingin melepas rinduku kepada Nabi Muhammad SAW.

Di dalam masjid Nabawai, tepat diatas karpet berwarna hijau yang banyak di kenal orang dengan sebutan Raudhah artinya “taman surga” (antara rumah dengan mimbar Nabi Muhammad). Terdapat sosok lelaki yang mulutnya sedang me- lantunkan ayat-ayat indah sesakali air matanya keluar. Sudah 8 hari dia berada di tempat itu. Dia hanya keluar ketika merasa ingin kebelakang mengambil wudlu. Dia terlihat begitu kusut tak berdaya entah apa yang sedang dia rasakan, sososk itu adalah Hisyam yang sering dikenal akan keceriahannya. Akhirnya, kedua orang temannya menghampiri dia, Idris dan Ridwan. Temannya selalu membujuk untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tapi, Hisyam selalu diam dan membisu. Hisyam sendiri tak tau mengapa dia merasa seperti ini apa yang sedang dia rasakan. Di dalam otaknya hanya ada nama orang tua dan sesekali nama Fatimah juga ikut muncul. Entah ini pertanda apa Hasyimpun juga tak tau. Mungkin ini rindu atau malah hal yang tak diinginkannya.

Tanya Idris,dia teman baikku yang berasal dari Jeddah

[1]“شام،مابالك؟”

Sahutku “..ماعرفتماذابي”

[3]“خلاصياشام،كنتفيالمسجدالنبويثمانيةايام،حيبنانذهبالىالفندوق،عليكالراحة”

Idris berusaha menenangkanku,

[4]“!ايواه،كلامهصحيحياشام،تحتاجإلىالراحة،نحناصدقائك،تكلماليناعمابك! لستمثلاول”

sahut Idris,

[1]1" syam apa sih yang kamu pikirin"

[1]2" entah, aku juga tak tau apa yang sedang aku rasakan."

[1]3"sudah lah syam, udah 8 hari kamu berada di masjid nabawi, ayo lah kita ke hotel saja kamu butuh istirahat"

[1]4 iya syam, bener kata Idris. Kamu butuh istirahat, kita kan sahabat klo kmu ada apa2 cerita aja, gak kayak biasa kamu kayak gini"


Akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengan mereka. Dalam perjalanan ke rumah, Ridwan mengajakku mampir untuk membeli Al- Baeek (makanan ayam yang cukup terkenal disana). Aku dan Idris menunggu didepan toko itu. Diseberang jalan, aku melihat dan terus mengamati. Sepertinya aku tak asing dengan wanita yang ada di toko itu. Aku mencoba memanggilnya, “neng Fatimah”. seketika akupun ingin memeluknya ketika dia menoleh ke arahku dan memberikan senyuman manis yang dulu pernah dia berikan kepadaku ketika aku hendak pergi ke Yaman.

“Akhi Hisyam, masyaallah tak kusangka kita akan bertemu di tanah suci ini”

Masih tak kusangka, didalam hatiku aku terus bersyukur telah dipertemukan olehnya.

“iya neng, Apa kabar?”.

“Alhamdulillah baik, apa kabar juga Akhi disini?”,

“Alhamd....” belum sempat aku menjawab dengan lengkap, ada lelaki yang seusiaku memanggil fatim dari kejauhan,

“ Fatimah, Ayok kita balik ke hotel” lelaki itu dengan tanpa berdosa memotong pembicaaran ini.

Seketika suasana menjadi hening, tak lagi ku menatap mata itu dana dari toko Al- Baeek juga Ridwan terdengar memanggil namaku.

“ Maaf neng saya izin pamit dulu, Assalamualikum” aku berpamit tanpa aku melihat mereka berdua.

“Walaikumsalam” sahutnya

Didalam hatiku terus beristighfar, ingin rasanya aku menyalahkan semua orang yang berada disampingku. Sesampainya di rumah Idris menanyaiku, idris merupakan saudara sepupu, kita sama- sama menimba ilmu di Yaman.

Bang, siapa cewek yang tadi itu? Sepertinya dirimu jadi kayak gini gara-gara dia?”

“aku baik-baik saja dris” jawabku singkat

“aku paham betul kamu bang, kalau kamu baik-baik saja kamu tak akan seperti ini? Ceritalah aku pasti akan membantumu, selagi aku mampu.”

“sudah terlambat?”

“apa wanita yang tadi itu adalah Fatimah yang selama ini kamu ceritakan?”

“ sudahlah dris, aku tak mau membahas ini”

“ jodoh dan mati sudah ada yang mengatur bang. La Tahzan, Innallaha Ma'ana. Jangan bersedih hanya gara-gara ini bang, ingat jodoh cerminan diri. Kalau kita meningkatkan diri kita, insyaallah disana juga akan menyiapkan dirinya juga. Dan ingat bang, kematiaan juga perlu kamu ingat, jangan hanya kamu menjemput jodoh sedangkan ajal kamu lupakan ”.

Seketika aku hanya bisa terdiam dan membisu. Hal seperti itu membuatku melupakan apa yang sudah di takdirkan dan kematiinpun hampir selalu kujadikan opsi kedua, ketika aku sedang berada dalam ingatannya. Aku terus beristighfar didalam hatiku.

“Ya Allah sang pemilik hati, rasa ini datang atas kuasa yang telah Engkau berikan kepadaku. Jika dia memang benar jodohku . Dekatkanlah kami dengan caramu. Satukanlah kami dengan ridho-Mu. Namun jika yang ku mau bukan takdirku. Maka tolong damaikanlah hatiku. Dan ikhlaskan jiwaku agar bisa menerima kenyatan yang telah Engkau berikan kepadaku.”

Ridwan memcahkan suasana dengan memanggil kita untuk menikmati hidangan yang sudah dia siapkan untuk kita makan. Kita makan diruang tamu yang terdapat TV, Idris menyalakan TV itu. Tepat sekali kami sering melihat berita disekitar kota kita, hari ini berita yang sedang tayang di TV adalah kecelakaan pesawat yang me- newaskan 1438 korban jiwa. Pesawat Saudiah ini membawa orang dari berbagai macam negara, masih belum jelas apa penyebab kejadian ini.

Idris “اناللهوانااليهراجعون،عسىاللهينزلعلىالاسرةالمتروكينالصبر”

Sahut Ridwan dengan nada sedih “امين،وعسىاللهيختماعمرهمبالحسنالخاتمة”

[7] “كيفرايكقبلناكل،نصليللغائبوندعولهؤلاءالمتروكينعسىهؤلاءيقبلونماالذيقدّراللهعليهم”

[1]5“innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar”

[1]6“ Aamiin, semoga mereka meninggal dengan keadaan khusnul khotimah”

[1]7“ bagaimana, kalau sebelum kita makan kita sholat ghaib dulu dan mendoakan mereka yang

ditinggalkan semoga bisa menerima semua ini”


aku mengajakak mereka untuk melakukan sholat ghaib, entak kenapa hatiku sangat gelisah menegtahui kecelakaan ini. Mungkin ini hanya perasaanku saja ketika aku bertemu dengannya. Aku memutuskan, sedikit demi sedikit untuk memulai melupakannya. Aku tidak bermaksud menjauh, hanya saja ingin merasakan ke- sendirian dalam menjaga iman. Meskipun, dulu aku sangat takut kehilangannya. Semakin yakin aku melepasnya. Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah dari pada kehilangan Allah karena sesuatu. Aku yakin, dibalik semua ini akan banyak hikmah yang bisa diambil.

***

Empat tahun silam

Alhamdulillah aku menjadi, mahasiswa terbaik tahun ini . Haru, senang, campur aduk kini yang sedang aku rasakan. Aku tak menyangka, aku mengalami hal ini tanpa dugaan. Aku kira semua ini hanyalah mimpi, tapi nyatanya ini sungguhan terjadi padaku. Walaupun orang tuaku tak bisa hadir menyaksikan ini, cukup membuat bangga orang tua yang selama ini menjadi sebuah tujuanku. Terimakasih ayah ibu, tanpa doa dan ridho darimu, aku tak kan pernah mendapatkan ridho dari-Nya juga. Karena ridho Allah tergantung ridho orang tua. Meskipun berat rasanya, melangkah kaki ini untuk kembali ke negara sendiri. Tapi, ada sebuah kewajiban yang akan kupenuhi ditahun ini. Semoga saja kewajibanku kali ini akan mengakhiri masa kesendirianku. Bahwa aku akan membuktikan janjiku, meskipun janjiku ini tak pernah kuucapkan kepadanya.

Mengenai jawabanmu esok, akan kuterima dengan senang dan lapang hati. Meskipun itu kamu menolakku, tapi semoga kamu mengucapkan sesuatu yang tak pernah terduga seperti, kalimat yang kamu ucapkan ketika pertama kali kita bertemu. Dan semoga lelaki yang bersamamu dulu hanyalah saudaramu. Setidaknya aku akan melunasi janjiku itu, untuk melangkahkan kaki ini bertemu kedua orang tua dan mengkhitbahmu. Jika memang benar dirimu untukku, kita akan dipertemukan dengan cara yang begitu indah. Yaitu ketika dua orang yang saling menyempurnakan dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Tidak ada yang lebih baik, dari pasangan yang sempurna, ketika ada dua insan yang saling berusaha untuk memperbaiki diri agar dapat rido-Nya. Hanya pernikahan yang menyempurnakan semuanya. Semoga aku sudah pantas untukmu.

***

Kampung Halamanku

Seminggu setelah aku berada dikampung halamanku, tak langsung aku mencari kabar tentang dirinya. Aku hanya meminta restu orang tuaku untuk mendampingiku pergi kerumahnya.

“ Ibu, Hisyam ada yang ingin disampaikan perihal masa depan Hisyam”.

“ Katakan saja nak, ibu akan memberikan solusi jika kamu membutuhkannya” jawab ibu.

“ Aku ingin menikahi anak seorang kiyai bu. Apakah aku sudah pantas untuk melamarnya?”

“ Jika, kamu sudah merasa yakin dengan keputusanmu dan melibatkan Allah. Semua pasti akan dipermudah nak, yang tidak mungkin akan menjadi mungkin” ibu meyakinkanku. Dari situ aku mendapat restu dari bapak dan ibu, dan meskipun mereka masih belum mengetahui siapakah wanita yang akan ku nikah.

Keesokan harinya aku mempersiapkan diri untuk menemui keluarganya, dengan keyakinan dan tekat, aku dan keluargaku mengunjungi rumahnya. Sesampai dirumahnya, aku sempat membau aromanya dan sekilas teringat kejadian empat tahun silam. Aku mengetuk pintu “Asslamualaikum.”, seketika santri disitu mempersilahkan masuk kedalam rumah itu.” Waalaikumsalam.monggo masuk, ada yang bisa saya bantu” jawabnya dengan bahasa halus lelaki itu menyambutku.“bisa bertemu dengan Abuya?”, ”Abuya masih sholat dhuha, direntosi sekedap enggeh” bahasa khas seorang santri, bahasa ibu ini mengingatkanku dulu ketika aku pernah menjadi seperti dia.

Setelah beberapa menit kemudian, Abuya datang menemui kita. Aku langsung mencium kedua telapak tangannya ”Assalamualaikum”, “waalaikumsalam iki Hasyim ya, yang dapet beasiswa di Yaman?” tanya Abuya. Dengan bangga aku menjawab “enggehAbuya, saya Hasyim yang meneruskan sekolah di Yaman”. kami berbincang dan yang membuatku terkejut dan terpukul. ketka Abuya menceritakan tentang putri kesayangannya yang telah pergi menjemput ajalnya terlebih dulu. Iya dia adalah fatimah, yang meninggal karena kecelakaan pesawat saat dia balik dari madinah bersama saudara-saudaranya, aku tidak bisa membohongi perasaan ini. Air mataku terus berjatuhan dihadapan semua orang yang berada didepanku.

Mereka semua bertanya-tanya terutama ibuku. Kemarin belum sempat aku memberi tau, jika wanita yang ini ku nikahi adalah Fatimah. “apa yang membuatmu menagis sampai seperti ini nak?” ibu seketika bertanya padaku. “wanita yang ingin aku nikahi sudah menjemput ajalnya terlebih dahulu ibu” dengan berat aku memberi tahu itu. Seketika semua terdiam dan air mata merekapun, seketika berjatuhan dengan sendirinya tanpa ada yang menyuruh.“ nak, Hisyam apa kedatangan keluarga nak Hisyam kesini untuk meminang, putriku fatimah?” sahut Abuya dengan suara lembut, tidak bermaksud menyakiti hatiku, hanya ingin memastikannya. “mohon maaf sebesar-besarnya, kami sungguh tidak mengetahui. Kalau putri panjenengan sudah meninggal” jawab ibu, aku sudah tidak bisa berkata. Kenapa aku tidak mencari informasinya dulu, kenapa aku tidak mengetaui ini semua. Sungguh aku menyesali semua perbuatanku ini.

Sebelum kami pulang, kami menyempatkan diri dan mendapat izin untuk melihat rumah terakhirnya. Katika, aku melihat rumah terakhirnya sungguh kaki ini tidak bisa bergerak, seketika aku menjadi orang lumpuh yang tak bisa menggerakkan kakiku. Bapak dan Abuya seketika memapahku untuk mendekat ke makamnya. Masih tak kusangka-sangka, kamu sekarang sudah beristirahat dengan tenang disana. Hanya kata maaf dan terimakasih karena telah menungguku tanpa kabar. Tenang dialam sana, tunggu aku, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk tetap menjaga cinta suci kita sampai kapanpun, dan aku sudah mengikhlaskanmu meskipun butuh waktu yang cukup lama. Karena, aku merasa bersalah padanmu.

Dan akhirnya aku terus berkelana dalam kesendirianku untuk terus memperbaiki diri dan menunggu takdir, entah itu yang datang terlebih dahulu jodoh atau maut. Insyaallah aku sudah mempersiapkan diri, aku jangan hanya berbicara tentang takdir jodoh saja. Masih banyak orang melupakan kematian bahkan mereka tak mem- persiapkan kematian mereka. Padahal di dalam Al-quran sudah di jelaskan setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Entah jodoh atau kematian yang menghampiri kita terlebih dahulu yang terpenting teruslah mem- perbaiki diri sebelum kematian yang melamar kita terlebih dahulu.

-TAMAT-

Comments


© 2019 By Coastrac 18. Proudly created with Wix.com

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
© Copyright
bottom of page